Sebutkan dan Jelaskan Teori Pembentukan Bumi!

ASTALOG.COM – Bumi adalah planet tempat tinggal seluruh makhluk hidup beserta isinya. Kira-kira 250 juta tahun yang lalu sebagian besar kerak benua di Bumi merupakan satu massa daratan yang dikenal sebagai Pangea. Kemudian, kira-kira dua ratus juta tahun yang lalu Pangea terpecah menjadi dua benua besar yaitu Laurasia, yang sekarang terdiri dari Amerika Utara, Eropa, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur; dan Gondwana yang terdiri dari Amerika Selatan, Afrika India, Australia dan bagian Asia lainnya. Bagian-bagian dan dua benua besar ini kemudian terpecah-pecah, hanyut dan bertubrukan dengan bagian lain.

Sebagai tempat tinggal makhluk hidup, bumi tersusun atas beberapa lapisan bumi. Bahan-bahan material pembentuk bumi, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Bentuk permukaan bumi berbeda-beda, mulai dari daratan, lautan, pegunungan, perbukitan, danau, lembah, dan sebagainya. Bumi sebagai salah satu planet yang termasuk dalam sistem tata surya di alam semesta ini tidak diam seperti apa yang kita perkirakan selama ini, melainkan bumi melakukan perputaran pada porosnya (rotasi) dan bergerak mengelilingi matahari (revolusi) sebagai pusat sistem tata surya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya siang malam dan pasang surut air laut. Oleh karena itu, proses terbentuknya bumi tidak terlepas dari proses terbentuknya tata surya kita.

Teori Kant

Teori kant adalah teori yang pertama kali muncul untuk membahas bagaimana bumi terbentuk dan terbentuknya planet-planet dalam tata surya. Pada pertengahan abad ke 18 atau tepatnya pada tahun 1755, seorang filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant mengemukakan teorinya mengenai bagaimana bumi terbentuk. Menurut Kant, tata surya yang terdiri atas matahari, bumi, bulan dan planet, serta asteroid pada mulanya berbentuk nebula atau kumpulan bintang yang menyerupai awan atau gas dengan massa yang berat. Melalui prose pendinginan, akhirnya nebula tersebut menjadi bumi, bulan, matahari dan planet-planet lainnya.

Teori Laplace

Pada tahun 1796 seorang ahli matematika dan astronomi Perancis bernama Pierre Simon Marquis de Laplace, menyanggah teori buffon. Menurut Laplace bumi terbentuk dari gugusan gas panas yang berputar pada sumbunya. Saat berputar dengan sangat cepat tersebut, kemudian terbentuk cincin-cincin. Sebagian cincin gas terlempar dan tetap terus berputar.

Cincin gas yang berputar pada akhirnya mengalami pendinginan, sehingga terbentuk gumpalan-gumpalan bola yang kemudian menjadi bumi dan planet-planet lainnya. Pusat cincin masih tetap panas dan ini yang kemudian menjadi matahari.

Teori Hipotesis Planetesimal

Pada awal abad ke 20 para ilmuwan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, mulai tertarik membuat hipotesis baru mengenai teori terbentuknya bumi. Forest Ray Moulton seorang ahli astronomi, bersama rekannya T.C. Chamberlain seorang ahli geologi mengemukakan teori yang mereka namakan planetesimal hypothesis. Menurut Moulton dan Chamberlain, matahari terdiri dari massa gas yang sangat besar pada suatu saat didekati oleh sebuah bintang (matahari) lain yang melintas dengan kecepatan tinggi. Pada waktu bintang tadi melintas di dekat matahari dan jarak keduanya relatif dekat maka sebagian massa gas matahari tertarik keluar akibat gaya tarik atau gravitasi dari bintang yang melintas tersebut.

Sebagian massa gas yang tertarik keluar dari matahari berada pada lintasan bintang dan sebagian lagi berputar mengelilingi matahari karena gravitasi matahari. Setelah bintang melintas, massa gas yang berputar mengelilingi matahari menjadi dingin dan kemudian terbentuklah cairan yang semakin lama memadat dan selanjutnya disebut planetesimal. Beberapa planetesimal yang terbentuk kemudian akan tarik-menarik bergabung menjadi satu yang pada akhirnya menjadi bumi dan planet lainnya.

Teori Tidal

Dua orang ilmuwan dari Inggris, James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1918 mengemukakan teori terbentuknya bumi yang mereka namakan teori tidal. Teori tidal sedikit banyak diilhami oleh peristiwa pasang naik air laut ketika bulan tampak jelas atau bulan purnama dari bumi. Dengan demikian, teori tidal mengemukakan peristiwa pasang naik massa gas matahari karena bintang melintas di dekat matahari kita. Peristiwa bintang melintas di dekat matahari ini mirip dengan teori Moulton dan Chamberlain.

Menurut Jeans dan Jeffreys, pada saat bintang melintas di dekat matahari, sebagian dari massa matahari tertarik keluar sehingga membentuk semacam cerutu. Bagian yang membentuk cerutu ini, setelah mengalami pendinginan, merupakan cikal bakal planet-planet yang mengelilingi matahari, mulai dari planet yang paling dekat dengan matahari sampai planet yang terjauh dari matahari.

Teori Big Bang

Teori Big Bang lebih dikenal sebagai teori dentuman besar yang dikemukakan pada tahun 1948 oleh dua orang ilmuwan yang bernama Gamow dan Alpher. Kedua orang ilmuwan tersebut mengatakan bahwa bumi dan alam semesta ini terbentuk dari suatu ledakan yang sangat dahsyat. Ledakan dahsyat tersebut berasal dari partikel yang pecah dengan energi yang sangat besar. Ledakan dahsyat tersebut kemungkinan besar berasal dari ledakan thermo nuklir alami yang belum diketahui asal mulanya. Diperkirakan ledakan tersebut masih terasa sampai sekarang.

Gamow dan Alpher mengatakan bahwa secara teoritis dentuman atau ledakan besar yang berasal dari ledakan thermo nuklir yang menghasilkan energi (panas) sangat tinggi akan menyebabkan ekspansi materi. Ekspansi materi tersebut berupa benda-benda langit (bintang, planet dan sebangsa asteroid) maka benda-benda langit tersebut akan bergerak semakin menjauh. Hal ini juga menjadi hipotesis ahli astronomi abad ke 20, Edwin Hubble, bahwa langit terus berkembang. Hipotesis bahwa langit terus berkembang, kemudian ditambah hasil pengamatan Edwin Hubble di Observatorium Mount Wilson, kemudian menjadi teori langit berekspansi. Dari hasil pengamatan melalui teleskop ruang angkasa, ternyata bintang-bintang bergerak menjauh dari koordinat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa langit memang berkembang.