Fenomena Sosiokultural: Globalisasi

ASTALOG.COM – Para pakar ilmu-ilmu sosial menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang bersifat fungsional dan dinamis.

Sementara itu, masyarakat merupakan rangkaian antar elemen sosial yang membentuk satu kesatuan kerja dalam rangka mendukung kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri.

Jika timbul permasalahan pada salah satu elemen sosial, elemen sosial lainnya akan ikut terpengaruh.

Fenomena Sosial Budaya dan Globalisasi

Globalisasi merupakan fenomena runtuhnya batas-batas geografis suatu negara. Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan nilai antara satu negara dengan negara lain dengan mudah.

Itulah sebabnya, globalisasi merupakan fenomena sosial budaya yang mungkin terjadi di samping globalisasi informasi dan perdagangan produk.

Namun sayangnya, aliran ini sering hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Dalam hal perdagangan internasional misalnya, para kapitalis mengeksploitasi globalisasi untuk memasarkan produknya ke beberapa negara yang kurang produktif.

Demikian pula, dalam ranah sosial budaya, globalisasi sosial budaya yang terjadi merupakan potensi besar bagi munculnya neo-imperialisme. Apakah Anda salah satu korban dari neo-imperialisme?

Berpacu dalam Globalisasi

Saat ini proses globalisasi telah menjangkiti hampir seluruh dunia. Semua jenis lalu lintas masuk dan keluar di suatu negara sulit untuk dibendung lagi. Seolah-olah dunia telah menjadi arena pacuan kuda. Dengan kata lain, ada negara-negara yang menang, ada juga negara yang kalah.

Kalau sudah begini, globaphobia menjadi sesuatu yang menakutkan bagi negara-negara ‘kecil’. Dan uniknya, sebagian besar proses globalisasi sedang berlangsung dengan cara yang menyenangkan.

Anda perlu bukti? Tidakkah Anda merasa bahagia jika dapat membeli tas dan blus Zandra vivian dari Paris? Apakah Anda tidak tergoda untuk membeli telepon seluler dari China yang murah tapi begitu mumpuni dan cantik?

Globalisasi Sosial dan Budaya

Ada begitu banyak fenomena sosial budaya globalisasi yang terjadi di sekitar kita, tanpa kita sadari. Jika sosio-kultural sebelumnya terbatas pada satu negara, sekarang sosial budaya telah berubah menjadi wacana dunia. Berikut beberapa diantaranya:

1. Gender

Mengatasnamakan masalah gender merupakan upaya untuk mempopulerkan wacana gender yang kemudian membuat perubahan di dalamnya. Fenomena sosial yang berasal dari barat ini juga menjadi perbincangan hangat di negara kita, Indonesia.

Gender sendiri adalah sifat yang melekat pada pria dan wanita, di mana sifat tersebut merupakan hasil konstruksi atau bentuk lingkungan. Otomatis, ‘gender’ berbeda dari satu daerah dengan daerah lain. Hal ini sering dikaitkan dengan kebiasaan bekerja dalam keluarga.

Masalah gender, tidak hanya menyangkut persoalan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi istilah gender lebih merujuk pada aspek sosiologis, di mana antara wanita dan pria memiliki peran dan kedudukan yang berbeda.

Di Bali, yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga adalah istri. Sementara di Jawa, mencari nafkah adalah kewajiban suami. Hal ini tentu berbeda dengan orang-orang di Amerika dan Eropa, suami dan istri memiliki peran yang sama dalam menghasilkan uang.

2. Pola Makan Junk Food

Disadari atau tidak, sekarang makanan cepat saji sudah akrab di lidah kita. Baik itu burger, pizza atau fried chicken. Dimana sebelumnya kita hanya makan dengan sayuran asam dan tempe goreng, tapi sekarang apa yang terjadi?

Junk food memang lezat, tetapi dampaknya tidak sebaik rasanya. Karena dalam jangka panjang, junk food bisa membuat Anda menderita penyakit ginjal, stroke, gangguan sel-sel otak dan lain-lain.

3. Trend dan Fashion

Ah, terlalu mudah untuk menunjukkan bagaimana gaya kita didorong oleh fashion dari negara-negara lain. Pakaian yang tampak terbuka meskipun seakan menutupi seluruh tubuh mereka. Semua berasal dari luar negeri.

Sekarang Anda sudah tahu bahwa aspek sosial dan budaya itu benar-benar telah mengglobal. Dan bahkan Anda juga menyadari bahwa selama ini kita telah menjadi korban dari imperialisme dari negara-negara lain.

Ya, tak mengapa jika Anda ingin mengikuti budaya dan adat istiadat dari negara-negara lain, namun jangan hanya menerima lantas menelannya mentah-mentah. Sesuaikan dulu dengan Pancasila, ditambah dengan nilai-nilai agama Anda. Jika sebaliknya, tolak dan abaikan. Tapi jika tidak bertentangan, dan Anda merasa nyaman dengan itu, lanjutkan.