Mengapa VOC Ingin Menguasai Somba Opu?

Loading...

ASTALOG.COM – Konsep dasar perbentengan sebagai tempat perlindungan dan pertahanan diri atau kelompok sudah ada sejak zaman prasejarah, mengingat bahwa pada masa prasejarah keinginan untuk mempertahankan diri sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bukti tersebut dapat kita lihat dengan banyaknya ditemukan struktur batu pada beberapa situs megalitikum di Indonesia yang dianggap sebagai perbentengan kecil.

Sejarah Benteng Somba Opu

ada masa pemerintahan raja Gowa IX banyak terjadi perang dalam usaha memperluas daerah kekuasaan kerajaan, dalam situasi demikianlah kerajaan Gowa mulai mengenal Benteng Pertahanan. Perkembangan Makassar sebagai bandar niaga dan pangkalan pertahanan diawali ketika raja Gowa IX Daeng Matunru Karaeng Tomappakrisik Kallonna (1510-1546) memerintahkan pemindahan ibukota kerajaan dari daerah Tamalate ke daerah Somba Opu dan menetapkan Somba Opu sebagai ibukota dan pusat kegiatan administrasi pemerintahan dan perekonomian kerajaan Gowa.

Benteng Somba Opu sebagai benteng pertahanan ibukota kerajaan Gowa terletak di Kelurahan Benteng Somba Opu Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa, letak astronomisnya adalah 5˚ 11̍ 22̎ LS, 119˚ 24̍ 4̎ BT dengan ketinggian 0-10 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berbatasan langsung dengan Kota Makassar. Lokasi situs mudah dicapai dengan kendaraan roda dua atau roda empat melaui Jl. Abdul Kadir melewati jembatan yang melintasi sungai Jenebereng. Tempat ini sekarang telah dijadikan objek wisata miniatur Sulawesi Selatan. Terdapat berbagai kumpulan rumah adat yang mewakili etnis dan berbagai daerah yang ada di Sulawesi Selatan. Di tengah kompleks benteng juga dapat dijumpai museum “Pattingalloang”.

Pada pertengahan abad ke-16, benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Hal inilah menjadi alasan mengapa VOC ingin menguasai Somba Opu.

Mengapa VOC ingin menguasai Somba Opu?

Pelabuhan Somba Opu memiliki posisi yang strategis dalam jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Soba Opu telah berperan sebagai bandar perdagangan tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari timur ke barat atau sebaliknya. Sebagai contoh kapal-kapal pengangkut rempah-rempah dari Maluku uamh berangkat ke Malaka sebelumnya akan singgah dulu di Bandar Somba Opu. Begitu juga barang dagangan dari barat yang akan masuk ke Maluku juga melakukan bongkar muat di Somba Opu.

VOC berusaha keras untuk dapat mengendalikan Goa dan menguasai pelabuhan Somba Opu serta menerapkan monopoli perdagangan. Untuk itu VOC harus dapat terus menundukkan Kerajaan Goa. Berbagai upaya untuk melemahkan posisi Gowa terus dilakukan.

Dengan pasukan gabungan disertai peralatan senjata yang lebih lengkap, VOC berhasil mendesak pasukan Hasanuddin. Benteng pertahanan tentara Gowa di Barombang dapat diduduki oleh pasukan Arung Palaka. Hal ini menandai kemenangan pihak VOC atas kerajaan Gowa. Hasanuddin kemudian dipaksa untuk menandatangani

Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya antara lain sebagai berikut:

– Gowa harus mengakui hak monopoli VOC
– Semua orang Barat, kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah Goa
– Gowa harus membayar biaya perang

Serangan Belanda di bawah pimpinan C.J. Speelma pada tanggal 15 Juni 1669 terhadap Benteng Somba Opu menyebabkan terjadinya perang besar antara Kerajaan Gowa dengan Belanda. Kmudian pada tanggal 24 Juni 1669, Benteng Somba Opu akhirnya benar-benar jatuh ke tangan Belanda dan oleh Speelman, Benteng Somba Opu dihancurkan dengan ribuan pon bahan peledak.

Pada tanggal 24 Juni 1669, benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuan. Pada tahun 1990, bangunan benteng yang sudah rusak direkonstruksi sehingga tampak lebih indah. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah obyek wisata sebagai sebuah museum bersejarah.

Ilmuwan Inggris, William Wallace, menyatakan, Benteng Somba Opu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun orang nusantara. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya.

Loading...