Morfologi dan Budidaya Buah Naga

ASTALOG.COM – Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri, bunga, dan buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang dalam tanah pada batang atas sebagai akar gantung. Akar tumbuh di sepanjang batang pada bagian punggung sirip di sudut batang.

Pada bagian duri, akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijaya Kusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat.

Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam, dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga.

Batangnya berbentuk segitiga, durinya sangat pendek dan tidak mencolok, sehingga sering dianggap “kaktus tak berduri“.

Bunganya mekar pada awal senja, dimana jika kuncup bunganya sudah berukuran sekitar 30 cm. Mahkota bunga bagian luar yang berwarna krem, mekar sekitar pukul sembilan malam, lalu disusul mahkota bagian dalam yang putih bersih, meliputi sejumlah benang sari yang berwarna kuning.

Bunga seperti corong itu akhirnya terbuka penuh pada tengah malam, karena itu buah naga dikenal pula sebagai night blooming cereus. Saat mekar penuh, buah naga menyebar bau yang harum. Aroma ini untuk memikat kelelawar agar menyerbuki bunga buah naga.

BUDIDAYA BUAH NAGA

Pada umumnya, buah naga dibudidaya dengan cara stek atau penyemaian biji. Tanaman akan tumbuh subur jika media tanam porous (tidak becek), kaya akan unsur hara, berpasir, cukup sinar matahari, dan bersuhu antara 38-40 °C. Jika perawatan cukup baik, tanaman akan mulai berbuah pada umur 11-17 bulan.

Buah naga sangat adaptif dibudidaya di berbagai daerah dengan ketinggian di 0–1200 m dpl. Hal terpenting adalah mendapatkan sinar matahari yang cukup merupakan syarat pertumbuhan buah naga merah.

Buah naga dapat berkembang dengan kondisi tanah dan ketinggian lokasi apapun, namun tumbuhan ini cukup rakus akan unsur hara, sehingga apabila tanah mengandung pupuk yang bagus, maka pertumbuhannya akan baik. Dalam waktu 1 tahun, pohon buah naga dapat mencapai ketinggian 3 meter lebih.

Berdasarkan beberapa sumber, buah naga belum banyak dibudidayakan di Indonesia. Sementara ini, daerah Mojokerto, Jember, Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Ponorogo, Wonogiri, Kalibawang, Kulon Progo, Batam, dan Bandung merupakan daerah yang telah membudidayakan tanaman ini, dan tidak menutup kemungkinan jika daerah-daerah lainnya di Indonesia akan menyusul untuk membudidayakan buah naga.

HAMA DAN PENYAKIT PADA BUAH NAGA

Hama yang ditemukan dalam buah naga antara lain:

  • Serangga bertepung (Hemiptera: Pseudococcidae) dengan spesies Pseudococcus jackbeardsleyi, Ferrisia virgata, dan Planococcus sp.
  • Kutu daun seperti (Hemiptera: Aphididae) dengan spesies Aphis gossypii, Branchycaudus helichrysi, dan Toxoptera odinae.
  • Semut (Hymenoptera: Formicidae) dengan spesies Oecophylla sp, Camponotus sp, Euprenolepis sp, dan Polycharis sp.
  • Belalang (Orthoptera: Acrididae) dengan spesies Valanga sp, Oxya sp, dan Atractomorpha sp.
  • Tungau (Acarina: Tetranycidae)
  • Bekicot (Acathina fulica)
  • Burung

Sementara itu, ayam tidak dianggap sebagai hama, namun ayam juga dapat menyebabkan kerusakan parah pada buah jika ayam diizinkan untuk hadir di kebun.

Lalu jenis penyakit yang ditemukan pada buah naga antara lain:

  • Ganggang merah karat (Cephaleuros sp.)
  • Anggur tempat oranye (Fusarium sp.)
  • Anggur putih (Botryosphaeria sp., Phomopsis sp.)
  • Batang hawar (Helminthosporium sp.)
  • Antraknosa (Colletotrichum sp.)
  • Dothiorella spot
  • Kecoklatan busuk batang
  • Batang menguning
  • Busuk buah (Colletotrichum sp. dan Helminthosporium sp.)
  • Buah jeruk spot (Alternaria sp.).

Selain itu, sebuah penyakit bercak hitam pada batang belum dapat diidentifikasi, serta hama dan penyakit belum dapat dikendalikan dalam sistem tertentu.

PELAJARAN YANG BERKAITAN