Yang Memainkan Wayang Disebut?

Loading...

ASTALOG.COM – Jawa yang terkenal dengan seni perwayangannya tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, khususnya masyarakat Indonesia. Seni wayang merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan budaya warisan leluhur yang sangat tinggi nilainya dari Jawa. Karena itu, kesenian ini sangat dijaga kelestariannya selain memiliki nilai kesenian yang tinggi, wayang juga merupakan salah satu kesenian yang berhasil menarik para turis untuk datang berkunjung ke Indonesia.

Pengertian Wayang

Dilansir dari Wikipedia, wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.

Sejarah Wayang

1. Wayang dalam Karya Sastra

Wayang dalam bentuk karya tertulis banyak jumlahnya. Apabila ditelusuri secara diakronis, maka cerita dengan lakon wayang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan karya sastra wayang itu sendiri. Tokoh wayang yang sekarang dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama Jawa, tidak terpisahkan dari epos tanah Hindu (India), terutama Ramayana dan Mahabharata dan perbedaannya dengan yang terdapat di Indonesia, namun ditinjau dari persamaan nama tokoh, maka hal itu tidak dapat dipisahkan (kerangka pemikiran historis), meskipun mengalami sedikit perubahan (transformasi budaya).

2. Wayang dalam prasasti dan relief candi

Pada masa purba Indonesia, informasi mengenai suatu berita dapat ditulis pada prasasti. Prasasti dapat berupa tonggak batu maupun lempengan tembaga. Sebagai contoh: prasasti Mulawarman dari Kutei, bertulisan Pallawa sekitar tahun 400M, berbentuk yupa (sebuah tugu peringatan upacara kurban), berbahasa Sansekerta dan tersusun dalam bentuk syair (Soekmono, 1991).

Prasasti dapat dipandang sebagai benda yang bernilai sejarah. Dari prasasti itu dapat ditelusuri keterangan-keterangan mengenai suatu berita atau cerita pada masa lampau. Dari prasasti itu pula dapat dideteksi mengenai latar belakang/orientasi pemikiran masyarakat pada waktu itu. Sebagai contoh adanya pemikiran religius Jawa Kuna, yang salah satunya dalah menyembah dan menganggungkan dewa-dewa, seperti kepada dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa.

Jenis-Jenis Wayang

Di Indonesia, ada beberapa jenis wayang yang tersebar diseluruh Indonesia dari berbagai jenis dan bentuk. Jenis dan bentuk tersebut diklasifikasikan dalam beberapa poin yaitu:

1. Sumber ceritanya
2. Bahan boneka atau sejenisnya
3. Wilayah kebudayaan(asal dan penyebarannya)
4. Bunyi (musik) instrument yang terdengar
5. Bentuk pertunjukannya
6. Fungsinya
7. Bunyi benturan boneka wayang

Beberapa jenis wayang yang dikenal tersebar di daerah Jawa diantaranya: wayang beber, gedhog, golek, jemblung, klithik, krucil, langendria, lilingong, lumping, madya, pegon, purwa, purwara, sasak, topeng, dan wayang wong.

Perlengkapan dalam Pementasan Wayang

Memainkan wayang diperlukan persiapan yang matang. Karena itu, saat akan mementaskan sebuah pertunjukan wayang, bukan hanya cerita yang harus disiapkan melainkan ada kebutuhan dan perlengkapan lain yang harus siap untuk menyajikan tontonan wayang yang sempurna.

1. Dalang

Dalang dapat dikatakan sebagai seniman utama dalam pertunjukan wayang. Ia sebagai pemimpin pertunjukan (leading artist), sehingga ia dapat sebagai pusata perhatian penonton dalam memeinkan wayang. Pada umunya dalang adalah pria, karena pekerjaan sebagai dalang memang amat berat.

Dalang dalam wayang harus duduk bersila semalam suntuk, melaksanakan pertunjukan tersebut (yang dimainkannya), dan juga memimpin lain-lain seniman-seniwati yang duduk dibelakangnya dengan aba-aba tersamar, berupa wangsalan atau petunjuk sastra yang diselipkan dalam cariyos atau narasinya, berupa gerak-gerik wayang. Nyanyian, dedogan, dan kepyakan.

Secara tradisional ada beberapa kelas dalang, yaitu:

– Mereka yang baru dapat mendalang
– Yang sudah pandai mendalang
– Yang telah menguasai semua isi pendalangan
– Yang telah menguasai semua isi perdalangan
– Dalang sejati yang disamping telah menguasai semua isi pedalangan juga dapat memberi suri tauladan kepada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, seorang yang arif, bijaksana dan patut dihormati.

2. Nayaga

Nayaga Adalah sebutan bagi para penabuh gamelan. Dimana mereka bertugas untuk mengiring pertunjukan wayang kulit. Nayaga sedikitnya berjumlah sepuluh orang untuk memainkan sedikitnya lima belas peralatan gamelan. Nayaga biasanya pria. Yang menduduki tempat terpenting untuk mengiringi pertunjukan wayang adalah penabuh kendang, karena biasanya ialah yang menangkap isyarat atau perintah dari dalang, dan meneruskannya pada nayaga lain, terutama untuk melirihkan atau mengeraskan bunyi gamelan, mempercepat atau memperlambat irama gending, memulai dan menghentikannya.

3. Swarawati

Pesinden atau penyanyi wanita sudah lama dikenal dikalangan seni di pulau Jawa. Namun sebagai seniwati yang mengiringi pagelaran wayang purwa, mereka baru dikenal sekitar dasawarsa tiga puluhan abad ini, sehingga mulai masa itu setiap pagelaran wayang purwa ada pesindennya. Dan dianggap tidak wajar apabila pesindennya tidak ada. Jika para nayaga dinamakan pradangga, maka para pesinden pun mendapat nama-nama baru yaitu waranggana, widuwati atau swarawati.

4. Wiraswara

Wiraswara ialah seorang atau beberapa orang laki-laki yang mempunyai peran melantunkan syair tertentu untuk mengisi jalannya alunan gending.

5. Kelir

Kelir dibuat dari kain katun berwarna putih. Pinggiran bagian atas dinamakan pelangitan yang menunjukan langit atau angkasa, dengan lebar layar yang lebih, demikian pula bagian pinggir kiri dan kanan yang fungsinya sebagai hiasan.

8. Blencong

Belncong adalah lampu yang terbuat dari logam atau perunggu, biasanya bentuknya menyerupai burung dengan ekornya berfungsi sebgai reflector.

9. Debog

Untuk pertunjukan wayang purwa biasanya diperlukan tiga batang pisang yang cukup panjang, dari jenis pisang yang padat batangnya. Dhebog atas merupakan bagian pentas untuk menancapkan tokoh-tokoh wayang yang berstatus tinggi. Dhebog atas disebut pamedan sedang dhebog bawah disebut paseban. Adapun status yang menentukan apakah seorang tokoh wayang berdiri atau duduk (dari sisi bayangan) adalah berdasarkan pangkat, usia atau kedudukannya dalam keluarga.

10. Kothak

Adalah peti wayang yang terbuat dari kayu, namun kayu yang terbaik adalah dari kayu nangka, ukuran biasanya panjang 150 cm, lebar 75 cm, dan tinggi termasuk tutupnya 55 cm, sedang tebal papan kayu yang digunakan untuk membuat kothak itu kira-kira 2 cm. pada waktu pertunjukan kothak itu ditempatkan di sebalah kiri dalang, membujur kearah kelir.

11. Cempala

Dua buah cempala digunakan dalam pertunjukan wayang purwa. Cempala besar dubuat dari kayu jenis keras, biasanya kayu jait, cempala besar ini biasanya dipegang tangan kiri dalangdan diketuk-ketukan pada bagian dalam kotak yang dekat padanya dimana perlu. Cempala kecil terbuat dari logam berukuran separuh cempala besar. Dalam pertunjukan, cempala ini dijepit empujari kaki kanan dalang dan jari kaki sebelahnya.

12. Kepyak

Alat yang disebut kepyak (Surakarta-Yogyakarta) atau kecrek (Banyumas) itu bentuk dan bahan-bahan pembuatannya dapat berbeda-beda, meskipun fungsinya sama, yaitu mirip dengan cempala.

Loading...