Ibukota Lebanon

ASTALOG.COM – Lebanon adalah sebuah negara di kawasan timur tengah dengan bentuk pemerintahan republik, dan negara ini dkenal sebagai Republik Lebanon atau dalam bahasa Arabnya adalah Al-Jumhuriyah Al-Lubnaniyah. Lebanon merupakan negara yang terletak di sepanjang Laut Tengah, dan berbatasan dengan Suriah di utara dan timur, dan Israel di selatan.

Sebelum terjadi ‘Perang Saudara Lebanon‘ yang berlangsung sejak tahun 1975 hingga 1990, negara ini sempat menikmati ketenangan dan kemakmuran yang relatif, didorong oleh sektor pariwisata, pertanian, dan perbankan dalam perekonomiannya. Bahkan pada saat itu, Lebanon dianggap sebagai ibukota perbankan di dunia Arab dan umumnya dianggap sebagai “Swiss di Timur Tengah” karena kekuatan finansialnya. Lebanon juga menarik banyak sekali minat wisatawan, hingga ibukotanya dianggap sebagai “Paris di Timur Tengah”. Lalu apakah ibukota Lebanon?

IBUKOTA LEBANON

Dari beberapa kawasan yang ada di Lebanon, Beirut dijadikan sebagai ibukota negara Lebanon dan juga menjadi kota terbesar di negara tersebut. Kota metropolitan ini didiami oleh sekitar 2,1 juta jiwa. Sebelum Perang Saudara Lebanon pecah, kota ini mendapat julukan “Paris di Timur Tengah” karena suasananya yang  kosmopolitan.

Setelah perang saudara berakhir, kota Beirut kembali menjalani berbagai upaya rekonstruksi. Di tahun 2009, kota ini menjadi lokasi untuk ajang Jeux de la Francophonie. Selain itu, kota ini dianggap sebagai kota yang potensial untuk pelaksanaan olimpiade 2024 mendatang. Berbagai organisasi internasional juga memiliki kantor cabang di Beirut seperti ILO dan UNESCO yang memiliki kantor untuk negara-negara di kawasan Arab.

SEJARAH SINGKAT IBUKOTA LEBANON, BEIRUT

Beirut berlokasi di antara Bukit Al-Asyrafiyah dan Al-Musaytibah, yang merupakan sebuah lembah terlindung, di mana orang Romawi membangun saluran air bawah tanah untuk memasok penduduk kota yang terus tumbuh. Pada sekitar 300o tahun sebelum Masehi, Beirut telah menjadi kota pelabuhan utama bagi bangsa Funisia di Lebanon. Kemudian pada tahun 14 sebelum Masehi, bangsa Romawi mulai memasuki Beirut dan akhirnya kota ini mendapat perhatian besar.

Di sisi lain, Beirut mendapat reputasi ketiga terbaik untuk sekolah hukumnya sejak abad ke-6. Namun kota ini sempat mengalami kehancuran akibat serangkaian peristiwa gempa bumi yang menyerang cepat, dan berpuncak pada munculnya gelombang pasang pada tahun 551 Masehi. Di tahun 635 Masehi, orang-orang Muslim dari kawasan Arab lainnya mulai memasuki Beirut dan hanya menemukan reruntuhan. Mereka pun lalu mulai membangun kembali  kota ini perlahan-lahan, dan mengembangkan kembali Beirut sebagai kota pelabuhan terutama untuk keperluan dagang bagi para saudagar-saudagar, terutama bagi para saudagar rempah-rempah Venesia.

Lalu adanya revolusi Industri dan pendudukan Mesir atas Suriah pada tahun 1832, kembali menggairahkan peran penting Beirut dalam perdagangan yang sempat meredup selama pemerintahan Usmaniyah. Pada akhir Perang Dunia I, yang menandai jatuhnya Kesultanan Usmaniyah, Perancis menciptakan negara Lebanon Besar, yang menjadi Republik Libanon pada tahun 1926.

Beirut sempat berperan sebagai pusat ekonomi sosial, intelektual dan budaya Timur Tengah di sekitar tahun 1952 hingga 1965. Namun hal ini tidak berlangsng lama ketika tiba-tiba keberhasilannya hancur akibat perang terbuka antara kelompok Islam dan Kristen. Perang 6 Hari pada tahun 1967 telah menyeret organisasi-organisasi perlawanan Palestina di Beirut yang mendapat reputasi sebagai Markas Besar gerakan itu.

Kemudian Beirut menjadi wilayah perang dahsyat pada tahun 1980-an. Berbagai pasukan milisi lokal, ditambah tentara Israel dan milisi PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) berperang di Lebanon dan menghancurkan sebagian besar kota Beirut di bagian barat dan melumpuhkan kehidupan kota yang sempat berjaya itu.