Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Perdagangan Asia – Eropa Sampai Abad 18M

ASTALOG.COM – Bangsa-bangsa di Asia dan di Eropa telah sejak lama mengembangkan kegiatan perdagangan dan pelayaran. Kegiatan tersebut didasari oleh adanya perasaan saling membutuhkan. Masing-masing bangsa di Asia dan Eropa ini sendiri memiliki perbedaan sumber daya alam dan tingkat kemampuan penduduk. Dari rasa saling membutuhkan itu terciptalah jaringan hubungan antar Asia dan Eropa, baik melalui jalur darat maupun jalur laut.

Latar Belakang 

Sejak di awal Masehi telah tumbuh hubungan kegiatan perdagangan di Benua Asia, khususnya hubungan antara Cina dan India. Jalan yang ditempuh agar sampai ke tempat tujuan ialah jalan darat atau jalan laut. Jalan darat paling banyak digunakan sebagai jalur perdagangan. Jalur perdagangan darat biasa disebut jalan sutera. Hal ini disebabkan para pedagang yang melewati jalan darat banyak yang membawa kain sutera.

Dalam catatan perjalanannya yang dibukukan dengan judul Imago Mundi (Anggapan tentang Dunia), Marco Polo melukiskan bahwa pada masa pemerintahan Kubilai Khan (1260-1294 M), jalan darat melalui Asia Tengah keadaannya aman. Para pedagang dari India, Persia, dan negeri-negeri Asia Barat melewati jalan darat di Asia Tengah ini. Diceritakan pula, bahwa kota-kota yang dilaluinya keadaannya makmur. Penduduk telah menganut beberapa agama ataupun kepercayaan. Ada kebiasaan menyembah berhala, ada penganut Islam, ada juga pengikut Kristen dari aliran Nestorian. Dengan adanya lalu lintas perdagangan, timbullah percampuran agama atau kepercayaan dari ras dari bangsa-bangsa tersebut.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Perdagangan Asia – Eropa Sampai Abad 18M

Perdagangan dan pelayaran merupakan kegiatan yang tak terpisahkan satu sama lain di dalam hubungan antarpulau maupun antarnegara sebelum berkembangnya teknologi perhubungan udara, darat, dan laut. Hubungan antarbangsa dalam bidang perdagangan dan pelayaran tersebut telah berlangsung berabad-abad, termasuk antara Benua Asia dan Benua Eropa sampai abad ke-18M.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya perdagangan dan pelayaran antara Asia-Eropa sampai abad ke-18M adalah sebagai berikut:

  1. Perbedaan sumber daya alam. Karena perbedaan sumber daya alam itu, manusia kemudian berhubungan dengan manusia lain atas dasar saling membutuhkan, dan akhirnya timbul ketergantungan satu sama lain.
  2. Perbedaan sumber daya manusia. Adanya perbedaan sumber daya alam ternyata diikuti pula oleh perbedaan sumber daya manusianya. Suatu bangsa yang tinggal di daerah yang kurang subur, penduduknya akan tertempa untuk berpikir menaklukkan alam. Karena itulah setiap bangsa kemudian berbeda kemampuan dalam mengembangkan sumber daya alamnya. Bangsa yang berhasil menguasai dan mengolah alam, akhirnya akan banyak dikunjungi oleh bangsa lain yang membutuhkannya.
  3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk dapat berhubungan dengan bangsa lain di tempat yang jauh, baik melalui darat maupun laut, perlu ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Penemuan kompas, sistem navigasi, jenis dan bentuk kapal laut, dan mesiu sungguh amat membantu dalam kegiatan pelayaran.
  4. Pengaruh angin dan astronomi. Para petualang, saudagar-saudagar, dan penjelajah samudera yang melakukan hubungan perdagangan melalui jalur laut dituntut memiliki pengetahuan tentang angin. Jalur laut yang menghubungkan Asia dan Eropa sebagian besar berada di sekitar garis khatulistiwa. Di garis khayal khatulistiwa bertiup angin muson yang selalu berganti arah setiap enam bulan sekali. Dengan memanfaatkan pengetahuan angin muson, mereka dapat menentukan dengan tepat kapan berangkat dan pulang dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan.
  5. Peranan pedagang beranting. Bangsa Arab, Persia, dan Gujarat amat berperan sebagai pedagang beranting di sekitar Asia. Bangsa Venisia, Mesir, Romawi, dan Viking merupakan pelaut-pelaut tangguh di sekitar Laut Tengah atau Eropa. Merekalah yang turut meramaikan kegiatan pelayaran dan perdagangan di Asia-Eropa
  6. Jatuhnya Konstantinopel dan Penutupan Bandar Lisabon di Portugis. Sejak jatuhnya bandar dagang Konstantinopel ke tangan Turki Usmani tahun 1453 M dan tertutupnya bandar Lisabon bagi Belanda, bangsa-bangsa Eropa berlalu lalang ke Asia mencoba mencari barang-barang yang dibutuhkannya, terutama rempah-rempah. Kehadiran mereka di bandar-bandar Asia telah menghidupkan suasana aktivitas perdagangan dan pelayaran. Dengan menguasai bandar-bandar dagang Asia, bangsa-bangsa Eropa memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat dan memperkaya negerinya. Akan tetapi, bangsa-bangsa Asia menjadi korban pemerahan sumber daya alamnya akibat kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Eropa tersebut.