Tradisi Megalitik

ASTALOG.COM – Tradisi megalitik (juga dikenal sebagai kebudayaan megalitikum) adalah bentuk-bentuk praktik kebudayaan yang dicirikan oleh pelibatan monumen atau struktur yang tersusun dari batu-batu besar (megalit) sebagai penciri utamanya.

Lebih lanjut, menurut Wikipedia, tradisi ini dikenal dalam perkembangan peradaban manusia di berbagai tempat: Timur Tengah, Eropa, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara, sampai kawasan Polinesia. Dalam kronologi sejarah Eropa dan Timur Tengah, tradisi ini berkembang di akhir Zaman Batu Pertengahan (Mesolitikum), Zaman Batu Baru (Neolitikum), atau Zaman Perundagian (pengecoran logam), tergantung dari masyarakat yang mendukungnya.

Menurut Jean-Pierre Mohen, tiga kriteria menjadi penciri tradisi megalitik di Eropa: kubur gunduk (tumulus), upacara penguburan, dan “batu besar”. Di Indonesia, tradisi megalitik tampaknya berkembang sejak Zaman Batu Baru yang bertumpang tindih kalanya dengan Zaman Perundagian. Pencirinya cukup berbeda dari Eropa, meskipun memiliki aspek-aspek yang paralel.

Meskipun biasa dikaitkan dengan masa prasejarah, tradisi megalitik tidak mengacu pada suatu era peradaban tertentu, namun lebih merupakan bentuk ekspresi yang berkembang karena adanya kepercayaan akan kekuatan magis atau non-fisik dan didukung oleh ketersediaan sumber daya di sekitarnya. Sempat meluas pada masa pra-Hindu-Buddha, Indonesia sampai abad ke-21 masih memiliki beberapa masyarakat yang masih mendukung tradisi ini, baik dalam bentuk mendekati aslinya, seperti suku bangsa Nias, Batak (sebagian), Sumba, dan Toraja, maupun dalam bentuk akulturasi dengan lapisan budaya setelahnya, seperti suku bangsa Bali, Sunda (masih dipraktikkan oleh masyarakat Badui), dan Jawa.

Zaman Megalitik

Dilansir dari laman Amerthaganesha.blogspot.co.id, zaman megalitik dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Megalitik Tua
Megalitik tua berlangsung pada masa Neolitik. Megalitik tua ini muncul kurang lebih tahun 2500-1500 sebelum masehi. Alat yang dihasilkan adalah beliung persegi dan mulai membuat benda-benda atau bangunan yang disusun dari batu besar seperti dolmen, undak batu, limas, tembok batudan jalan batu.

2. Megalitik Muda
Megalitik muda berlangsung pada masa Perundagian. Megalitik muda ini bertanggalkan tahun ribuan pertama setelah masehi. Alat yang dihasilkan adalah kubur batu, dolmen, sarkofagus, dan bajana batu.

Kebudayaan megalitik ditandai dengan berbagai hal, diantaranya:

· Adanya konsepsi kepercayaan tentang kehidupan sesudah mati dan pemujaan tehadap roh.
· Banyak dihasilkan benda-benda atau peralatan berbau megalitik sebagai bekal kubur, diantaranya dolmen, sarkofagus, waruga dan lain-lain.
· Adanya konsep tentang kekuatan sakti akan roh atau arwah nenek moyang.
· Sudah mengenal upacara penguburan yang sakral yang bersifat kompleks dan adanya hubungan antara manusia di dunia yang masih hidup dan arwah leluhur mereka yang mempercayai bahwa ketika nanti bisa turun dan menolong serta memberikan keberkahan dalam kehidupan.
· Adanya sikap menghoramati kepada tokoh-tokoh yang dipuja dan roh-roh agar mereka bisa meminta bantuan atau pertolongan jikalau susah atau sulit dalam menjalani kehidupan.
· Munculnya sikap tunduk dan rasa hormat terhadap roh nenk moyang dengan mengaplikasikannya dalam pendirian objek-objek atau sarana dalam melakukan pemujaan.
· Munculnya suatu sikap percaya bahwa kehidupan roh nenek moyang disana juga terdapat sebuah kehidupan yang juga memerlukan berbagai peralatan-peralatan bagi kehidupan mereka disana.

Simbol Tradisi Megalitik

Selain penggunaan batu-batu besar sebagai simbol kekuatan magis atau sebagai altar, alat upacara, serta sarana penguburan, tradisi megalitik juga melibatkan struktur ruang/arsitektur tertentu, benda-benda logam (pisau, pedang, tabuhan, dan sebagainya), gerabah (seperti tempayan), kayu, serta manik-manik. Di Nusantara banyak ditemukan tradisi kubur tempayan yang terkait dengan kultur megalitik. Adanya kebiasaan menyertakan bekal kubur, berupa manik-manik atau senjata, juga berkembang kuat pada tradisi ini. Pada beberapa tempat, tradisi megalitik juga melibatkan bentuk-bentuk seni tatah batu atau ukir batu, sehingga batu merupakan arca yang menunjukkan figur-figur tertentu, seperti di kawasan Pagaralam, Sumatera Selatan.

PELAJARAN YANG BERKAITAN