Bagaimanakah Proses Terbentuknya Gunung Merapi?

ASTALOG.COM – Gunung hampir terdapat di seluruh daratan di dunia dengan nama yang berbeda. Meskipun demikian, gunung yang Anda lihat tidak semua berjenis gunung merapi atau gunung api. Gunung api adalah gunung yang terbentuk akibat material hasil erupsi menumpuk di sekitar pusat erupsi atau gunung yang terbentuk dari erupsi magma.

Gunung api tidak dijumpai di semua tempat. Gunung api hanya terdapat pada tempat-tempat tertentu, yaitu pada jalur punggungan tengah samudera, pada jalur pertemuan dua buah lempeng kerak bumi, dan pada titik-titik panas di muka bumi tempat keluarnya magma, di benua maupun di samudera (hot spot). Sebagian besar gunung api yang aktif di dunia berada di pertemuan lempeng tektonik dan muncul di daerah-daerah yang berada di dalam di Larutan Pasifik yang disebut “cincin gunung api” (ring of fire).

Pengertian Gunung Merapi

Gunung berapi adalah gunung yang terbentuk jika magma dari perut bumi naik ke permukaan

Jenis Gunung Merapi

Jenis-jenis gunung api dibagi berdasarkan aktivitas, proses terjadi, dan tipe letusan.

Berdasarkan aktivitasnya, jenis gunung api antara lain:
1. Gunung api aktif, yaitu gunung api yang masih bekerja dan mengeluarkan asap, gempa, dan letusan.
2. Gunung api mati, yaitu gunung api yang tidak memiliki kegiatan erupsi sejak tahun 1600.
3. Gunung api istirahat, yaitu gunung api yang meletus sewaktu-waktu, kemudian beristirahat. Contoh, 4. Gunung Ceremai dan Gunung Kelud.

Jenis gunung api berdasarkan bentuk dan proses terjadinya, antara lain:

1. Gunung api Maar, berbentuk seperti danau kawah. Terjadi karena letusan besar yang kemudian membentuk lubang besar di bagian puncak. Bahan-bahan yang dikeluarkan berupa benda padat/effiata. Contoh, Gunung Lamongan di Jawa Timur.
2. Gunung api kerucut/srato, yaitu jenis gunung api yang paling banyak dijumpai. Berbentuk seperti kerucut dengan lapisan lava dan abu yang berlapis-lapis. Terjadi karena letusan dan lelehan batuan panas dan cair. Lelehan yang sering terjadi menyebabkan lereng gunung berlapis-lapis sehingga disebut strato. Sebagian besar gunung api di Indonesia masuk dalam kategori gunung api kerucut. Contoh, Gunung Merapi.
3. Gunung api perisai/tameng, berbentuk seperti perisai, terjadi karena lelehan yang keluar dengan tekanan rendah, sehingga nyaris tidak ada letusan dan membentuk lereng yang sangat landai dengan kemiringan 1 sampai 10 derajat. Contoh gunung api perisai/tameng antara lain Gunung Maona Loa Hawaii di Amerika Serikat.

Jenis gunung api berdasarkan tipe letusan, antara lain:
1. Hawaian, memiliki tipe letusan dengan pancuran lava ke udara mencapai ketinggian 200 meter, mudah bergerak dan mengalir secara bebas.
2. Strombolian, memiliki ciri letusan mencapai 500 meter dengan pijaran seperti kembang api.
Merapi, memiliki tipe letusan dengan ciri guguran lava pijar saat kubah lava runtuh.
3. Volcanian, memiliki ciri letusan yang membentuk volcano disertai awan panas yang padat.
Pelean, gunung api dengan tipe letusan yang paling merusak karena magma yang meletus dari bagian lereng gunung yang lemah.
4. St. Vincent, gunung api dengan tipe letusan yang disertai longsoran besar dan awan panas yang bisa menutupi area yang luas.
5. Sursteyan, gunung api dengan tipe letusan dengan vulkanian tetapi kekuatan letusannya lebih besar.
Plinian, gunung api dengan tipe letusan eksplosif yang sangat kuat dengan ketinggian letusan yang mencapai >500 km.

Proses Pembentukan Gunung Merapi

Gunung berapi terbentuk hasil daripada batu-batan cair yang terkumpul di bawah kerak bumi. Keadaan suhu yang sangat panas di bawah kerak bumi menyebabkan batu-batan menjadi cair. Batu-batan cair ini dikenali sebagai magma.

Kebanyakan magma terbentuk kira-kira 80km hingga 160km di bawah permukaan bumi. Magma yang panas akan naik ke permukaan bumi kerana tekanan dan kurang tumpat daripada batu disekitarnya. Magma mengalir keluar ke permukaan bumi melalui rekahan atau lohong gunung berapi dikenali sebagai lava.
Kebanyakan gunung berapi terbentuk di kawasan sempadan plat. Ahli sains telah mengemukakan teori plat tektonik untuk menjelaskan proses pembentukan gunung berapi.

Gunung berapi boleh terbentuk apabila berlakunya pertembungan dua plat. Pertembungan ini menyebebkan salah satu plat terjunam ke bawah plat yang lain. Zon terbenam ini akan menjadi cair kerana suhu yang sangat panas di bawah kerak bumi. Bahagian cair ini menambah magma di mantel dan seterusnya mengalir keluar ke permukaan bumi menjadi gunung berapi.

Gunung berapi juga terdapat di zon permatang tengah lautan. Perebakan dasar laut berlaku apabila magma naik menolak litosfera ke arah yang bertentangan. Lava ini akan membentuk dasar laut sebagai permatang tengah laut. Gunung berapi di Iceland merupakan jenis pembentukan ini.

Sebagian gunung berapi terbentuk di tengah plat, jauh dari sempadan plat seperti Kepulauan Hawaii. Ahli sains menjelaskan bahawa tonggak batuan mantel yang dipanaskan dan naik secara perlahan ke permukaan bumi. Kenaikan magma ke permukaan bumi dianggarkan 13 cm hingga 15 cm setahun. Apabila kepulan magma naik sampai ke permukaan bumi, gunung berapi akan terbentuk. Proses pembentukan gunung berapi ini dipanggil titik panas (hotspots).