Latar Belakang Terjadinya Gerakan APRA

ASTALOG.COM – Negara Pasundan adalah salah satu negara boneka dalam RIS yang dibentuk oleh pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Wilayah negara Pasundan ini adalah di daerah Jawa Barat atau di bumi Parahyangan. Pada bulan Januari 1950 di Jawa Barat muncul gerakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh mantan Kapten Raymond Westerling dalam dinas tentara kerajaan Belanda (KNIL). Gerakan APRA memanfaatkan kepercayaan rakyat akan datangnya Ratu Adil.

Pada saat itu, Westerling memahami penderitaan rakyat Indonesia selama masa penjajahan Belanda dan Jepang yang mendambakan adanya kemakmuran seperti yang terdapat dalam Ramalan Jayabaya. Menurut ramalan tersebut, akan datang seorang pemimpin yang disebut Ratu Adil yang akan memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga rakyat menjadi makmur dan sejahtera.

Adapun tujuan sebenarnya dari gerakan APRA adalah :

  1. Tetap berdirinya Negara Pasundan.
  2. APRA sebagai tentara Negara Pasundan.

Namun hal tersebut sebenarnya bertentangan dengan hasil konferensi Antar Indonesia dimana Angkatan Perang Nasional adalah APRIS.

Sebenarnya organisasi ini sudah dibentuk sebelum Konferensi Meja Bundar itu disahkan. Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang.

Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Latar Belakang Terjadinya Gerakan APRA

Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang berada di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling merupakan gerakan yang didalangi oleh golongan kolonialis Belanda. Salah satu landasan bagi gerakan APRA ini adalah kepercayaan rakyat Indonesia akan datangnya Ratu Adil. Westerling memahami bahwa sebagian rakyat Indonesia yang telah lama menderita karena penjajahan, baik oleh Belanda atau Jepang, mendambakan datangnya suatu masa kemakmuran seperti yang terdapat dalam ramalan Jayabaya. Menurut ramalan itu akan datang seorang pemimpin yang disebut Ratu Adil, yang akan memerintah rakyat dengan adil dan bijaksana, sehingga keadaan akan aman dan damai dan rakyat akan makmur dan sejahtera.

Tidak hanya rakyat-rakyat biasa yang dihimpun Westerling untuk menjadi tentaranya, tetapi mantan tentara KNIL yang pro terhadap Belanda juga ikut menjadi bagian dari tentara APRA. Ada satu hal yang menarik bahwa kendaraan-kendaraan yang digunakan oleh KNIL maupun KL dalam melancarkan aksinya diberi tanda segitiga orange sebagai lambang negara Belanda.

Kronologis Terjadinya Gerakan APRA

  1. Pada 5 Desember malam, sekitar pukul 20.00 Westerling menelepon Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Letnan Jenderal Spoor. Westerling menanyakan bagaimana pendapat van Vreeden apabila setelah penyerahan kedaulatan, Westerling berencana melakukan kudeta terhadap Soekarno. Van Vreeden sebenarnya telah mendengar berbagai kabar, antara lain ada sekelompok militer yang akan mengganggu jalannya penyerahan kedaulatan. Dia  juga telah mendengar mengenai gerakan yang dimotori oleh Westerling. Van Vreeden, yang diberi tanggung jawab atas kelancaran “penyerahan kedaulatan” pada 27 Desember 1949, sebenarnya telah memperingatkan Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut, tapi saat itu van Vreeden tidak segera memerintahkan penangkapan Westerling.
  2. Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah sebuah ultimatum. Westerling menuntut agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif terkait ultimatum tersebut dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar. Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, namun juga di pihak Belanda. Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerjasama dengan Westerling.
  3. Puncaknya adalah pada tanggal 23 Januari 1950, APRA yang bersenjata lengkap menyerbu kota Bandung dan secara membabi buta membunuh anggota TNI yang dijumpai. Gerakan tersebut juga berhasil menduduki Markas Divisi Siliwangi setelah membunuh hampir seluruh anggota regu jaga termasuk Letnan Kolonel Lembong. Selain itu, banyak penduduk biasa yang menjadi korban.