Pendiri Dinasti Al Ayyubiyah

ASTALOG.COM – Dinasti Al Ayyubiyyah adalah dinasti Muslim dari bangsa Kurdi yang menguasai Mesir, Suriah, Yaman (kecuali Pegunungan Utara), Diyar Bakr, Makkah, Hijaz dan Irak utara pada abad ke-12 dan ke-13. Dinasti ini juga dikenal sebagai Ayyubid, Ayoubites, Ayyoubites, Ayoubides, atau Ayyoubides.

Salahuddin Al-Ayyubi Sang Pendiri Dinasti Al Ayyubiyah

Dinasti Al Ayubiyyah didirikan oleh Salahuddin Al-Ayubbi yang bersama Shirkuh telah berhasil menaklukan Mesir untuk Raja Zengiyyah Nuruddin dari Damaskus pada tahun 1169.

Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.

Salahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak pada tahun 532 H atau tahun 1137, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon pada tahun 534 H atau tahun 1139.

Ayah Salahuddin, yaitu Najmuddin Ayyub diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah, Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Salahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Salahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama 10 tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Salahuddin diangkat menjadi seorang wazir atau konselor.

Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisinya awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya.

Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal di bulan September 1171, Salahuddin mendapat pengumuman Imam dengan nama julukan Al-Mustadi.

Sultan Nuruddin memerintahkan Salahuddin untuk mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H atau tahun 1171. Setelah Khalifah Fathimiyah terakhir, yaitu Al-‘Adid, meninggal maka kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Salahuddin Al-Ayyubi.

Ketika Nuruddin meninggal pada tahun 1174, Salahuddin menyatakan perang terhadap anak lelaki muda Nuruddin, yaitu As-Salih Ismail, dan menguasai Damaskus. Ismail melarikan diri ke Aleppo, dimana ia terus berjuang melawan Salahuddin hingga terbunuh pada tahun 1181.

Dengan kematian Nuruddin di tahun 1174, Salahuddin akhirnya menerima gelar Sultan di Mesir pada tahun 1176 dan berhasil memperluas wilayahnya. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Al Ayyubiyah dan telah berhasil mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.

Dia juga memperlebar wilayah kekuasaannya hingga ke sebelah barat di maghreb juga hingga ke Mousul, Irak bagian utara, dan ketika pamannya pergi ke wilayah sungai Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkannya ke Laut Merah untuk menaklukkan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Setelah itu, Salahuddin mengambil alih kawasan pedalaman hingga seluruh Suriah, dan menakluki Jazirah di Irak Utara. Pencapaian terbesarnya adalah mengalahkan tentara salib dalam Pertempuran Hattin dan penaklukan Baitulmuqaddis pada tahun 1187. Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib ke-2 terhadap Mesir.

Salahuddin meninggal pada tahun 1193 setelah menandatangani perjanjian dengan Richard I dari Inggris yang memberi kawasan pesisir dari Ashkelon hingga Antiokhia kepada tentara salib. Setelah kematian Salahuddin, anak lelakinya berebut pembagian kekaisaran, hingga pada tahun 1200 adik Salahuddin, yaitu Al-Adil, berhasil mengambil alih atas seluruh kekaisaran.