Wilayah Kerajaan Banjar

ASTALOG.COM – Kerajaan Banjar adalah sebuah kesultanan, wilayahnya saat ini termasuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Wilayah Banjar yang lebih luas terbentang dari Tanjung Sambar sampai Tanjung Aru.

Menurut Wikipedia, kesultanan ini semula beribukota di Banjarmasin kemudian dipindahkan ke beberapa tempat dan terkahir di Martapura. Ketika beribukota di Martapura disebut juga Kerajaan Kayu Tangi. Wilayah terluas kerajaan ini pada masa kejayaannya disebut empire/kekaisaran Banjar membawahi beberapa negeri yang berbentuk kesultanan, kerajaan, kerajamudaan, kepengeranan, keadipatian dan daerah-daerah kecil yang dipimpin kepala-kepala suku Dayak.

Ketika ibukotanya masih di Banjarmasin, maka kesultanan ini disebut Kesultanan Banjarmasin. Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Negara Daha yaitu kerajaan Hindu yang beribukota di kota Negara, sekarang merupakan ibukota kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.

Wilayah Kekuasaan

Menurut Medwar saleh (1978, dilansir dari Melayu.com), perjanjian antara Belanda dan Kerajaan Banjar yang kala itu diperintah oleh Sultan Adam al wasik billah membagi wilayah banjar menjadi 4 bagian yaitu:
1. Terletak di sebelah kanan Sungai Martapura –Kalayan, sebelah pinggir kanan Sungai Kuwin dan Barito dimana disini terletak bekas istana Banjar yang telah hancur karena serangan Belanda.
2. Di Sungai Martapura meliputi Sungan Riam Kanan dan Riam Kiwa.
3. Wilayah banua ampat meliputi Banua Halat, Banua Gadung, Parigi, Lawahan-Tabaruntung dan di Lawahan mengalir Sungai Muning
4. Dan di wilayah banua lima meliputi Nagara, Amountai, Alabio, Kaula dan Sungai Banar

Kerajaan Islam di Kalimantan

Dilansir dari laman Perpustakaancyber.blogspot.co.id, Kerajaan Banjar merupakan kerajaan Islam yang ada di Kalimantan Selatan yang didirikan oleh Pangeran Samudera. Kerajaan ini berkembang menjadi pusat perkembangan yang banyak dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai daerah. Dalam penyebaran Agama Islam di Kalimantan Selatan Khususnya daerah Banjar (Banjarmasin) dilakukan oleh para pemeluk agama Islam dari Demak. Penyebaran Agama Islam ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Kalimantan.

Pangeran Samudera, Raja Banjar, yang sebelumnya kerajaan Hindu merasa tertarik terhadap ajaran Islam, sehingga akhirnya ia memeluk Islam dan namanya diganti menjadi Sultan Suryamullah atau Sultan Suryansyah. Dengan masuk Islamnya Suryamullah, maka bentuk Banjar berubah menjadi kerajaan bercorak Islam.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang raja, Sultan Suryamullah dibantu oleh beberapa bawahannya yang mempunyai tugas masing-masing, yaitu:

(a) Patih Pangiwa dan Manteri Pangan, bertugas mengurus bidang politik dan pertahanan negara.
(b) Patih, bertugas sebagai kepala pelaksana pemerintahan.
(c) Manteri Bhuni dan Manteri Sikap, bertugas mengurus keuangan dan istana dan perpajakan.
(d) Penghulu, bertugas mengurus bidang agama.
(e) Patih Balit, Patih Kuwin dan Patih Muhur, bertugas mengurus bidang pengadilan dan hakim istana.

Selain adanya para pembantu tersebut, di kerajaan Banjar pun ada suatu lembaga yang disebut dengan Dewan Mahkota yang tugasnya antara lain:

(a) Mengawasi atau membatasi kekuasaan raja.
(b) Sebagai pembantu dan penasehat raja dalam memecahkan persoalan-porsoalan dalam pemerintahan.

Yang menjadi anggota Dewan Mahkota ini terdiri dari para Bangsawan, Patih, Mantri, Kyai, serta pejabat-pejabat tinggi lainnya dalam pemerintahan.

Dalam perkembangan sejarahnya kerajaan Banjar merupakan sekutu kerajaan Demak. Ketika kerajaan Demak berperang dengan Portugis, kerajaan Banjar ikut membantu. Begitu pula Demak pun ikut membantu kerajaan Banjar dalam penyebaran Agama Islam di Kalimantan Selatan. Selain itu Demak pun pernah membantu Sultan Suryamullah ketika kerajaan Banjar melakukan penyerbuan ke kerajaan Hindu Negaradipa. Dikalahkannya Negaradipa ini membawa akibat positif terhadap perkembangan Islam di Kalimantan Selatan.

Sultan Suryanullah digantikan puteranya, Sultan Rahmatullah. Rahmatullah lalu digantikan oleh Sultan Hidayatullah. Pada masa Hidayatullah ini, hubungan dengan Demak terputus. Ia memindahkan ibukota ke Muara Tambangan dari Martapura. Berikut adalah raja-raja Banjar yang memerintah setelah Sultan Hidayatullah:

(a) Sultan Tahlilullah (1700-1745);
(b) Sultan Tamjidillah (1745-1778);
(c) Sultan Tahmidillah (1778-1808);
(d) Sultan Sulaiman (1808-1825);
(e) Sultan Adam al-Wasi Billah (1825-1857);
(f) Pangeran Tamjidillah (1857-1859).

Pada tahun 1859 hingga 1905, berlangsung Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari (1809-1862). Pangeran Antasari yang masih kerabat istana, tak setuju terhadap kebijakan Pangeran Tamjidillah yang pro Belanda. Pertempuran besar melawan Belanda berhenti pada tahun 1863, namun pertempuran-pertempuran dalam skala kecil masih berlangsung hingga tahun 1905 yang dipimpin oleh putera Antasari, Muhammad Seman. Pada tahun 1860, Belanda menghapuskan Kerajaan Banjar.

PELAJARAN YANG BERKAITAN