Perbedaan Drama dan Cerpen

ASTALOG.COM – Nenek moyang kita sudah mengenal drama sejak ribuan tahun yang lalu. Bukti tertulis mengungkapkan bahwa drama sudah ada sejak abad ke-5 SM, hal ini didasarkan pada temuan naskah drama kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.

Sejarah lahirnya drama di Indonesia tidak jauh berbeda. Keberadaan drama di negara kita juga diawali dengan adanya upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh para pemuka agama. Intinya, mereka mengucapkan mantra dan doa.

Sementara cerita pendek, atau yang biasa disingkat dengan cerpen, bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer.

Seperti dilansir dari Wikipedia, kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama. Adapun irama tersebut berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Struktur dan Jenis Drama

Drama adalah alat yang unik untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan perasaan manusia. Drama merupakan bentuk penting dari perilaku dalam semua budaya, aktivitas manusia yang mendasar. Drama adalah keterampilan diskrit dalam dirinya sendiri (akting, teater, keterampilan halus), dan oleh karena itu ditawarkan sebagai ‘subjek’ di beberapa sekolah menengah.

Drama membantu dalam pengembangan:
– Penggunaan imajinasi
– Kekuatan ekspresi diri yang kreatif
– Pengambilan keputusan dan keterampilan pemecahan masalah
– Pemahaman tentang diri dan dunia
– Kepercayaan diri

Ada beberapa jenis drama sesuai dengan dasar yang digunakannya. Dalam pembagian jenis drama, biasanya digunakan tiga dasar, yaitu: berdasarkan penyajian lakon drama, berdasarkan sarana, dan berdasarkan keberadaan naskah drama. Berdasarkan penyajian lakon, drama dapat dibedakan menjadi delapan jenis, yaitu:

1. Tragedi: drama yang penuh dengan kesedihan.
2. Komedi: drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan.
3. Tragekomedi: perpaduan antara drama tragedi dan komedi.
4. Opera: drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik.
5. Melodrama: drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik.
6. Farce: drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan.
7. Tablo: jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
8. Sendratari: gabungan antara seni drama dan seni tari.

Berdasarkan sarana pementasannya, jenis drama dibagi antara lain:
– Drama Panggung: drama yang dimainkan oleh para aktor dipanggung.
– Drama Radio: drama radio tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi hanya bisa didengarkan oleh penikmat.
– Drama Televisi: hampir sama dengan drama panggung, hanya bedanya drama televisi tak dapat diraba.
– Drama Film: drama film menggunakan layar lebar dan biasanya dipertunjukkan di bioskop.
– Drama Wayang: drama yang diiringi pegelaran wayang.
– Drama Boneka: para tokoh drama digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh beberapa orang.

Terakhir, pembagian drama berdasarkan ada atau tidaknya naskah drama. diantaranya:
– Drama Tradisional: tontonan drama yang tidak menggunakan naskah.
– Drama Modern: tontonan drama menggunakan naskah.

Unsur-unsur drama sendiri meliputi tema, alur, tokoh drama, watak, latar atau setting, dan amanat drama.

Ciri dan Struktur Cerpen

Cerita pendek memperlihatkan cirri bahasa yang serba pendek, entah itu peristiwa yang diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku, dan jumlah kata yang digunakan (Priyanti, 2013). Adapun ciri-ciri dari suatu cerpen adalah:

– Bentuk tulisan singkat, padat, dan lebih pendek daripada novel.
– Tulisan kurang dari 10.000 kata.
– Sumber cerita dari kehidupan sehari-hari, baik pengalaman sendiri maupun orang lain.
– Tidak melukiskan seluruh kehidupan pelakunya karena mengangkat masalah tunggal atau sarinya saja.
– Habis dibaca sekali duduk dan hanya mengisahkan sesuatu yang berarti bagi pelakunya.
– Tokoh-tokohnya dilukiskan mengalami konflik sampai pada penyelesaiannya.
– Penggunaan kata-katanya sangat ekonomis dan mudah dikenal masyarakat.
– Meninggalkan kesan mendalam dan efek pada perasaan pembaca.
– Menceritakan satu kejadian dari terjadinya perkembangan jiwa dan krisis, tetapi tidak sampai menimbulkan perubahan nasib.
– Beralur tunggal dan lurus.
– Penokohannya sangat sederhana, singkat, dan tidak mendalam.

Adapun struktur cerpen secara garis besar adalah sebagai berikut:

1. Tahapan abstrak merupakan ringkasan atau inti cerita. Abstrak pada sebuah teks cerita pendek bersifat opsional. Artinya sebuah teks cerpen bisa saja tidak melalui tahapan ini.
2. Tahapan orientasi merupakan struktur yang berisi pengenalan tokoh dan latar cerita. Pengenalan tokoh berkaitan dengan pengenalan perlaku (terutama pelaku utama) yang meliputi apa yang dialami. Pengenalan latar berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen. Latar digunakan pengarang untuk menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca. Dengan kata lain, latar merupakan sarana pengekspresian watak, baik secara fisik maupun psikis.
3. Komplikasi muncul diakibatkan oleh munculnya konflik. Pada tahap ini ditandai dengan reaksi pelaku dalam cerpen terhadap konflik. tahapan penjalinan konflik dimulai dari munculnya konflik, peningkatan konflik, hingga konflik memuncak (klimaks).
4. Tahap evaluasi ditandai dengan adanya konflik yang mulai diarahkan pada pemecahannya. Setelah konflik mencapai puncaknya tokoh (penulis) akan mengupayakan solusi bagi pemecahan konflik sehingga mulai tampak penyelesaiannya.
5. Resolusi adalah suatu keadaan di mana konflik terpecahkan dan menemukan penyelesaiannya. Pada tahapan ini ditandai dengan upaya pengarang yang mengungkakan solusi dari berbagai konflik yang dialami tokoh.
6. Koda adalah bagian akhir sebuah cerita pendek yang diberikan oleh pengarang yang menyuarakan pesan moral sebagai tanggapan terhadap konflik yang terjadi. Ada juga yang menyebut koda dengan istilah reorientasi. Koda merupakan nilai-nilai atau pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca dari sebuah teks. Sama halnya dengan tahapan abstrak, koda ini bersifat opsional.

Ciri bahasa teks cerpen ialah menggunakan penggambaran waktu lampau, mencantumkan penyebutan tokoh (nama, kata ganti, julukan, dan sebutan); menggunakan kata-kata yang menggambarkan latar; memuat kata-kata yang mendiskripsikan pelaku, penampilan fisik, dan kepribadiannya; memuat kata-kata yang merujuk pada peristiwa yang dialami pelaku; dan menunjukan sudut pandang pengarang.