Barisan Wanita Indonesia Untuk Membantu Kepentingan Perang Jepang

ASTALOG.COM – Indonesia dijajah oleh Jepang dari tahun 1942 – 1945. Pada masa penjajahannya, Jepang mendirikan beberapa organisasi, yang dimaksud untuk membantu Jepang dalam menghadapi perang dengan para sekutu dengan cara memanfaatkan keadaan rakyat Indonesia saat itu yang sangat berharap agar bisa segera merdeka.

Pada tahun 1943 terjadi perubahan politik dunia, di mana blok As (Jerman, dkk.) telah menderita kekakalahan di mana-mana. Jepang mulai cemas terhadap serangan balasan Sekutu yang semakin ofensif dalam perang pasifik. Kondisi ini membuat Jepang mulai bersikap lunak terhadap negeri-negeri jajahannya.

Kepada bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam uruasan pemerintahan. Untuk itulah dibentuk Tjihio Sangi Kai (semacam Dewan Daerah) dan Tjuai Sangi In (semacam Dewan Rakyat) dengan Ir. Soekarno sebagai ketua dan RMAA Kusumoutoyo dan dr. Buntaran sebagai wakil ketua. Sementara itu Perang Pasifik semakin mendesak kekuatan Jepang.

Untuk itu Jepang memerlukan bantuan rakyat daerah pendudukan untuk menahan laju ofensif tentara Sekutu. Pemerintah Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha peperangannya. Jepang mulai beralih ke strategi defensif di mana Indonesia menjadi barisan terdepan.

Berikut ini Organisasi Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang:

1. Barisan Pemuda (Seinendan).
Seinendan adalah organisasi para pemuda yang berusia 14-22 tahun. Pada awalnya Seinendan 3500 orang dari seluruh Jawa. Tujuan dibentuknya Seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri.

Bagi Jepang, Seinendan digunkan untuk memdapatkan tenaga cadangan guna memperkuat usaha mencapai kemenangan dalam perang Asia Timur Raya, perlu diadakannya pengerahan kekuatan pemuda. Dalam hal ini Seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan barisan belakang. Jepang juga menggerakan Seinendan bagian putri yang disebut Joyi Seinendan. Pada akhirnya Seinendan berjumlah sekitar 500.000 pemuda.
Susunan Seinendan terdiri atas:

a.Dancho(Komandan)
b.Fuku Dancho(Wakil Komandan)
c.Komon(Penasehat)
d.Sanyo(Anggota Dewan Pertimbangan)
e.Kanji(Administrator)

2. Barisan Pembantu Polisi (Keiboidan).
Keiboidan adalah organisasi pemuda (20-35 tahun) yang mempunyai tugas kepolisian berupa penjagaan lalu lintas, keamanan desa, memelihara keamanan dan ketertiban,dan lain-lain. Organisasi ini berada dalam binaan Keimubu (Departemen Kepolisian) dan anggotannya berjumlah sekitar satu juta orang. Yang menarik dari organisasi ini ialah bahwa organisasi ini dijauhkan dari pengaruh kaum nasionalis, sedangkan di dalam Seinendan duduk nasionalis muda seperti Sukarni, Abdul Latief Hendraningrat, dan lain-lain. Di Sumatra, Keibodan dikenal dengan nama Bogodan. Di Kalimantan terdapat badan serupa yang disebut Borneo Konan Hokokudan.

3. Pembantu Prajurit (Heiho).
Pada tanggal 22 April 1943 Tentara Wilayah Ketujuh mengeluarkan peraturan tentang pembentukan Heiho (Pembantu Prajurit). Sejak saat itu para Heiho dilatih dan dipergunakan dalam berbagai kesatuan militer di bawah wewenang tentara wilayah ketujuh yang di dalamnya termasuk Tentara Ke Enam Belas (yang menguasahi wilayah Jawa-Madura).

Setelah melihat latihan di Seinen Dojo pihak Jepang tidak meragukan kemampuan Heiho dalam melaksana-kan tugas-tugas militernya. Namun yang dikawatirkan adalah kesetiaan para Heiho terhadap usaha dan kepentingan perang Jepang. Pihak Jepang merasa takut jika para pemuda Indonesia yang telah terdidik dan terlatih secara militer akan memukul balik pasukan Jepang di Indonesia.

4. Organisasi Islam.
Golongan Nasionalis Islam memperoleh perhatian khusus pemerintah Jepang. Golongan Nasionalis Islam oleh pemerintah Jepang dianggap anti barat dalam persoalan sekulerisme. Untuk itu Pemerintah Jepang tetap mengijinkan berdirinya organisasi Islam yang sudah berdiri dari jaman Hindia Belanda, yaitu Majelis Islam A’la Indonesia yang didirikan oleh K.H Mas Mansur pada tahun 1937 di Surabaya.

Pada bulan September 1943 Pemerintah Jepang mengijinkan berdirinya organisasi Islam yang lain yaitu NU dan Muhammaddiyah. Pada bulan Oktober 1943 MIAI dibubarkan, sebab dianggap kegiatannya tidak begitu memuaskan oleh pemerintah Jepang. Sebagai pengganti MIAI berdirilah Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

5. Pembentukan PETA (Kiodo Bo Ei Giyugun).
Pembentukan PETA atau yang lebih dikenal dengan Tentara Pembela Tanah Air lahir atas prakarsa salah seorang tokoh pergerakan nasional Indonesia yaitu R. Gatot Mangkuprojo melalui suratnya yang ditujukan kepada Saiko Shikan (Panglima Tentara Kenambelas) dan kepada Gunsekan (Kepala Pemerintahan Pendudukan Tentara Jepang). Isi surat tersebut adalah keinginan untuk meyumbangkan tenaganya dalam mempertahankan daerah negara Indonesia agar pemerintah Jepang mau membentuk pasukan sukarela yang seluruh pasukannya terdiri atas bangsa Indonesia.

Sistem kepangkatan tentara PETA memilki lima tingkatan, yaitu:
a. Daidanco : Komandan Batalion.
b. Cudanco : Komandan Kompi.
c. Shodanco : Komandan Peleton.
d. Budancho : Komandan Regu.
e. Giyubei : Prajurit Sukarela.

6. Himpunan Wanita (Fujinkai).
Organisasi semi militer terakhir yang dibentuk oleh jepang adalah Himpunan Wanita atau Fujinkai. Pada bulan Agustus 1943 dalam rangka membentuk potensi wanita Pemerintah Jepang membentuk Fujinkai. Tenaga wanita dengan keanggotaan batas umur 15 tahun ini digunakan digaris belakang untuk membantu dan merawat tentara jepang ataupun korban perang yang terluka, namun banyak juga yang dilibatkan dalam penanaman pohon jarak untuk diambil minyaknya (kebutuhan perang). Selain itu mereka juga diberikan latihan-latihan semi militer yang meliputi baris-berbaris dan menyelamatkan diri dari peperangan.