Pengertian Hadist Fi’liyah

Loading...

ASTALOG.COM – Hadis atau sunnah merupakan salah satu sumber ajaran islam yang menduduki posisi sangat signifikan, baik secara struktural maupun fungsional. Secara struktural menduduki posisi kedua setelah al-Qur’an, namun jika dilihat secara fungsional, ia merupakan bayan (eksplanasi) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat ‘am (umum), mujmal (global) atau mutlak. Secara tersirat, al-Qur’an-pun mendukung ide tersebut (QS. An-Nahl 44).

Berdasarkan bentuk dan penisbatan matan, hadis dibagi menjadi lima macam: hadis qauli, hadis fi’li, hadis taqriri, hadis hammi dan hadits ahwali.

1. Hadits qauli
Hadits qauli adalah segala bentuk perkataan, atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi SAW, yang berisi berbagai tuntutan dan petunjuk, peristiwa, syara’, dan kisah, baik yang berkaitan dengan aspek aqidah, syari’at maupun akhlak.

contoh hadis qauli lainnya :
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barang siapa yang meninggalkan yang syubhat berarti ia telah membebaskan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam yang syubhat berarti ia terjerumus pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir ia merumput padanya. Ketahuilah, sesungguhnya bagi setiap raja ada daerah terlarang dan sesungguhnya daerah terlarang Allah SWT adalah segala yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik niscaya baiklah semua tubuh dan apabila rusak niscaya rusaklah semua tubuh, ketahuilah, ia adalah hati.” HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599

BACA JUGA:  Apa yang Dimaksud dengan Tawazun?

Di antara contoh lain hadis qauli adalah hadis tentang kecaman Rasul kepada orang-orang yang mencoba memalsukan hadis-hadis yang berasal darinya.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارٌ. {رواه مسلم}

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa sengaja berdusta atas diriku, hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat tinggalnya dineraka.” (Hr. Muslim).

2. Hadits Fi’li
Hadits fi’li adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi SAW. Dalam hadits tersebut terdapat berita tentang perbuatan Nabi SAW, yang menjadi anutan perilaku para sahabat pada saat itu dan menjadi keharusan bagi semua umat Islam untuk mengikutinya.
Contoh hadis fi’li tentang shalat adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi:

كان النبى صلعم يصلى على راحلته حيث اذا اراد الفريضة نز فاستقبل القبلة توجهت ف
Artinya: ” Nabi Muhammad SAW sholat diatas tunggangannya kemana tunggangannya itu menghadap“. (HR. At-Turmudzi, Muslim dan Ahmad).

Contoh Kedua:
كن اكثردعاء النبى ص م الهم اتن فى الدنى حسنه وفى الاخرة حسنة وقنا عؤاب النار متفق علىه

Artinya: “doa yang paling banyak dilakukan oleh Nabi SAW, adalah Allahumma atina fi ad-dun-ya hasanah wa fi al-akhirati hasanah waqina azabaan-nar” ( H.R Muttafaq alaih).

Atau hadits berikut:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْسِمُ بَيْنَ نِسَائِهِ فَيَعْدِلُ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ هَذِهِ قِسْمَتِيْ فِيْمَا أَمْلِكُ فَلاَ تَلُمْنِيْ فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ. {رواه أبو داود والترمذي والنسائى وابن ماجه}
Dari ‘Aisyah, Rasul saw, membagi (nafkah dan gilirannya) antar istri-istrinya dengan adil. Beliau bersabda,”Ya Allah! Inilah pembagianku pada apayagn aku miliki. Janganlah engkau mencelaku dalam hal yang tidak aku miliki.” (H.R. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, dan Ibn Majah).

BACA JUGA:  Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 7

Kemudian hadits lain tentang berbekam:
عن بن عباس رضي ال عنه قال : إحتجم رسول ال صلى ال عليه
وسلم وأعطى الذي حجمه أجره – رواه البخاري

Dari Ibn Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW melakukan hijamah (berbekam) dan memberikan orang yang melakukannya upah atas kerjanya. (HR. Bukhari)

3. Hadits Taqriri
Hadits taqriri adalah segala ketetapan Nabi terhadap apa yang datang/ di lalukan oleh para sahabatnya. Nabi SAW membiarkan atau mendiamkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabatnya, tanpa memberikan penegasan, apakah beliau membenarkan atau mempermasalahkannya.

Diantara contoh hadis taqriri adalah sikap rasul Saw, yang membiarkan para sahabat dalam menafsirkan sabdanya tentang shalat pada suatu peperangan, yaitu.

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِيْ بَيِيْ قُرَيْضَةَ. {رواه البخاري ‏

Janganlah seorangpun shalat Ashar, kecuali nanti di Bani Quraidhah. (H.R. Al-‎Bukhari)
Sebagian sahabat memahami larangan itu berdasarkan pada hakikat perintah tersebut sehingga mereka terlambat dalam melaksanakan shalat Ashar. Segolongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut untuk segera menuju Bani Quraidhah dan serius dalam peperangan dan perjalananya sehingga dapat shalat tepat pada waktunya. Sikap para sahabat itu dibiarkan oleh Nabi Saw. Tanpa ada yang disalahkan atau diingkarinya.

4. Hadits Hammi
Hadits Hammi : hadits yang berupa keinginan/hasrat Nabi SAW yang belum direalisasikan, seperti: hasrat berpuasa tanggal 9 ‘Asyura.

Contoh Hadits

Hadis dari Ibn Abbas, sebagai berikut.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوْ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ يَزْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعْ. {رواه أبوداود}

BACA JUGA:  Tuliskan Dalil Naqli Tentang Makanan Halal dan Haram

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Ketika Nabi Saw. Berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani’. Rasul Saw. Kemudian bersabda, ‘Tuhan yang akan datang insya Allah aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.” (H.R. Abu Dawud).

Nabi Saw. Belum sempat merealisasikan hasratnya ini karena beliau wafat sebelum datang bulan “Asyura tahun berikutnya. Menurut para ulama, seperti Asy-Syafi’I dan para pengikutnya, menjalankan hadis hammi ini disunnahkan, sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah lainnya.

5. Hadits Ahwali
Hadits ahwali: hadits yang berupa hal ihwal Nabi SAW yang tdk termasuk ke dalam kategori keempat bentuk hadits diatas.

Contoh Hadits
Sifat Nabi Saw diceritakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Annas bin Malik, sebagai berikut.
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا. {متفق عليه}

Rasulullah Saw, adalah orang yang paling mulia akhlaknya. (Mutafaq’alaih)

Tentang keadaan fisik Nabi Saw., dijelaskan dalam hadis,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ الْبَائِنِ وَلاَ بِالْقَصِيْرِ. {رواه البخاري}

Rasulullah Saw, adalah manusia yang sebaik-baiknya rupa dan tabuh. Keadaan fisiknya tidak tinggi dan tidak pendek. (H.R. Al-Bukhari).