Akibat dari Sistem Kepercayaan Pada Zaman Pra-Aksara

ASTALOG.COM – Kehidupan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan disebut masa pra-aksara atau masa prasejarah. Oleh karena belum mengenal tulisan, maka jejak-jejak sejarah yang mereka tinggalkan berupa benda-benda kebudayaan. Salah satu hal yang bisa dilakukan para ahli untuk mengungkap masa prasejarah adalah dengan melakukan penelitian terhadap fosil dan artefak. Fosil adalah sisa-sisa organisme atau makhluk hidup yang telah membantu, sedangkan artefak adalah benda-benda peninggalan hasil kebudayaan seperti gerabah dan bangunan.

Sistem Kepercayaan Pada Zaman Pra-Aksara

Kepercayaan dalam masyarakat purba sudah tumbuh dan berkembang sejak dahulu. Salah satu aspek yang dapat dikaitkan dengan kepercayaan adalah berupa peninggalan-peninggalan megalitik. Kepercayaan pada masyarakat purba dibedakan menjadi animisme, dinamisme dan totemisme.

Animisme merupakan kepercayaan manusia purba terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal dunia. Menurut mereka, arwah nenek moyang selalu memperhatikan mereka dan melindungi, tetapi akan menghukum mereka juga kalau melakukan hal-hal yang melanggar adat. Dengan demikian, orang tua yang mengetahui dan menguasai adat nenek moyang akan menjadi pemimpin masyarakat. Penghormatan kepada nenek moyang dilakukan dengan pimpinan orang tua tersebut, yang diterima oleh masyarakat sebagai ketua adat.

Lain halnya dengan dinamisme. Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib, seperti gunung batu, dan api. Bahkan benda-benda buatan manusia diyakini juga mempunyai kekuatan gaib seperti patung, keris, tombak, dan jimat. Sesungguhnya proses pembuatan benda-benda megalitik, seperti menhir, arca, dolmen, punden berundak, kubur peti batu, dolmen semu atau pandhusa, dan sarkofagus dilandasi dengan kayakinan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan lain. Dilandasi anggapan bahwa menhir atau arca, sebagai lambang dan takhta persemayaman roh leluhur, kedua jenis peninggalan itu digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang. Dolmen dan punden berundak digunakan untuk tempat upacara. Pendirian punden berundak juga berdasarkan atas arah mata angin yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

Sedangkan totemisme merupakan kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang tertentu merupakan nenek moyang suatu masyarakat atau orang-orang tertentu. Binatang-binatang yang dianggap sebagai nenek moyang antara orang yang satu dengan orang atau masyarakat yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Biasanya binatang-binatang yang dianggap nenek moyang itu, tidak boleh diburu dan dimakan, kecuali untuk keperluan upacara tertentu.

Kehidupan Masa Pra-Aksara di Indonesia

Kehidupan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan disebut masa pra aksara atau prasejarah. Dikarenakan belum mengenal tulisan, maka jejak-jejak sejarah yang mereka tinggalkan berupa benda-benda kebudayaan. Melalui benda-benda kebudayaan yang ditinggalkan para ahli mencoba mengamati dan meneliti secara seksama sehingga diperoleh gambaran mengenai kehidupan manusia pada masa pra-aksara atau prasejarah.

Ada dua aspek utama dari peninggalan masa lalu yang tidak boleh dilupakan, yaitu:

– Peninggalan masa lalu yang bersifat material, misalnya benda-benda kebudayaan.
– Peninggalan masa lalu yang bersifat nonmaterial, misalnya pandangan atau falsafah hidup, cita-cita, etos, nilai, norma, dan lain-lain.

Setiap bangsa memiliki cara sendiri-sendiri untuk membuat dua aspek kebudayaan ini tidak dilupakan. Istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan pewarisan kebudayaan dari suatu generasi ke generasi disebut sosialisasi.

Dalam mewariskan masa lalunya, masyarakat pra-aksara belum mengenal berbagai media yang memungkinkan untuk mengarsip peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pada masyarakat pra-aksara, kebudayaan mereka hanya diwariskan secara lisan dan melalui benda-benda kebudayaan.