Konferensi New Delhi

ASTALOG.COM – Indonesia yang diserang oleh penjajah tanpa hentinya, membuat rakyat Indonesia terpaksa harus melakukan perlawanan. Seperti yang kita ketahui, sudah berbagai upaya dilakukan Indonesia dalam upaya untuk mengusi penjajah dari tanah air kita seperti menggunakan perjuangan bersenjata atau para pemimpin bangsa melakukan perjuangan diplomasi.

Untuk perjuangan bersenjata, pemerintah Indonesia mengirimkan pasukan ke Indonesia dari berbagai penjuru. Dari Tegal, Indonesia mengirim kapal perang Semeru di bawah pimpinan Mulyadi dan kapal perang Sindoro di bawah pimpinan Ibrahim Saleh dan Yos Sudarso. Kapal-kapal perang Indonesia tersebut bertolak menuju Maluku dan berhasil kembali ke Jawa, akan tetapi Yos Sudarso beserta awaknya tenggelam bersama kapalnya di perairan Maluku sebagai pahlawan bangsa.

Di Bali, pemerintah Indonesia mengirim bala bantuan pasukan dari Banyuwangi untuk membantu Resimen Ciung Wanara yang dipimpin oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai. Pada bulan Desember 1946, rakyat Sulawesi bergerak mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda. Pada pertempuran ini, Kapten Westerling secara kejam menindas rakyat sehingga menimbulkan korban jiwa sekitar 40.000 rakysat Sulawesi. Perlawanan heroik yang terjadi di berbagai daerah tidak juga memadamkan ketamakan dan keinginan Belanda untuk menguasai Indonesia. Belanda pun mengadakan aksi polisionil dalam usaha mereka untuk membersihkan daerahnya dari kaum ekstremis.

Karena jalan perjuangan bersenjata tidak menunjukkan kemajuan, akhirnya para pemimpin melakukan perjuangan diplomasi dengan meminta dukungan dari beberapa negara salah satunya India.

India yang dikenal sebagai salah satu negara bekas jajahan, mendukung penuh bangsa Belanda untuk segera keluar dari Indonesia. Salah satu wujud dukungan yang dilakukan India adalah dengan menyelenggarakan Konferensi Asia di New Delhi

Konferensi Asia di New Delhi
Konferensi Asia di New Delhi di selenggarakan pada tanggal 20 – 25 Januari 1949. Dalam konferensi tersebut hadir 19 negara termasuk utusan dari Mesir, Italia, dan New Zealand. Wakil-wakil dari Indonesia antara lain Mr. Utoyo Ramelan, Sumitro Djoyohadikusumo, H. Rosyidi, dan lain-lain.

Hasil konferensi meliputi:
a. pengembalian Pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta,
b. pembentukan pemerintahan ad interim sebelum tanggal 15 Maret 1949,
c. penarikan tentara Belanda dari seluruh wilayah Indonesia, dan
d. penyerahan kedaulatan kepada Pemerintah Indonesia Serikat paling lambat tanggal 1 Januari 1950.

Menanggapi rekomendasi Konferensi New Delhi, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sebuah resolusi tanggal 28 Januari 1949 yang isinya:
a. penghentian operasi militer dan gerilya,
b. pembebasan tahanan politik Indonesia oleh Belanda,
c. pemerintah RI kembali ke Yogyakarta, dan
d. akan diadakan perundingan secepatnya.

Dampak Konferensi Asia di New Delhi sangat jelas. Indonesia semakin mendapat dukungan internasional dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda. Dalam menjalankan Ksonferensi New Delhi, ada beberapa dukungan Negara-negara dalam Konferensi Asia di New Delhi, antara lain

a. Selandia Baru (New Zealand)
Selandia Baru termasuk negara yang mendukung diadakannya Konferensi Asia di New Delhi. Meskipun tidak memiliki kedekatan sejarah seperti India dan Indonesia, Selandia Baru juga menaruh simpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Pemerintah Selandia Baru juga menyatakan kekagumannya kepada negara-negara yang ikut dalam konferensi tersebut. Bersatunya negara-negara di Asia untuk ikut serta menyelesaikan konflik di Indonesia membuktikan bahwa bangsa-bangsa di Asia sudah tidak dapat dipandang sebelah mata. Bangsa- bangsa di Asia akan melakukan segala cara untuk melawan semua bentuk imperialisme bangsa asing yang bermaksud menjajah. Karena itu Pemerintah Selandia Baru menganggap bahwa hubungan baik antara barat dan timur harus dibangun.

b. Thailand
Seperti juga Selandia Baru, Pemerintah Thailand juga menyatakan dukungannya untuk konferensi di New Delhi. Dalam harian Pelita Rakjat tanggal 08 Januari 1949 disebutkan bahwa awalnya Pemerintah Thailand tidak akan mengirimkan wakil ke konferensi tersebut. Keterangan ini kemudian dibatalkan beberapa hari kemudian. Dalam keterangan terbaru, Pemerintah Thailand akan mempertimbangkan undangan dari Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan akan mengirimkan peninjau ke konferensi tersebut.

c. Pakistan
Negara Pakistan termasuk negara, yang sangat mendukung diselenggarakannya Konferensi Asia di New Delhi. Ketika Perdana Menteri India Pandit Nehru mengirimkan undangan kepada Pemerintah Pakistan, pemerintah negara tersebut langsung merespon baik undangan itu. Bentuk dukungan terhadap konferensi Asia dibuktikan dengan dikirimnya wakil ke konferensi tersebut. Pemerintah Pakistan berjanji bahwa pada tanggal 19 Januari 1949, wakil dari Pakistan akan tiba di New Delhi untuk mengikuti konferensi tersebut.

d. Burma (Myanmar)
Sejak awal Pemerintah Myanmar yang diwakili perdana menteri bernama U Nu termasuk negara yang turut menggagas diselenggarakannya Konferensi Asia untuk membahas masalah yang sedang terjadi di Indonesia. pemerintah Myanmar juga sangat menyesalkan segala bentuk agresi yang telah dilakukan Belanda kepada Republik Indonesia. Penderitaan yang dialami rakyat Indonesia juga dirasakan oleh rakyat Myanmar dan segenap bangsa Asia lainnya. Karena rasa simpati itu, Perdana Menteri U Nu bersama dengan Perdana Menteri India Pandhit Nehru bersama-sama merencanakan membantu Republik Indonesia lewat konferensi. Diselenggarakannya konferensi Asia tersebut, Pemerintah Myanmar berharap akan ada tindakan yang lebih tegas dari Dewan Keamanan PBB sehingga masalah antara Indonesia dan Belanda dapat segera diselesaikan.

e. Negara-negara Arab
Sejak awal negara-negara Arab sangat mendukung perjuangan Republik Indonesia. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya dukungan tersebut tidak terlepas dari persamaan agama. Mayaoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam mendorong negara-negara Arab untuk ikut serta membela kemerdekaan Indonesia. Bahkan Mesir tercatat sebagai negara pertama yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia secara de jure

f. Philipina
Pemerintah Philipina juga sangat bersimpati dan mendukung perjuangan Republik Indonesia. Semua aksi sepihak Belanda yang dilakukan di daerah republik merupakan pelanggaran, baik terhadap perjanjian Renville maupun pelanggaran terhadap piagam PBB. Melihat Indonesia sedang mengalami kesulitan sudah merupakan kewajiban dari negara-negara Asia lainnya.