Hakikat Pembelajaran Sains

Loading...

ASTALOG.COM – Secara harfiah, Sains (Science) berarti pengetahuan. Hal ini telah melahirkan sejumlah pengertian dari beberapa ahli seperti Sund and Trowbribge yang merumuskan bahwa sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan menurut Kuslan Stonesains merupakan kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan.

Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah-langkah tersebut adalah: merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis, dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains adalah kuantifikasi, yang artinya gejala alam yang dapat berbentuk kuantitas.

Sains yang identik dengan ilmu alam, mempelajari aspek-aspek fisik manusia dan non manusia (hewan dan tumbuhan), serta tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam ini akan membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni. Matematika sendiri tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

BACA JUGA:  Alasan Kedatangan Sekutu Menimbulkan Kontroversi

Pada dasarnya ilmu berkembang dari 2 cabang ilmu utama, yaitu

  1. Filsafat Alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences)
  2. Filsafat Moral yang kemudian berkembang ke dalam ilmu-ilmu sosial (the social sciences).

Ilmu-ilmu alam kemudian terbagi lagi menjadi 2 kelompok, yaitu

  1. Ilmu Alam (the physical sciences) : ilmu yang mempelajari zat yang membentuk alam semesta
  2. Ilmu Hayat (the biological sciences) : ilmu yang mempelajari makhluk hidup di dalamnya

Dan ilmu alam kemudian bercabang lagi menjadi:

  • Fisika : ilmu yang mempelajari massa dan energi
  • Kimia : ilmu yang mempelajari substansi zat
  • Astronomi : ilmu yang mempelajari benda-benda langit
  • Ilmu Bumi (the earth sciences) : ilmu yang mempelajari tentang Bumi yang ditinggali manusia, hewan, dan tumbuhan.
BACA JUGA:  Keuntungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

HAKIKAT PEMBELAJARAN SAINS

Sains, dalam hal ini IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi.

IPA juga membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Powler bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis, yang tersusun secara teratur, berlaku umum, serta berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.

BACA JUGA:  Susunan Anatomi pada Daun

Untuk itu, Usman Samatowa mengungkapkan 4 alasan mengapa Sains perlu ada dalam pembelajaran di sekolah mulai dari tingkat dasar:

  1. Sains bermanfaat bagi suatu bangsa. Dalam hal ini, kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, sebab sains merupakan dasar teknologi, dan sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi adalah sains.
  2. Bila sains diajarkan dengan cara yang tepat, maka sains merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”, maka peserta didik dihadapkan pada suatu masalah yang memberinya kesempatan untuk mencari cari tahu dan berpikir kritis.
  3. Bila sains diajarkan melalui percobaan -percobaan yang dilakukan sendiri oleh peserta didik, maka sains tidak sekedar sebagai mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.
  4. Sains memiliki nilai-nilai pendidikan, yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian peserta didik secara keseluruhan.