Bagian dari Daerah Trans-Neptunus

Loading...

ASTALOG.COM – Dalam sistem Tata Surya dikenal istilah Trans-Neptunus. Istilah ini mengandung pengertian sebagai daerah yang terletak jauh melampaui Neptunus, serta daerah yang sebagian besar belum dieksplorasi. Menurut dugaan, daerah ini sebagian besar terdiri dari dunia-dunia kecil, dimana yang terbesar memiliki diameter 1/5 bumi dan bermassa jauh lebih kecil dari bulan, dan terutama mengandung batu dan es. Daerah ini juga dikenal sebagai daerah luar Tata Surya, meskipun berbagai orang menggunakan istilah ini untuk daerah yang terletak melebihi sabuk asteroid. Adapun bagian dari daerah Trans-Neptunus adalah sebagai berikut:

1. Sabuk Kuiper

Sabuk Kuiper adalah sebuah cincin raksasa mirip dengan sabuk asteroid, tetapi komposisi utamanya adalah es. Sabuk ini terletak antara 30 dan 50 SA, dan terdiri dari benda kecil Tata Surya. Meski demikian, beberapa objek Sabuk Kuiper yang terbesar, seperti Quaoar, Varuna, dan Orcus, mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil.

BACA JUGA:  Sumber Daya Alam Spiritus

Para ilmuwan memperkirakan terdapat sekitar 100.000 objek Sabuk Kuiper yang berdiameter lebih dari 50 km, tetapi diperkirakan massa total Sabuk Kuiper hanya 1/10  dari massa Bumi. Banyak objek Sabuk Kuiper yang memiliki satelit ganda dan kebanyakan memiliki orbit di luar bidang eliptika.

Secara kasar, Sabuk Kuiper bisa dibagi menjadi sabuk klasik dan resonansi. Resonansi adalah orbit yang terkait pada Neptunus. Contoh: 2 orbit untuk setiap 3 orbit Neptunus atau satu untuk setiap 2. Resonansi yang pertama bermula pada Neptunus sendiri, dimana sabuk klasik terdiri dari objek yang tidak memiliki resonansi dengan Neptunus, dan terletak sekitar 39,4 SA sampai 47,7 SA. Anggota dari sabuk klasik diklasifikasikan sebagai cubewanos, setelah anggota jenis pertamanya ditemukan.

2. Pluto dan Charon

BACA JUGA:  Taksonomi Pada Bunga Mawar

Pluto yang berjarak rata-rata 39 SA, merupakan sebuah planet kerdil, dan menjadi objek terbesar di Sabuk Kuiper. Ketika ditemukan pada tahun 1930, benda ini dianggap sebagai planet yang ke-9, sebelum akhirnya diganti pada tahun 2006 dengan diangkatnya definisi formal tentang planet. Pluto memiliki kemiringan orbit cukup eksentrik, yaitu sekitar 17° dari bidang ekliptika dan berjarak sekitar 29,7 SA dari Matahari pada titik perihelion atau sejarak orbit Neptunus sampai sekitar 49,5 SA pada titik aphelion. Pluto terletak pada sabuk resonan dan memiliki 3:2 resonansi dengan Neptunus, yang berarti Pluto mengitari Matahari sebanyak 2 kali untuk setiap 3 edaran Neptunus. Objek Sabuk Kuiper yang orbitnya memiliki resonansi yang sama disebut Plutino.

Sementara itu, hingga saat ini belum diketahui pasti apakah Charon merupakan satelit Pluto yang terbesar ataukah hanya menjadi sebuah planet kerdil. Namun Pluto dan Charon, keduanya mengedari titik barycenter gravitasi di atas permukaannya, yang membuat Pluto dan Charon menjadi sebuah sistem ganda. 2 satelit yang jauh lebih kecil lagi, yaitu Nix dan Hydra juga mengitari Pluto dan Charon.

3. Haumea dan Makemake

BACA JUGA:  Apa Keuntungan Tinggal di Daerah Beriklim Tropis?

Hingga saat ini, Haumea yang berjarak rata-rata 43,34 SA dan Makemake dengan jarak rata-rata 45,79 SA adalah 2 objek terbesar di dalam Sabuk Kuiper klasik. Haumea adalah sebuah objek berbentuk telur dan memiliki 2 satelit, sedangkan Makemake adalah objek paling cemerlang di Sabuk Kuiper setelah Pluto. Pada awalnya dinamai 2003 EL61 dan 2005 FY9, dan pada tahun 2008 diberi nama dan status sebagai planet kerdil. Orbit keduanya berinklinasi jauh lebih membujur dari Pluto, yaitu sekitar 28° dan 29°. Namun berbeda dengan Pluto, keduanya tidak dipengaruhi oleh Neptunus, sebagai bagian dari kelompok objek Sabuk Kuiper klasik.

Loading...