Fungsi Antenula

Loading...

ASTALOG.COM – Udang air tawar (Macrobrachium sp.) digunakan sebagai obyek pengamatan untuk mengetahui fungsi chemoreseptor dan termasuk avertebrata yang termasuk filum Arthropoda kelas Crustacea, mudah dijumpai di perairan Indonesia. Menurut Schmidt and Nielsen (1990) chemoreseptor merupakan indera yang distimulasi oleh berbagai ion atau molekul kimia baik dalam bentuk gas atau cairan. Chemoreseptor ini meliputi indera penciuman, indera perasa dan juga reseptor yang mengatur konsentrasi oksien dan karbondioksida.

Chemoreseptor pada udang terdapat pada bagian antenulanya. Menurut Stoter (1957), fungsi terpenting dari antenula adalah mendeteksi ada atai tidak adanya pakan atau merespon kehadiran pakan yang memiliki aroma khas. Antenula pada Crustacea memiliki fungsi untuk mencari makanan, diantaranya adalah menangkap stimulus kimia dan sebagai indera pembau. Menurut Eckert dan Randal (1978), antenula juga berfungsi untuk mengenali lawan jenis, menghindari dari serangan atau gangguan yang diakibatkan oleh organisme lain (predator) dan mempertahankan daerah teritorialnya.

Gerakan antennula pada udang yang berfungsi sebagai chemosereptor pakan menurut Soeyanto dan Djajadireja (1973) adalah:
1. Wipping, yaitu gerakan antenula yang bergerak membersihkan
2. Flicking, yaitu gerakan pelucutan antenula ke arah depan
3. Withdraw, yaitu gerakan pelucutan antenula ke arah belakang. Gerakan ini terjadi apabila terdapat pakan di belakang tubuh udang.
4. Rotation, yaitu gerakan antenula yang memutar (rotasi). Gerakan ini terjadi apabila terdapat pakan di atas tubuh udang.

Gerakan udang dalam mencari pakan menurut Harpaz (1987) sebagai berikut:
• Gerakan mencari pakan dengan diam ditempat
• Gerakan menuju sasaran
1. Gerakan melecut antennula dengan cepat dan dilakukan dengan kasar
2. Gerakan membersihkan dengan menggerakan kearah ventral dan terus bergerak ke bawah (pangkal antennula).
3. Gerakan melecut antennula dengan menarik antennula ke belakang dan kemudian mengarah ke depan
4. Gerakan antennula dan antena mengorientasi langsung mengenai sasaran, yaitu sumber chemoatractant.
5. Gerakan mengangkat chepalothoraks setinggi-tingginya dengan periopodnya. Perlakuan ini dilakukan dengan melecutkan antennula dan meningkatkan frekuensi pelecutannya.
6. Gerakan menyapu atau menguasai antena, kadang diikuti pergerakan kecil melingkar dari antennula (wipping dan rotation).
7. Gerakan mencari substrat yang ada di depan dengan chela dan membawa substrat tersebut kemulutnya. Gerakan ini dilakukan saat udang berada dalam keadaan diam.

Menurut Satyantini, (2006) gerakan antenula untuk mendekati pakan tergantung pada komposisi pakan yang mempunyai aroma khas. Salah ssatu jenis udang air tawar yaitu udang windu (Penaeus monodon) membutuhkan makanan untuk sumber energi atau pertumbuhan. Makanan buatan merupakan bagian dari faktor pembatas pertumbuhan. Suplemen L-carnitine yang dicampurkan ke dalam pakan dengan dosis 600 ppm menghasilkan perkembangan udang windu (Penaeus monodon) yang terbaik.

Keistimewaan yang dimiliki udang adalah pola makan yang khas. Ada tida tahap respon tingkah laku pakan terhadap pakan bagi udang yaitu orientasi, mencari dan mendeteksi pakan (Haipaz and Galun, 1987). Mekanisme pakan hingga pada stimulus dimulai dari pakan yang dimasukkan ke dalam akuarium yang kemudian berfusi ke dalam air dalam bentuk ion-ion. Kemudian ion-ion tersebut akan diterima oleh chemoreseptor yang terdapat pada antenula. Impuls dari antenula akan ditransfer menuju otak melalui neuron afferent.

Impuls itu diproses oleh otak menjadi tanggapan dan diteruskan ke organ reseptor melalui neiron afferent. Organ reseptor kemudian melakukan gerakan sesuai informasi yang diterima otak dan terjadilah gerakan udang mendekati pakan yang disediakan dalam akuarium tersebut (Yuwono dan Sukardi, 2001)
Menurut Harfaz (1987), kecepatan mendekati pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu banyaknya pakan yang diberikan, kecepatan arus air, kondisi organ reseptor, dan lain-lain. Makin banyak pakan yang diberikan, molekul kimia yang disebarkan makin banyak, sehingga stimulus lebih cepat diterima udang. Makin cepat arus air, makin cepat aroma atau senyawa kimia yang diterima reseptor dan adanya pakan cepat terdeteksi oleh udang. Kondisi organ reseptor mempengaruhi penerimaan stimulus. Bila organ reseptor berfungsi dengan baik (tidak ada kerusakan) maka stimulus akan cepat atau dapat diterima dengan baik.

Udang bergerak maju kearah sumber chemoatractant. Gerakan ini dilakukan dengan berjalan menggunakan periopod ketiga, keempat, dan kelima. Selama gerakan ini, periode pertama tetap menyapu daerah yang berbeda di depannya dan mengambil bahan-bahan serta membawanya ke mulut. Jalan zig-zag dilakukan dalam gerakan ini.

Loading...