Bagaimana Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Islam?

Loading...

ASTALOG.COM – Islam yang diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-11 dan dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India, pada akhirnya telah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas pemeluk agama Islam terbesar di dunia dengan sekitar 85,2%. Meskipun Islam menjadi agama mayoritas, tetapi Indonesia bukanlah negara yang berasaskan Islam.

Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi Islam. Kerajaan yang dominan, termasuk Kesultanan Mataram di Jawa Tengah, dan Kesultanan Ternate dan Tidore di Kepulauan Maluku.

Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut Hindu dan Buddh sebagai agama dominan masyarakat di Jawa dan Sumatera pada saat itu. Sementara Bali tetap mempertahankan mayoritas Hindu, dan pulau-pulau yang berada di wilayah Indonesia timur sebagian besar tetap menganut animisme sampai abad 17 dan 18 ketika agama Kristen menjadi dominan di daerah tersebut.

Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Seperti banyak diketahui jika daerah penghasil batu kapur yaitu Kota Barus, Sibolga di Sumatera Utara, sudah digunakan oleh para firaun di mesir untuk proses pemakaman mumi firaun. Hal tersebut telah membuktikan jika jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara sudah berhubungan dengan dunia luar. Ada kemungkinan Islam sudah masuk di Nusantara terjadi pada masa Kenabian atau masa hidupnya Nabi Muhammad S.A.W.

1) Kehidupan masyarakat Indonesia di masa Islam di bidang politik

Kerajaan bercorak Hindu-Budha sebenarnya telah berkembang jauh sebelum Islam masuk di Indonesia. Namun ketika kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha itu mengalami keruntuhan, maka peranannya pun mulai digantikan oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka, dan lainnya. Dalam sistem pemerintahan yang bercorak Islam, Rajanya bergelar ‘Sultan’ atau ‘Sunan’ seperti halnya para wali. Jika Rajanya meninggal maka tidak akan dimakamkan pada candi tetapi dimakamkan secara Islam.

2) Kehidupan masyarakat Indonesia di masa Islam di bidang sosial

Setelah sebelumnya terdapat aturan kasta yang diterapkan dalam sistem pemerintahan kerajaan Hindu-Budha, maka dalam kebudayaan Islam, tidak ada lagi penerapan aturan kasta dalam kehidupan masyarakatnya. Karena hal ini pula maka Islam mulai memberikan pengaruh yang baik dan berkembang peat menjadi sebuah mayoritas dan menyebabkan aturan kasta perlahan-lahan memudar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Nama-nama berbau Arab pun mulai digunakan seperti Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, Musa, Ibrahim, Hasan, Hamzah, dan lainnya. Kosakata yang disadur dari bahasa Arab pun mulai banyak digunakan, seperti: rahmat, berkah (barokah), rezeki (rizki), kitab, ibadah, sejarah (syajaratun), majelis (majlis), hikayat, mukadimah, dan masih banyak lagi.

Begitu pula dengan sistem penanggalan. Jika sebelumnya masyarakat Indonesia mengenal penanggalan Saka yang berasal dari kalender Hindu dan mulai digunakan pada tahun 78 M termasuk penggunaan nama-nama pasaran seperti: legi, pahing, pon, wage, dan kliwon, maka setelah Islam berkembang, Sultan Agung dari Mataram pun menciptakan kalender Jawa dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah.

3) Kehidupan masyarakat Indonesia di masa Islam di bidang pendidikan

Pendidikan tentang Islam mulai berkembang di pesantren-pesanten Islam. Sebenarnya, sistem pesantren telah berkembang sebelum Islam masuk ke Indonesia dimana pada saat itu pesantren telah menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah masuknya Islam, maka mata pelajaran dan proses pendidikan di pesantren pun berubah menjadi pendidikan Islam. Pesantren menjadi sebuah asrama tradisional pendidikan Islam dimana siswa tinggal bersama untuk belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang disebut Kiai.

4) Kehidupan masyarakat Indonesia di masa Islam di bidang sastra dan bahasa

Tidak adanya sistem kasta dalam Islam membuat persebaran bahasa Arab lebih cepat dibandingkan persebaran bahasa Sanskerta. Mengapa demikian? karena semua orang mulai dari Raja hingga rakyat jelata dapat mempelajari bahasa Arab. Walaupun pada mulanya memang hanya kaum bangsawan yang pandai menulis dan membaca huruf dan bahasa Arab, namun selanjutnya, rakyat kecil pun mampu membaca huruf Arab. Dalam perkembangannya, pengaruh huruf dan bahasa Arab terlihat pada karya-karya sastra. Bentuk karya sastra yang berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Islam antara lain: hikayat, babad, dan syair.

5) Kehidupan masyarakat Indonesia di masa Islam di bidang arsitektur dan kesenian

Islam telah memperkenalkan tradisi baru dalam teknologi arsitektur seperti masjid dan istana. Ada perbedaan antara masjid- masjid yang dibangun pada awal masuknya Islam ke Indonesia dan masjid yang ada di Timur Tengah. Masjid di Indonesia tidak memiliki kubah di puncak bangunan. Kubah digantikan dengan atap tumpang atau atap bersusun. Jumlah atap tumpang itu selalu ganjil, tiga tingkat atau lima tingkat serupa dengan arsitektur Hindu. Contohnya, Masjid Demak dan Masjid Banten. Islam juga memperkenalkan seni kaligrafi yaitu suatu seni menulis aksara indah yang merupakan kata atau kalimat. Teks-teks dari Al-Quran merupakan tema yang sering dituangkan dalam seni kaligrafi ini. Media yang sering digunakan adalah nisan makam, dinding masjid, mihrab, kain tenunan, kayu, dan kertas sebagai pajangan.

Loading...