Kejayaan Sriwijaya Sebagai Kerajaan Bercorak Budha di Indonesia

ASTALOG.COM – Agama Budha yang berasal dari Nepal, India merupakan salah satu agama tertua yang ada di dunia. Agama ini telah ada sejak abad ke-6 SM dan tetap bertahan sampai sekarang. Agama Budha yang masuk ke nusantara juga telah menjadi salah satu agama tertua yang ada di Indonesia saat ini.

Menurut catatan sejarah, agama Budha masuk di Indonesia hampir bersamaan dengan masuknya agama Hindu yaitu sekitar abad ke-5 M. Jika dilihat dari beberapa peninggalan prasasti, agama ini diduga pertama kali dibawa oleh seorang pengelana dari China bernama Fa Hsien.

Agama ini kemudian berkembang dengan pesat di nusantara karena adanya dukungan penuh dari pihak kerajaan, dalam hal ini Kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan bercorak Budha terbesar di Indonesia.

Nama Sriwijaya diambil dari bahasa Sanskerta, yaitu ‘Sri’ yang berarti cahaya atau gemilang, dan ‘Wijaya’ yang berarti kemenangan atau kejayaan. Jadi makna dari Sriwijaya adalah kemenangan yang gemilang.

Berdasarkan catatan dari seorang pendeta Tiongkok bernama I-Tsing yang tertulis pada prasasti Kedukan Bukit, Palembang yang berasal dari tahun 682 M, diketahui bahwa kerajaan Sriwijaya atau Srivijaya telah berdiri sekitar abad ke-7 M. Dalam catatannya ia menuliskan bahwa ia telah mengunjungi Sriwijaya di tahun 671 M dan menetap selama 6 bulan di sana.

Pada awalnya kerajaan ini terletak di Muara Takus lalu pindah ke Jambi, dan pada akhirnya dipindahkan lagi ke Palembang tepatnya di Muara Sungai Musi.

Sriwijaya yang menjadi pusat pengajaran agama Budha Vajrayana, banyak dikunjungi oleh para peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Pendeta I-Tsing juga telah menuliskan banyak catatan dalam rangkaian perjalanannya mengunjungi Sriwijaya sebelum bertolak ke Nalanda, India.

Dalam salah satu catatannya, dituliskan bahwa Sriwijaya telah menjadi rumah bagi sarjana Budha dengan terdapatnya 1000 pendeta yang belajar agama Budha pada Sakyakirti, seorang pendeta Budha terkenal di Sriwijaya yang berasal dari India. Selain itu, ajaran Budha aliran Hinayana dan Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya yang banyak dipengaruhi oleh budaya India telah berperan dalam penyebar luasan agama Budha. Hal ini dibuktikan dengan membangun tempat pemujaan agama Budha di Ligor, Thailand.

Kerajaan Sriwijaya mencapai masa keemasan ketika diperintah oleh Balaputradewa yang merupakan putra dari Raja ke-4 Mataram Kuno, Samaragrawira. Balaputradewa berhasil menjadi raja Kerajaan Sriwijaya bukan karena adanya warisan tahta, tetapi karena ia adalah anggota wangsa Syailendra dimana pada saat itu pulau Sumatera telah menjadi daerah kekuasaan Wangsa Syailendra.

Selain sebagai kerajaan Budha terbesar, Sriwijaya mengalami perkembangan yang pesat karena posisinya yang strategis. Pada masa itu, wilayah kerajaan Sriwijaya yang berhadapan dengan selat Malaka dan selat Sunda merupakan jalur pelayaran internasional.

Dengan wilayah kekuasaannya yang luas meliputi seluruh pulau Sumatera, semenanjung malaka, Belitung, sebagian Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, membuat kerajaan Sriwijaya mendapat julukan sebagai negara nasional pertama di Indonesia.

Untuk menjaga keamanan wilayah dan meningkatkan perdagangan, kerajaan Sriwijaya juga membangun angkatan laut yang tangguh dan kuat, serta armada niaga yang besar. Oleh karena itu, Sriwijaya disebut pula sebagai kerajaan maritim.

Sebagai kerajaan maritim, Kerajaan Sriwijaya berupaya menguasai perairan Nusantara. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai Selat Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda, dan laut-laut lainnya di Nusantara.

Kesuksesan itu telah menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan bea cukai atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengumpulkan kekayaannya dari jasa pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar China dan India.

Karena telah berhasil menguasai wilayah kepulauan  nusantara dan melayu melalui perdagangan dan penaklukan yang dimulai sejak abad ke-7 sampai ke-9 M, maka kerajaan Sriwijaya juga telah berperan secara langsung dalam mengembangkan bahasa Melayu beserta kebudayaannya di Nusantara.

Namun, di akhir abad ke-9 M, kerajaan Sriwijaya mengalami kemundukan yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

  • Faktor internal : Palembang yang menjadi pusat kerajaan semakin menjauh dari pantai akibat adanya pengendapan lumpur di sungai Musi sehingga posisinya menjadi tidak strategis lagi.
  • Faktor politik: Sriwijaya yang lemah tidak dapat mengontrol daerah kekuasaannya sehingga banyak yang melepaskan diri.
  • Faktor ekonomi: Karena jauh dari pantai maka kapal-kapal dagang semakin enggan untuk singgah, sehingga pemasukan pajak berkurang dan akhirnya tidak ada sama sekali.
  • Faktor Militer: Diserang Dharmawangsa dari Singasari dan Colamandala dari Majapahit.

Meskipun tidak banyak bukti peninggalan kerajaan Sriwijaya namun warisan terpenting yang ditinggalkannya adalah bahasa melayu kuno yang akhirnya dikembangkan menjadi bahasa Indonesia. Selain itu, keluhuran Sriwijaya juga diapresiasikan dalam bentuk tarian dan lagu Gending Sriwijaya yang menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia.