Kegunaan Seledri

ASTALOG.COM – Seledri telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu sebagai unsur pengobatan dan penyedap masakan. Beberapa ahli seperti: Salman Tua telah menuliskannya sejak awal penanggalan modern. Linnaeus mendeskripsikannya pertama kali dalam edisi pertama Species Plantarum, dimana ia memasukkan seledri dalam suku Umbelliferae, yang sekarang dinamakan Apiaceae (suku adas-adasan).

Seledri merupakan tanaman kecil dengan tinggi kurang dari 1 meter. Daunnya tersusun gemuk dengan tangkai pendek. Tangkai ini terdapat pada kultivar tertentu dan dapat sangat besar. Biasanya seedri yang dijual sebagai sayuran terpisah dari induknya. Batangnya biasanya sangat padat. Pada kelompok budidaya tertentu, seledri membesar membentuk umbi, yang juga dapat dimakan. Bunga seledri tersusun majemuk berkarang. Sementara itu, buahnya kecil-kecil dan berwarna coklat gelap.

KEGUNAAN SELEDRI

1) Dalam Bidang Kuliner

Seledri adalah tumbuhan serbaguna, terutama sebagai sayuran dan obat-obatan. Sebagai sayuran, seledri digunakan daunnya, tangkai daunnya, dan umbinya sebagai campuran sup. Daunnya juga dipakai sebagai lalap, atau dipotong kecil-kecil lalu ditaburkan di atas masakan berkuah seperti sup, bakso, soto, macam-macam sup lainnya, atau juga bubur ayam.

2) Dalam Bidang Kesehatan

Buah dari seledri sering digunakan sebagai bahan obat sebagaimana yang disebutkan oleh Dioskurides dan Theoprastus di masa Yunani Klasik dan Romawi, yaitu sebagai “penyejuk perut“. Tetapi ahli lainnya, yaitu Veleslavin telah memperingatkan agar tidak mengkonsumsi seledri terlalu banyak karena dapat mengurangi air susu.

Seledri juga disebut-sebut sebagai sayuran anti hipertensi. Fungsi lainnya adalah sebagai peluruh (diuretika), anti reumatik serta pembangkit nafsu makan (karminativa). Selain itu, umbi seledri memiliki khasiat yang mirip dengan daun tetapi digunakan pula sebagai afrodisiaka (pembangkit gairah seksual) padaorang dewasa.

Meskipun begitu, kita harus  tetap berhati-hati dalam mengkonsumsi seledri dengan mengkonsumsinya dalam batas normal (wajar), sebab seledri bisa berpotensi dalam menimbulkan alergi pada sejumlah orang yang peka. Dalam hal ini, penderita radang ka’al tidak dianjurkan mengonsumsinya.

KANDUNGAN DALAM SELEDRI

Aromanya yang khas berasal dari sejumlah komponen yang mudah menguap dari minyak atsiri yang terkandung di dalamnya, terutama dari buah seledri yang dikeringkan yang memiliki kandungan minyak atsiri yang paling tinggi.

Kandungan utamanya adalah butilftalida dan butilidftalida sebagai pembawa aroma utama. Terdapat juga sejumlah flavonoid seperti graveobiosid A (1-2%) dan B (0,1 – 0,7%), serta senyawa golongan fenol. Komponen lainnya adalah apiin, isokuersitrin, furanokumarin, serta isoimperatorin.

Kandungan asam lemak utama pada seledri adalah asam petroselin dengan konsentrasi sekitar 40-60%. Daun dan tangkai daun seledri juga mengandung steroid seperti stigmasterol dan sitosterol.

Sementara itu, suatu enzim endonuklease yang disebut Cel1 juga diekstrak dari seledri dan dipakai dalam suatu teknik biologi molekular yang disebut Tilling.

3 JENIS KELOMPOK SELEDRI YANG SERING DIBUDIDAYAKAN

  1. Seledri Daun/Seledri Iris (A. graveolens kelompok Secalinum) yang biasa diambil daunnya dan banyak dipakai dalam masakan Indonesia.
  2. Seledri Tangkai (A. graveolens Kelompok Dulce) yang tangkai daunnya membesar dan beraroma segar, biasanya dipakai sebagai komponen salad.
  3. Seledri Umbi (A. graveolens Kelompok Rapaceum) yang membentuk umbi di permukaan tanah, dan biasanya digunakan dalam masakan sup, dibuat semur, atau schnitzel. Umbi ini kaya akan provitamin A dan K.

PELAJARAN YANG BERKAITAN