Contoh Partisipasi Dalam Pembuatan Keputusan Di Lingkungan Keluarga

Loading...

ASTALOG.COM – Pembuatan keputusan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan bagi siapa saja. Hal ini terkadang mengharuskan kita untuk merelakan alternatif yang tersedia demi untuk mendapatkan satu putusan atau pilihan final. Tentu saja segala keputusan dimaksudkan untuk dapat mencapai suatu tujuan bersama dengan melalui tindakan dan pelaksanaan.

Ketika akan memutuskan sebuah pilihan, terdapat tiga faktor utama yang biasanya akan mempengaruhi putusan seseorang, yaitu nilai individu, kepribadian serta kecenderungan seseorang dalam mengambil risiko terhadap hasil keputusan tersebut.

1. Nilai Individu
Pada faktor pertama ini, keyakinan individu sangat berperan dalam pengambilan keputusan, terutama bila sedang menghadapi suatu permasalahan dimana ia harus menentukan pilihan. Nilai individu ini merupakan sesuatu yang telah tertanam dalam diri seseorang sejak kecil, melalui proses hidup dan pengalaman hidup di lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan masyarakat.

2. Kepribadian
Selain nilai individu, faktor psikologis seperti kepribadian juga cukup mempengaruhi bagaimana seseorang membuat keputusan. Dalam faktor ini, sisi ideologi akan mencoba menentang emosional dan objektivitas. Ketika yang diutamakan adalah ideologi, maka pengambilan keputusan dipengaruhi oleh suatu prinsip ataukah filosofi yang dimiliki oleh si pembuat keputusan.

BACA JUGA:  Jenis Hutan di Wilayah Indonesia Tengah

3. Kecenderungan Terhadap Pengambilan Risiko
Situasi pengambilan risiko, berbeda dengan situasi dimana terdapat ketidakpastian tentang suatu hal. Ketidakpastian memiliki arti bahwa pengetahuan hasil tindakan dianggap kurang, sedangkan dalam pengambilan resiko, terdapat kurangnya kendali terhadap suatu tindakan. Dalam hal ini, si pengambil keputusan dianggap memiliki pengetahuan mengenai hasil tindakan akan tetapi tidak memiliki kuasa untuk mengendalikannya.

Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada pembuatan keputusan, entah itu dalam lingkungan keluarga, sekolah ataukah masyarakat. Di dalam keluarga sendiri, terdapat beberapa pola pengambilan keputusan yang dapat dilakukan, yaitu:

> Sebuah pilihan ditentukan oleh satu orang yang dianggap memiliki kekuatan lebih besar bila dibandingkan dengan anggota keluarga yang lainnya. Keputusan diambil oleh kepala keluarga, dalam hal ini adalah ayah atau ibu.

> Dilakukannya pilihan bersama, atau dengan kata lain keputusan diambil dengan kesepakatan antara suami dengan istri.

> Mempertimbangkan seluruh pendapat anggota keluarga, karena setiap individu memiliki hak mengeluarkan pemikiran masing-masing, kemudian diambil keputusan akhir sesuai dengan kesepakatan bersama.

BACA JUGA:  Tujuan Dibentuknya Bank Sentral di Indonesia

PARTISIPASI

Dalam proses pembuatan atau pengambilan keputusan di lingkungan keluarga, orang tua cenderung memutuskan sendiri sesuatu hal tanpa meminta pendapat anak mereka, sebab orang tua selalu menganggap bahwa keputusan yang mereka ambil adalah keputusan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Padahal sebenarnya hak partisipasi anak tentu sangat penting untuk diperhatikan. Alasannya? Karena partisipasi anak merupakan suatu wujud demokrasi dalam keluarga. Orang tua sebaiknya senantiasa mempertimbangkan dan membebaskan anak untuk mengeluarkan pendapatnya, keterlibatan anak secara perlahan akan membentuk kepribadian yang lebih mandiri sehingga mereka siap untuk menjadi warga negara yang baik.

Beberapa contoh partisipasi dalam pembuatan keputusan di lingkungan keluarga antara lain:

1. Setiap anggota keluarga berhak mengemukakan pendapatnya, untuk kemudian dipertimbangkan guna menghasilkan suatu putusan final.

2. Saran dan kritis dari setiap anggota keluarga juga tidak boleh diabaikan, demi mencapai kesejahteraan dalam keluarga.

3. Keputusan yang diambil dalam lingkungan keluarga, sebaiknya terlebih dahulu dirundingkan dengan seluruh anggota keluarga karena kelak dapat menimbulkan konflik.

BACA JUGA:  Penyebab dan Dampak Hujan Asam

4. Konflik menjadi suatu hal yang dapat muncul setelah keputusan dibuat, meskipun segalanya telah direncanakan dengan baik. Namun, karena keputusan diambil oleh kesepakatan bersama, maka seluruh anggota keluarga harus mengatasi konflik ini secara bersama-sama dengan sebaik-baiknya.

5. Keputusan terbaik adalah keputusan yang harmonis, dimana anggota keluarga tidak boleh mementingkan diri sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan bersama.

6. Keputusan yang diambil secara tergesa-gesa, biasanya merupakan keputusan yang kurang tepat. Jangan pernah mengambil keputusan sebelum merundingkannya dengan keluarga yang lain. Jika perlu, adakan rapat bersama guna menghasilkan kesepakatan yang baik.

7. Untuk memutuskan pilihan terbaik, sangat penting jika sebelumnya telah dikumpulkan data-data yang akurat, mengalisis data tersebut lalu kemudian mempertimbangkan baik buruknya.

Jadi, dalam mengambil keputusan bersama, entah itu di lingkungan keluarga, sekolah ataukah masyarakat, yang menjadi kesepakatan bukanlah keputusan yang dihasilkan oleh pendapat satu orang saja, bukan suatu pemikiran yang dipaksakan, melainkan keputusan yang disetujui bersama di antara seluruh anggota atau individu yang terlibat.