Sebutkan 3 Contoh Tindakan Penjajah Jepang Yang Melakukan Pemerasan Sumber Tenaga Manusia Indonesia

Awal mula tujuan Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik. Jepang merupakan negara industri yang sangat maju dan sangat besar. Dilihat dari segi ekonomi, Jepang sangat menginginkan bahan baku industri yang tersedia banyak di Indonesia untuk kepentingan pengembangan aktivitas ekonominya.

Di samping sebagai penyedia bahan baku, Indonesia juga merupakan daerah pemasaran industri yang strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan tentara Sekutu. Bahkan dampaknya hingga sekarang, Indonesia menjadi konsumen besar bagi Jepang.

Selain itu Jepang harus menggalang kekuatan pasukannya, dan mencari dukungan dari bangsa-bangsa Asia.

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia, Jepang melakukan pembagian tiga daerah pemerintahan militer di Indonesia, yakni:
1. Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusatnya di Bukittinggi.
2. Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusatnya di Jakarta.
3. Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku dengan pusatnya di Makassar.

Jepang berusaha menarik simpati rakyat Indonesia dengan berbagai cara. Jepang melakukan propaganda dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) untuk menarik simpati rakyat Indonesia.

Selain itu Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan ibadah, mengibarkan bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa Indonesia, dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”.

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang hanyalah janji manis saja. Walaupun hanya 3,5 tahun menjajah Indonesia, namun Jepang lebih sangat kejam dan keji daripada Belanda.

Beberapa kekejaman yang dilakukan tentara jepang dengan melakukan pemerasan sumber tenaga manusia pada rakyat Indonesia adalah:

1. Menjadi Romusha.
Romusha adalah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani, dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha. Jumlah orang-orang yang menjadi romusha tidak diketahui pasti – perkiraan yang ada bervariasi dari 4 hingga 10 juta. Banyak romusha meninggal karena kekurangan makan, kelelahan, malaria dan terjangkit penyakit karena pihak jepang tidak memperhatikan kondisi dan kesehatan dari pada romusha.  Pada umumnya mereka didapat di desa-desa, terdiri dari pemuda, petani dan pengangguran.

Romusha diperlukan untuk membangun prasarana perang seperti kubu-kubu pertahanan, gudang senjata, jalan raya dan lapangan udara. Selain itu, mereka diperkejakan di pabrik-pabrik seperti pabrik garam dan pabrik kayu di Surabaya dan di Sumatera Selatan, mereka diperkejakan di pabrik pembuatan dinamit di Talangbetutu atau dipertambangan batu bara serta penyulingan minyak.

Mereka diperkerjakan pula dipelabuhan- pelabuhan antara lain memuat dan membongkar barang-barang dari kapal-kapal. Bahkan di desa Gendeng, dekat Badug, Yohyakarta misalnya romusha menanam sayuran dan palawija guna memenuhi kebutuhan makan Jepang dan romusha
itu sendiri.

2. Pembentukkan Organisasi Kemiliteran.
Beberapa organisasi kemiliteran yang dibentuk oleh jepang antara lain, PETA, Heiho, Seinendan, Keibodan. Tugasnya dalah untuk membantu tentara jepang dalam berperang.

3. Jugun Ianfu.
Jugun Ianfu-adalah istilah Jepang terhadap wanita penghibur tentara kekaisaran Jepang di masa perang Asia-Pasifik (1931-1945). Jugun Ianfu, lebih dekat dengan istilah ‘Budak Seks’. pada masa itu, lebih dari 200-400 ribu perempuan Asia berusia 13-25 dipaksa melayani ‘nafsu binatang’ para tentara Jepang.

Para perempuan Indonesia biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan (diambil begitu saja di jalan atau bahkan di rumah mereka), diiming-imingi untuk sekolah ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara (seperti yang terjadi pada ikon perjuangan jugun ianfu asal Indonesia, Ibu Mardiyem).

Sampai saat ini, para mantan jugun ianfu masih merasakan trauma psikologis dan gangguan fungsi fisik akibat pengalaman pahit yang pernah mereka alami. Belum lagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi dengan benar, justru menganggap mereka sebagai wanita penghibur (tanpa paksaan).