Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Pattimura

Loading...

ASTALOG.COM – Kedatangan bangsa Belanda di Kepulauan Maluku dan pendirian persekutuan dagang VOC hingga pemberlakuan sistem monopoli perdagangan banyak menimbulkan penderitaan, kegelisahan, dan permusuhan untuk rakyat Maluku. Penindasan VOC terhadap rakyat Maluku terasa semakin berat, apalagi ketika sistem monopoli diawasi dengan pelayaran Hongi dan diberlakukannya hak esktirpasi*.

Pada bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin oleh Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Benteng kompeni Duurstede di Saparua diserbu dan direbut rakyat Maluku hingga banyak pasukan dan penghuni di benteng terbunuh.

Latar Belakang

Latar belakang perlawanan rakyat Maluku yang dipimpin Kapitan Pattimura adalah sebagai berikut, dilansir dari laman Sejarah-negara.com:

1. Pemerintah kolonial memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib.

BACA JUGA:  Tuliskan Isi Proklamasi

2. Pemerintah kolonial menurunkan tarif hasil bumi yang wajib diserahkan, sedangkan pembayarannya tersendat-sendat.

3. Pemerintah kolonial memberlakukan uang kertas, sedangkan rakyat Maluku telah terbiasa dengan uang logam.

4. Pemerintah kolonial menggerakkan pemuda Maluku untuk menjadi prajurit Belanda.

Perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda diawali dengan tindakan Kapitan Pattimura yang mengajukan daftar keluhan kepada Residen Van den Bergh. Dalam daftar keluhan tersebut berisi tindakan semena-mena pemerintah kolonial yang menyengsarakan rakyat.

Keluhan tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah Belanda, sehingga rakyat Maluku di bawah pimpinan Kapitan Pattimura menyerbu dan merebut Benteng Duurstede di Saparua. Dalam pertempuran tersebut, Residen Van den Bergh terbunuh. Perlawanan kemudian meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

BACA JUGA:  Negara yang Warna Benderanya Sama dengan Indonesia

Belanda semakin terdesak. Namun kemudian Belanda mengerahkan segenap kekuatannya untuk melawan rakyat Maluku. Akhirnya pada awal Agustus 1817 Benteng Duurstede dapat direbut kembali oleh Belanda. Namun demikian, perlawanan rakyat Maluku tetap berlanjut dengan cara bergerilya.

Perlawanan rakyat Maluku berakhir dengan menyerahnya Kapitan Pattimura bersama teman-temannya kepada Residen Liman Pietersen. Setelah Pattimura beserta teman-temannya diadili di Ambon, pada tanggal 16 Desember 1817 dihukum mati di depan Benteng Nieuw Victoria. Mereka gugur sebagai pahlawan dalam membela rakyat yang tertindas.

Perlawanan Pattimura Terhadap Kolonial Belanda (VOC)
Perlawanan rakyat Maluku berikutnya meluas hingga ke Ambon dan ke pulau-pulau sekitarnya, yang berlangsung hingga beberapa bulan lamanya dan dikuasai oleh rakyat yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura, Anthony Rybok, Paulus-Paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah, dan Thomas Pattiwael.

BACA JUGA:  Apa yang Dimaksud Dengan Menstruasi?

Pasukan Belanda mengalami kewalahan dalam menghadapi perlawanan rakyat Pattimura hingga pada bulan Juli 1817 dan bulan September 1817, Belanda mendatangkan pasukan Kompeni dari Ambon yang dipimpin oleh Kapten Lisnet.

Pada bulan Oktober 1817, pasukan Belanda mulai menyerang rakyat Maluku secara besar-besaran hingga dapat memadamkan perlawanan rakyat dan menangkap Kapitan Pattimura (tahun 1817) yang kemudian dihukum mati pada tanggal 16 Desember 1817.

Sebelum menghadapi eksekusi hukuman gantung, Pattimura masih sempat memberi semangat perlawanan terhadap rakyat Maluku, yaitu “Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul Pattimura-Pattimura muda.”