Dasar-dasar Pembentukan Stratifikasi Sosial

ASTALOG.COM – Stratifikasi sosial sering pula disebut sebagai pelapisan sosial. Istilah ini memiliki pengertian sebagai suatu pengelompokan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat secara vertikal/bertingkat.

BEBERAPA DEFINISI TENTANG STRATIFIKASI SOSIAL MENURUT PARA AHLI

1) Pitirim A. Sorokin 

Dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification“, ia mengatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan bentuk perbedaan penduduk/masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hierarki), dimana sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur. Semua itu tercantum dalam buku kar

2) Max Webber

Stratifikasi sosial merupakan suatu penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.

DASAR-DASAR PEMBENTUKAN STRATIFIKASI SOSIAL

Ada beberapa ukuran yang dijadikan sebagai dasar dari pembentukan stratifikasi sosial, yaitu:

1) Ukuran Kekayaan

Kekayaan yang bersifat materi atau kebendaan dapat dijadikan sebagai ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, dimana siapapun yang memiliki kekayaan paling banyak, maka ia akan termasuk ke dalam lapisan teratas dalam sistem stratifikasi sosial. Hal ini juga berlaku sebaliknya, dimana mereka yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah dalam stratifikasi sosial.

Ukuran kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja, serta kemampuannya dalam berbagi terhadap sesama yang membutuhkan (berdonasi).

2) Ukuran Kekuasaan dan Wewenang

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan biasanya tidak terlepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya. Bisa pula terjadi sebaliknya, dimana karena seseorang memiliki kekuasaan dan wewenang, maka dari situlah ia bisa mendapatkan kekayaan.

3) Ukuran Kehormatan

Ukuran kehormatan berbeda dan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan serta kekuasaan. Biasanya, orang-orang yang disegani atau dihormati, akan menempati lapisan atas dari sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, dimana biasanya mereka akan sangat menghormati orang-orang yang banyak berjasa kepada masyarakat, atau kepada para orang tua ataupun orang-orang yang berperilaku dan berbudi luhur.

4) Ukuran Ilmu Pengetahuan

Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan yang tinggi dalam sistem stratifikasi sosial masyarakat yang bersangkutan.

Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti professor. Meskipun begitu, sering pula timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu, dan seterusnya.