Jasa Douwes Dekker

ASTALOG.COM – Di masa pergerakan nasional Indonesia di sekitar awal abad 20, lahir sejumlah pergerakan nasional salah satunya adalah 3 Serangkai yang dimotori oleh Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Cipto Mangunkusumo. Gerakan 3 Serangkai ini mendirikan sebuah organisasi politik pertama di Hindia Belanda pada tanggal 25 Desember 1912 yang diberi nama Indische Partij yang merupakan partai pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia.

Lalu bagaimana dengan status kewarganegaraan Douwes Dekker sendiri? Perlu diketahui bahwa Douwes Dekker adalah warganegara Indonesia keturunan Belanda. Dia lahir dari seorang ayah yang seorang Belanda, yaitu Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker yang berprofesi sebagai agen di bank kelas kakap Nederlandsch Indisch Escomptobank. Sementara itu ibunya, Louisa Neumann adalah seorang keturunan Jerman – Jawa.

Douwes Dekker yang bernama lengkap Ernest François Eugene Douwes Dekker terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Ia memiliki nama Indonesia, yaitu Danudirja Setiabudi, dan berkat jasa-jasanya di masa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, ia mendapat gelar sebagai seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.

Kiprah Perjuangan Douwes Dekker

Perjuangan yang dilakukan oleh Douwes Dekker bukan tanpa alasan. Meskipun ia adalah seorang pribumi keturunan Belanda, namun bukan berarti ia bersikap pro terhadap kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak Belanda pada masa itu. Bermula ketika selepas lulus sekolah, ia bekerja di perkebunan kopi Soember Doeren di Malang, Jawa Timur.

Di sana ia menyaksikan perlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membela mereka. Tindakannya itu membuatnya kurang disukai rekan-rekan kerja, namun justru disukai oleh pegawai-pegawai bawahannya. Akibatnya ia pun konflik dengan manajernya dan dipindahkan ke perkebunan tebu Padjarakan di Kraksaan sebagai laboran. Dan sekali lagi, ia terlibat konflik dengan manajemen karena urusan pembagian irigasi untuk tebu perkebunan dan padi petani. Akibatnya, ia dipecat.

Di masa menganggur dan kematian mendadak ibunya, ia lalu memutuskan untuk berangkat ke Afrika Selatan di tahun 1899 dan ikut terlibat dalam Perang Boer ke-2 melawan Inggris. Dalam perang tersebut  ia tertangkap lalu di penjara di suatu kamp di Ceylon. Di sana ia mulai berkenalan dengan sastra India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya.

Di tahun 1902 ia kembali pulang ke Hindia Belanda dan bekerja sebagai agen pengiriman KPM, perusahaan pengiriman milik negara. Meskipun begitu, ia tetap melanjutkan kesukaannya pada dunia tulis-menulis. Kemampuannya menulis laporan pengalaman peperangannya di surat kabar terkemuka membuatnya ditawari menjadi reporter koran Semarang terkemuka, De Locomotief. Di sinilah ia mulai merintis kemampuannya dalam berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakan kolonial.

Ketika ia menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad pada 1907, tulisan-tulisannya menjadi semakin pro kaum Indo dan pribumi. 2 seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun 1908. Seri pertama dari artikelnya dimuat pada Februari 1908 di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant “Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie” (“Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda“). Sekitar 7 bulan kemudian, seri ke-2 dari artikelnya muncul di surat kabar yang sama, “Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen?” (“Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?“).  Selain itu, kebijakan politik etis juga dikritiknya. Tulisan-tulisannya inilah yang membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa Hindia Belanda kala itu.

Jasa-jasa Douwes Dekker

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa Douwes Dekker dikenal karena jasa-jasanya di masa perjuangan pergerakan nasional kemerdekaan Indonesia, antara lain sebagai salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20. Perjuangan yang dilakukannya dituangkannya dalam bentuk tulisan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda karena ia memang dikenal sebagai seorang wartawan dan aktivis politik, serta penggagas nama “Nusantara” sebagai nama untuk Hindia Belanda yang merdeka.

Perjuangannya dalam merintis organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia juga berawal dari rumahnya yang terletak di dekat Stovia dan menjadi tempat berkumpul para tokoh perintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo, untuk belajar dan berdiskusi. Budi Utomo (BO) yang merupakan organisasi yang diklaim sebagai organisasi nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO di Yogyakarta.

Jasanya dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal. Di setiap kota besar dapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi. Jalan Lembang di Bandung utara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi.  Di Belanda, namanya juga dihormati sebagai orang yang berjasa dalam meluruskan arah kolonialisme (meskipun hampir sepanjang hidupnya ia berseberangan posisi politik dengan pemerintah kolonial Belanda, bahkan dituduh “pengkhianat”).