Teori Perubahan Kulit Bumi

Loading...

ASTALOG.COM – Bumi yang kita diami ini terbentuk sekitar 4,54 miliar tahun yang lalu, dan kehidupan muncul di permukaannya pada milyaran tahun pertama. Biosfer Bumi kemudian secara perlahan mengubah atmosfer dan kondisi fisik dasar lainnya, yang memungkinkan terjadinya perkembangbiakan organisme serta pembentukan lapisan ozon, yang bersama medan magnet Bumi menghalangi radiasi surya berbahaya dan mengizinkan makhluk hidup mikroskopis untuk berkembang biak dengan aman di daratan. Sifat fisik, sejarah geologi, dan orbit Bumi yang akhirnya memungkinkan kehidupan untuk bisa terus bertahan hingga sekarang.

Komposisi Bumi

Massa Bumi adalah sekitar 5,98×1024 kg. Komposisi Bumi sebagian besarnya terdiri dari:

  • besi (32,1%)
  • oksigen (30,1%)
  • silikon (15,1%)
  • magnesium (13,9%)
  • belerang (2,9%)
  • nikel (1,8%)
  • kalsium (1,5%)
  • aluminium (1,4%)
  • sisanya terdiri dari unsur-unsur lainnya (1,2%).

Kemudian, akibat segregasi massa, bagian inti Bumi diyakini mengandung besi (88,8%), dan sejumlah kecil nikel (5,8%), belerang (4,5%), dan kurang dari 1% unsur-unsur lainnya.

lebih dari 47% dari kulit Bumi mengandung oksigen. Konstituen batuan yang umumnya terdapat pada kulit Bumi hampir semuanya merupakan senyawa oksida (silika, alumina, besi oksida, kapur, magnesia, kalium, dan soda), klorin, belerang, dan fluor adalah pengecualian dengan jumlah total kandungan unsur ini dalam batuan biasanya hanya kurang dari 1%.

BACA JUGA:  Sinar Istimewa pada Lensa

Sejarah Terbentuknya Kulit Bumi

Bumi merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya yang diyakini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya tata surya itu sendiri, yaitu sekitar 5.000 juta tahun yang lalu. Para ahli memperkirakan bahwa matahari terbentuk terlebih dahulu, sedangkan planet-planet termasuk bumi masih dalam wujud awan, debu, dan gas kosmis yang disebut nebula yang berputar mengelilingi matahari.

Awan, debu, dan gas kosmis tersebut terus berputar dan pada akhirnya bersatu karena pengaruh gravitasi, kemudian mengelompok membentuk bulatan-bulatan bola besar disebut planet, termasuk di dalamnya Planet Bumi.

Bumi pada awalnya merupakan planet yang sangat panas, suhu permukaannya mencapai 4.000° C. Dalam jangka waktu jutaan tahun, suhu bumi kemudian turun dan mengakibatkan terjadinya pembekuan bagian permukaan bumi disebut kerak atau kulit bumi (litosfer), sedangkan bagian dalam Planet Bumi sampai saat ini masih dalam keadaan panas dan berpijar.

Teori Perubahan Kulit Bumi

1. Teori Kontraksi

Teori ini dikemukakan kali pertama oleh Descrates yang menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengerut disebabkan terjadinya proses pendinginan sehingga di bagian permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran. Teori Kontraksi didukung pula oleh James Dana dan Elie de Baumant. Keduanya berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi proses pendinginan pada bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah.

BACA JUGA:  Dasar Hukum Pelestarian Sumber Daya Alam

2. Teori 2 Benua

Teori ini pertama dikemukakan oleh Edward Zuess pada 1884 yang menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas 2 benua yang sangat besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar kutub selatan bumi. Kedua benua tersebut kemudian bergerak perlahan ke arah equator bumi sehingga pada akhirnya terpecah-pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil. Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa, dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana terpecah menjadi Afrika, Australia, dan Amerika Selatan.

3. Teori Pengapungan Benua

Teori pengapungan benua dikemukakan oleh Alfred Wegener pada 1912. Ia menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada satu benua maha besar disebut Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian terpecah-pecah dan terus mengalami perubahan melalui pergerakan dasar laut. Gerakan rotasi bumi yang sentrifugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah barat menuju ekuator.

BACA JUGA:  Peran Protein dalam Struktur Sel

4. Teori Konveksi

Teori ini dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz. Teori ini mengemukakan bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan kulit bumi yang berada di atasnya. Ketika arus konveksi yang membawa materi berupa lava sampai ke permukaan bumi di  punggung tengah samudra (mid oceanic ridge), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua.

5. Teori Lembang Tektonik

Teori Lempeng Tektonik dikemukakan oleh Tozo Wilson. Berdasarkan Teori Lempeng Tektonik, kulit bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan astenosfer yang berwujud cair kental. Lempeng- lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena adanya pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer dengan posisi berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi.