Bioteknologi Transgenik

ASTALOG.COM – Bioteknologi banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Pembuatan kompos dan biogas merupakan contoh yang sederhana. Menurut fembrisma.wordpress.com, pemanfaatan bioteknologi untuk meningkatkan hasil pertanian pada masa sekarang ini dilakukan secara modern, misalnya pada pemuliaan tanaman dengan menciptakan tanaman transgenik (tanaman yang gennya telah dimodifikasi), kultur jaringan, biopestisida, dan sebagainya.

Secara luas, bioteknologi didefinisikan sebagai serangkaian teknologi yang melibatkan organisme atau komponen sel untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi yang secara langsung atau tidak langsung bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan manusia.

Proses bioteknologi modern telah menghasilkan berbagai jenis produk mencakup berbagai macam enzim, Single Cell Protein (SCP) atau protein sel tunggal, produk-produk farmasi (antibiotik, vaksin, dan antibodi monoklonal), produk-produk makanan dan minuman, maupun organisme transgenik, seperti tanaman atau hewan.

Transgenik

Transgenik adalah suatu produk bioteknilogi melalui teknik rekayasa genetika. Dalam hal ini, teknik rekayasa genetika adalah suatu proses pengombinasian rantai ADN (Asam Deoksiribonukleat) yang juga dikenal dengan DNA (Deoxyribonucleic Acid) dari suatu organisme dengan rantai ADN (gen) organisme lainnya. ADN rekombinasi tersebut akan dimasukkan ke dalam sel inang.

Pemindahan materi genetika (gen) dari suatu organisme untuk dikombinasikan ke dalam materi genetika organisme lainnya bertujuan agar gen yang dipindahkan akan diekspresikan oleh organisme yang menerima gen tersebut. Dengan kata lain, pada akhir proses akan dihasilkan suatu individu yang secara genetika telah berubah gennya karena membawa gen asing. Organisme inilah yang disebut organisme transgenik atau sering disebut pula genetically modified organisms (GMO).

Tujuan Organisme Transgenik

Tujuan dari pembuatan organisme transgenik, dilansir dari Galeripustaka.com, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menghasilkan produk farmasitikal, seperti insulin, interleukin, dan interferon.
2. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit, seperti tanaman kapas, jagung, dan kentang yang tahan hama dan serangga.
3. Membentuk tanaman yang tahan terhadap kondisi abiotik yang tidak menguntungkan, seperti tanaman yang tahan ditanam di lahan kering dan tanaman yang tahan ditanam di lahan basah dengan kadar garam tinggi.
4. Meningkatkan kualitas pasca panen dan penampakan agronomi, seperti tomat dapat ranum lebih tahan lama.
5. Peningkatan kadar nutrisi, contohnya golden rice yang diharapkan memiliki kandungan vitamin A yang tinggi.

Kontroversi Produk Transgenik

Proses bioteknologi juga diaplikasikan dalam mengatasi penyakit yang disebabkan oleh cacat genetika, misalnya terapi gen maupun diaplikasikan dalam mengatasi pencemaran lingkungan, misalnya bioremediasi.

Namun pada beberapa kasus, produk transgenik menimbulkan kontroversi karena sebagian ahli mengkhawatirkan organisme yang telah mengalami modifikasi genetik secara buatan tersebut akan menyebabkan hal-hal berikut:

1. Menghasilkan pengaruh genetika yang tidak diharapkan.
2. Memiliki kadar senyawa toksik yang lebih nyata dibanding organisme aslinya.
3. Memiliki senyawa-senyawa baru yang benar-benar berbeda dalam komposisinya dibandingkan yang telah ada sebelumnya.
4. Menghasilkan protein yang menimbulkan reaksi alergi.
5. Mengandung gen penanda resisten antibiotik sehingga dikhawatirkan konsumen dapat menjadi resisten terhadap antibiotik.

Oleh karena itu, produk-produk hasil rekayasa genetika harus melewati serangkaian uji yang ketat untuk dapat dilepas ke pasaran. Produk-produk tersebut terus dipantau untuk mendapatkan data dari dampak yang ditimbulkan, terutama untuk produk-produk tanaman maupun hewan transgenik.

PELAJARAN YANG BERKAITAN