Kohesi Leksikal

Loading...

ASTALOG.COM – Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa tidak dirinci dalam bentuk bunyi, frasa, ataupun kalimat secara terpisah-pisah, melainkan bahasa dipakai dalam wujud kalimat yang saling berkaitan.

Kalimat pertama menyebabkan timbulnya kalimat kedua, kalimat kedua menjadi acuan kalimat ketiga, kalimat ketiga mengacu kembali ke kalimat pertama dan seterusnya.

Rangkaian kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain itu membentuk kesatuan yang dinamakan wacana (Alwi, 1993).

Menurut Tarigan (1987), wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi, berkesinambungan, mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis, serta sebuah wacana dapat dikatakan yang ideal apabila wacana tersebut mengandung seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan kepaduan atau kohesi.

Definisi dan Fungsi Kohesi

Berkenaan dengan masalah kohesi, kohesi (cohesion) memiliki kedudukan yang amat penting dalam wacana. Kohesi adalah salah satu unsur wacana yang berfungsi sebagai pengantar jaringan unsur-unsur tersebut sehingga membentuk wacana yang utuh.

Bagi jaringan semantik, kohesi merupakan relasi semantik yang membentuk jaringan tersebut. Bila jaringan berupa jaringan gramatikal, kohesi berfungsi sebagai pengatur relasi gramatikal di setiap bagian wacana.

BACA JUGA:  Perbedaan Bunga Sempurna dan Bunga Tidak Sempurna

Di samping itu, jika jaringan-jaringan itu mengarah ke kesatuan topik, kohesi bertugas menjaga kesinambungan topik. Intinya, kohesi adalah salah satu sarana pembangun keutuhan wacana.

Halliday dan Hasan (1976) membagi kohesi menjadi dua jenis, yaitu kohesi gramatikal (grammatical cohesion) dan kohesi leksikal (lexical cohesion).

Dalam analisis wacana, segi, bentuk atau struktur lahir wacana disebut aspek gramatikal wacana sedangkan segi makna atau struktur batin wacana disebut aspek leksikal wacana.

Kohesi Leksikal

Kohesi leksikal atau perpaduan leksikal adalah hubungan leksikal antara bagian-bagian wacana guna mendapatkan keserasian struktur secara kohesif.

Tujuan digunakannya aspek-aspek leksikal tersebut diantaranya ialah untuk mendapatkan efek intensitas makna bahasa, kejadian informasi, dan keindahan bahasa lain.

Unsur kohesi leksikal terdiri dari: sinonim (persamaan), antonim (lawan kata), hiponim (hubungan bagian atau isi), repetisi (pengulangan), kolokasi (sanding kata), dan ekuivalensi. Kohesi pengulangan adalah kohesi leksikal yang berupa pengulangan konstituen yang telah disebut.

Kohesi hiponimi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna leksikal yang bersifat hierarkis antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Contohnya:

Secara badaniah, wanita berbeda dengan laki-laki. Alat kelamin wanita berbeda dengan alat kelamin laki-laki. Wanita punya buah dada yang lebih besar. Suara wanita lebih halus. Wanita melahirkan anak.

Kohesi sinonimi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna leksikal yang mirip antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Contoh:

Jumlah orang jawa perantauan ini selalu cenderung naik. Sensus yang dilakukan inggris di tahun-tahun mereka berkuasa menunjukan peningkatan itu.

Kohesi antonim adalah kohesi leksikal yang memiliki relasi makna leksikal yang bersifat kontras atau berlawanan antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Contoh:

Laki-laki lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif. Wanita sebaliknya: lebih emosional, lebih pasif, lebih submisif.

Kohesi kolokasi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna yang berdekatan antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain.
Contoh:

Ada siswa yang mati karena dipukul oleh teman-temanya. Kata gurunya, almarhum adalah siswa yang nakal dan suka menakut-nakuti teman-temanya dengan senjata tajam tetapi, menurut keluarga almarhum, dia itu sangat soleh dalam hidupnya. Dia tak pernah berbuat hal yang melanggar hukum.

Pengulangan yaitu kata pada kalimat pertama yang menjadi pusat perhatian disebutkan kembali pada kalimat yang lain. Contoh:

Pada hari Sabtu di SD Patompon diadakan rekreasi ke Keraton Surakarta, Waduk Gajah Mungkur Dan Tawangmangu. Pada waktu itu berangkat dari sekolah pukul 06.30 dan pukul 10.00 kita semua sampai ke Waduk Gajah Mungkur dan pada 16.00 kita semua sudah sampai ke Tawangmangu.

Contoh tersebut tampak pengulangan kata Waduk Gajah Mungkur, Tawangmangu, dan kita.

BACA JUGA:  Klasifikasi dan Ciri Umum Kelapa

1. Ia kagum dengan pria yang duduk di serambi itu. lelaki itu sederhana, tetapi berbudi mulia.
2. Anggrek, melati, mawar, dan dahlia di pekaranganku tampak subur. Bunga itu dipelihara dengan teliti.
3. Pernahkah anda memakan gelali. Jajan itu terbuat dari gula kelapa.

Kalimat 1 menyatakan hubungan sinonim, yaitu kata pria bersinonim dengan kata lelaki. Kalimat 2 menyatakan hubungan superordinat dari frase anggrek, melati, mawar, dan dahlia. Kata bunga merupakan ordinatnya. Kalimat 3 menyatakan hubungan unsur umum. Kata jajan merupakan unsur umum dari kata gelali.