Faktor Utama Penentu Laju Fotosintesis

Loading...

ASTALOG.COM – Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan seperti karbohidrat yang dilakukan oleh tumbuhan, terutama tumbuhan yang mengandung zat hijau daun atau klorofil. Selain tumbuhan berkalori tinggi, makhluk hidup non klorofil lain yang berfotosintesis adalah alga dan beberapa jenis bakteri. Organisme ini berfotosintesis dengan menggunakan zat hara, karbon dioksida, dan air serta bantuan energi cahaya matahari.

Organisme yang berfotosintesis disebut fotoautotrof karena mereka dapat membuat makanannya sendiri. Pada tanaman, alga, dan cyanobacteria, fotosintesis dilakukan dengan memanfaatkan karbondioksida dan air serta menghasilkan produk buangan oksigen.

Fotosintesis sangat penting bagi semua kehidupan aerobik di Bumi karena selain untuk menjaga tingkat normal oksigen di atmosfer, fotosintesis juga merupakan sumber energi bagi hampir semua kehidupan di Bumi, baik secara langsung (melalui produksi primer) maupun tidak langsung (sebagai sumber utama energi dalam makanannya).

BACA JUGA:  Mengenal Archaebacteria

FAKTOR UTAMA PENENTU LAJU FOTOSINTESIS

Proses fotosintesis dipengaruhi beberapa faktor, yaitu faktor yang dapat mempengaruhi secara langsung seperti kondisi lingkungan maupun faktor yang tidak mempengaruhi secara langsung seperti terganggunya beberapa fungsi organ yang penting bagi proses fotosintesis. Proses fotosintesis sebenarnya peka terhadap beberapa kondisi lingkungan meliputi kehadiran cahaya matahari, suhu lingkungan, serta konsentrasi karbondioksida (CO2). Faktor lingkungan tersebut dikenal juga sebagai faktor pembatas dan berpengaruh secara langsung bagi laju fotosintesis. Berikut ini faktor utama penentu laju fotosintesis:

1) Intensitas Cahaya (Pancaran), Panjang Gelombang, dan Suhu

Pada awal abad ke-120, Frederick Frost Blackman dan Albert Einstein meneliti pengaruh intensitas cahaya (pemancaran) dan suhu terhadap tingkat asimilasi karbon. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan:

  • Pada suhu tetap, tingkat asimilasi karbon beragam dengan pemancaran, pada awalnya meningkat seiring peningkatan pemancaran. Akan tetapi, pada tingkat pemancaran yang lebih tinggi, hubungan ini tidak berlangsung lama dan tingkat asimilasi karbon menjadi konstan.
  • Pada pemancaran tetap, tingkat asimilasi karbon meningkat seiring suhu meningkat pada cakupan terbatas. Pengaruh ini dapat dilihat hanya pada tingkat pemancaran yang tinggi. Pada pemancaran yang rendah, peningkatan suhu hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap tingkat asimilasi karbon.
BACA JUGA:  Ciri-ciri Virus dan Jenisnya

2) Tingkat Karbondioksi dan Fotorespirasi

Ketika konsentrasi karbondioksi meningkat, tingkat gula yang dihasilkan oleh reaksi yang bergantung pada cahaya meningkat hingga dibatasi oleh faktor-faktor lainnya. RuBisCO, enzim yang meningkatkan karbondioksida pada reaksi gelap, memiliki afinitas pengikatan untuk karbon dan oksigen. Ketika konsentrasi karbondioksida tinggi, RuBisCO akan memfiksasi karbondioksida. Akan tetapi, jika konsentrasi karbondioksida rendah, RuBisCO akan mengikat oksigen dan bukan karbondioksida. Proses ini disebut fotorespirasi, yaitu menggunakan energi tapi tidak menghasilkan gula.

FAKTOR PENDUKUNG YANG MENENTUKAN LAJU FOTOSINTESIS

Selain ke-2 faktor utama di atas, masih ada lagi faktor pendukung yang menentukan laju fotosintesis, yaitu:

  1. Suhu : Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim.
  2. Kadar Air : Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
  3. Kadar Fotosintat (Hasil Fotosintesis) : Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
  4. Tahap Pertumbuhan : Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.
BACA JUGA:  Mengapa Piagam Jakarta Diubah?