Perbedaan Antara Epigeal dan Hipogeal

ASTALOG.COM – Suatu tumbuhan khususnya tumbuhan berbiji mengalami suatu proses perkecambahan. Perkecambahan ini merupakan suatu tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, dimana  embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkannya berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.

Bagaimana Proses Berlangsungnya Perkecambahan pada Tumbuhan?

  1. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti “minum”).
  2. Biji akan menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara, dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji melunak. Proses ini murni sebagai suatu proses fisik.
  3. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat.
  4. Perubahan pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah.

Ada 2 Tipe Perkecambahan, Epigeal dan Hipogeal. Apa Perbedaan Antara Keduanya?

Untuk menjawab inti dari pembahasan ini, ada baiknya kita menyimak tentang terlebih dahulu tentang masing-masing dari tipe perkecambahan tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan, dikenal 2 tipe perkecambahan, yaitu epigeal dan hipogeal.

Epigeal adalah pertumbuhan memanjang dari hipokotil yang mengakibatkan kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau dan jarak. Pengetahuan tentang hal ini dipakai oleh para ahli agronomi untuk memperkirakan kedalaman tanam.

Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung.

Berdasarkan pembahasan singkat di atas, bisa dikatakan bahwa perkecambahan epigeal adalah perkecambahan dengan kotiledon (keping biji) yang terangkat ke atas permukaan tanah. Tipe perkecambahan ini umumnya terjadi pada tumbuhan dikotil. Sedangkan perkecambahan hipogeal adalah perkecambahan dengan kotiledon (keping biji) yang tetap berada di dalam tanahTipe perkecambahan ini umumnya terjadi pada tumbuhan monokotil.

Makanan untuk pertumbuhan embrio itu diperoleh dari cadangan makanan karena belum terbentuknya klorofil yang diperlukan dalam fotosintesis. Pada tumbuhan dikotil, makanan diperoleh dari kotiledon, sedangkan pada tumbuhan monokotil, makanan diperoleh dari endosperm.

Perkecambahan Epigeal dan Hipogeal

Proses Perkecambahan Epigeal

  1. Awalnya muncul akar utama dari biji suatu tumbuhan dikotil.
  2. Selanjutnya dari akar utama tersebut  bermunculan cabang-cabang akar yang semakin memanjang untuk mendapatkan daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya.
  3. Lalu hipokotil dari calon tumbuhan tersebut akan semakin memanjang yang menyebabkan plumula beserta kotiledon tumbuhan menjadi muncul kepermukaan tanah. Proses tersebut terjadi secara perlahan-lahan.
  4. Kemudian seiring berjalannya waktu, kotiledon yang melindungi plumula akan terlepas dan jatuh ketanah dan kemudian terbentuklah tumbuhan baru yang kokoh dengan banyak daun berwarna hijau cerah.

Proses Perkecambahan Hipogeal

  1. Awalnya muncul akar utama dari suatu biji tumbuhan monokotil.
  2. Akar utama tersebut terus tumbuh memanjang mencari daerah yang kaya zat hara untuk menopang pertumbuhannya.
  3. Kemudian plumulanya tumbuh memanjang sehingga mencapai permukaan tanah sementara dikotilnya tetap berada dibawah tanah (tidak ikut naik keatas permukaan tanah bersama plumula).
  4. Setelah plumula naik ke atas permukaan tanah, dari akar utama keluarlah cabang-cabang akar yang amat banyak yang kemudian bergerak ke daerah yang memiliki sumber makanan yang diperlukan bagi pertumbuhannya, dengan begitu tumbuhan dapat tumbuh dengan semakin kokoh.