Pertanyaan Tentang Gedung Pancasila

Loading...

ASTALOG.COM –

1. Dimanakah letak Gedung Pancasila?

–> Gedung pancasila terletak di Jalan Pejambon 1, Gambir, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dengan kode pos 10110.

 

2. Deskripsikan mengenai bangunan Gedung Pancasila.

–> Bangunan gedung Pancasila berdenah empat persegi panjang menghadap ke barat laut dan berada di kompleks Departemen Luar Negeri. Berdinding tembok pada bagian depan terdapat 8 buah tiang bermotif balustrade, berfungsi sebagai penyangga atap bagian teras, pintu masuk ke ruang utama berjumlah 3 buah. Di kiri kanan pintu masuk terdapat dua buah meriam dorong, di atas pintu terdapat hiasan panel pergola. Gedung ini berlantai marmer putih. Gedung ini mempunyai beberapa ruangan antara lain: ruang gedung, administratif, ruang tunggu, ruang gentlemens, ruang wanita, ruang perpustakaan, ruang tunggu perjamuan, dan ruang perjanjian. Dengan luas bangunan 1516.00m2 dan luas lahan 26950.00m2.

 

3. Apa nama lain dari Gedung Pancasila?
–> Dulu Bernama Gedung Volksraad.

 

4. Bagaimana sejarah didirikannya Gedung Pancasila?
–> Awal sejarah berdirinya gedung Pancasila di Jakarta bermula sekitar tahun 1830 dan gedung ini didesain oleh J. Tromp. Awalnya, gedung ini dibangun sebagai rumah bagi Hertog Bernhard dan nantinya menjadi tempat tinggal dari komandan tentara kerajaan Belanda.

BACA JUGA:  Jungkit-jungkit Termasuk Tuas Golongan Apa?

Informasi bahwa gedung yang ada di Jl. Pejambon No.6 Jakarta Pusat ini berguna sebagai tempat dilakukannya pertemuan oleh Volksraad (Dewan Rakyat), sebuah dewan yang diprakarsai oleh pemerintah Hindia-Belanda bersama Gubernur Jendral J.P. van Limburg Stirum dan Thomas Bastiaan Pleyte yang menjadi menteri urusan koloni Belanda pada waktu itu.

Volksraad adalah sebuah dewan yang wewenangnya sangat terbatas. Semula Dewan hanya diberi hak untuk memberi nasehat kepada pemerintah, tetapi pada tahun 1927 dewan rakyat tersebut diberi wewenang untuk membuat Undang-Undang bersama-sama dengan Gubernur Jenderal. Tetapi wewenang itu tidak banyak berarti penting karena Gubernur Jenderal memegang hak veto.

Dalam suatu masa jabatan, jumlah keseluruhan anggota Volksraad pernah mencapai 60 orang terdiri atas 30 wakil rakyat Indonesia (19 dipilih tidak langsung dan 11 ditunjuk langsung), 25 orang bangsa Belanda (15 dipilih tidak langsung dan 10 diangkat), 4 wakil dari golongan keturunan China (3 orang dipilih tidak langsung dan 1 diangkat), dan seorang wakil golongan keturunan Arab yang diangkat. Setiap tahun diadakan dua kali sidang. Sidang pertama dimulai setiap tanggal 15 Mei dan sidang kedua pada hari Selasa ketiga Oktober bulan. Lamanya kedua sidang itu berlangsung selama empat setengah bulan.

BACA JUGA:  Apakan Kelemahan Model Atom Dalton?

Selama empat belas tahun (1927-1941), Volksraad hanya mampu mengajukan 6 rancangan undang-undang, 3 diantaranya diterima pemerintah. Hasil-hasil itupun dicapai setelah tiga orang anggota Volksraad tersebut yaitu Salim, Stokvis, Soetadi, dan Djajadiningrat menyampaikan kritiknya pada tahun 1923 yang mengatakan bahwa “kalau kita ikuti sejarah perkembangan Volksraad sejak tahun 1918, kita hanya bisa berkata dengan rasa penyesalan bahwa hasil-hasil yang dicapainya tidak ada sama sekali”.

Beberapa sumber juga menyatakan bahwa gedung ini merupakan tempat dari Raad van Indie.

Indonesia secara resmi diterima menjadi anggota PBB yang ke-60 pada tanggal 28 September 1950. Bendera Indonesia dikibarkan secara serentak pada hari itu juga di depan gedung Markas Besar PBB di Lake Success, Amerika Serikat dan Gedung Pancasila di Jakarta. Sejak saat itu, baik di PBB maupun forum-forum internasional lainnya, Indonesia selalu berada di garis terdepan dalam gerakan dekolonisasi yang akhirnya mengakhiri segala bentuk penjajahan di dunia.

BACA JUGA:  Sebutkan dan Jelaskan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi

Indonesia bekerja keras di Komite Dekolonisasi PBB untuk mengadopsi diterimanya dua resolusi di Majelis Umum PBB tahun 1960 mengenai pengakuan kemerdekaan bagi negara-negara jajahan dan daerah-daerah yang tidak berpemerintahan. Di PBB dan berbagai forum lainnya, Indonesia tanpa kenal lelah membela dan memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang di dunia.

Pada awal tahun 1950, gedung yang menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah yaitu bekas gedung Volksraad dan Tyuuoo Sangi-In dan yang kita kenal sebagai Gedung Pancasila tersebut diserahkan kepada Departemen Luar Negeri. Nama Gedung Pancasila mulai semakin dikenal ketika pada tanggal 1 Juni 1964 di Departemen Luar Negeri diperingati secara nasional hari lahirnya Pancasila yang dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Penunjukan Gedung Pancasila sebagai kantor Departemen Luar Negeri terasa selalu memberi bimbingan kepada Departemen Luar Negeri sebagai aparat pemerintah yang mengemban tugas menjalankan politik luar negeri agar berpegang teguh pada pedoman hidup, falsafah bangsa dan dasar negara Pancasila yakni ikut serta memajukan perdamaian dunia, keadilan sosial dan kemakmuran yang adil dan merata.