Bagaimana Penentuan Tahun 1 Kalender Islam?

Loading...

ASTALOG.COM – Kalender Islam disebut juga dengan Kalender Islam, dimana kalender ini digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Islam juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.

BAGAIMANA PENENTUAN TAHUN 1 KALENDER ISLAM?

Sebagaimana tertulis di atas, kalender Islam dinamakan juga dengan kalender Hijriyah. Dinamakan seperti itu karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, yaitu pada tahun 622 M.

Berdasarkan catatan sejarah, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka diusulkan tentang dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan bahwa penentuan 1 tahun kalender Islam adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada pula yang mengusulkan bahwa awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW.

BACA JUGA:  Sejarah Nama Indonesia

Namun pada akhirnya di tahun 638 M (17 Hijriyah), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun di mana hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan dalam periode 9 tahun.

Tanggal 1 Muharram Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi pada bulan September 622 M. Hal ini bisa dilihat dari dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah berupa papirus di Mesir pada tahun 22 H.

SISTEM PENANGGALAN KALENDER ISLAM

Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Islam (Hijriyah) berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

BACA JUGA:  Pemanfaatan Bunyi Pantul

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata siklus sinodik bulan kalender bulan (Qomariyah), yang memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari, bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi, dan Matahari).

BACA JUGA:  Biografi 6 Tokoh Perumus Dasar Negara Indonesia

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi/ijtima’). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

 

 

Loading...