Apakah yang Disebut Jihad?

Loading...

ASTALOG.COM – Jihad secara bahasa berarti mengerahkan segala upaya dan kemampuan, baik berupa perkataan atau perbuatan. Definisi jihad secara syariat yang paling komperehensif diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Jihad adalah mengerahkan segala upaya demi mencapai kebenaran yang diinginkan.” Di tempat lain, beliau mengatakan, “Hakikat jihad adalah upaya yang sungguh-sungguh untuk mencapai hal-hal yang diridhai oleh Allah seperti iman dan amal saleh, sekaligus untuk menolak hal-hal yang dibenci-Nya seperti kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.”

Definisi tersebut mencakup semua jenis jihad yang dapat dilakukan seorang muslim. Mencakup usaha kerasnya dalam menaati Allah, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Termasuk juga usahanya dalam mengajak orang lain – muslim atau kafir – untuk menaati Allah, usahanya dalam memerangi orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah, dan sebagainya.

Pembatasan jihad dengan kalimat ‘di jalan Allah’ adalah untuk membedakan segala jenis usaha yang tidak mengharap ridha Allah swt.

Keutamaan Jihad di Jalan Allah
Ada banyak dalil yang menerangkan keutamaan jihad di jalan Allah, seperti;

1. Jihad di jalan Allah adalah bisnis yang menguntungkan.
“Sesungguhnya Allah telah (berjanji untuk) membeli dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan (menganugerahkan) surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah. Mereka membunuh dan dibunuh. (Itu telah menjadi) janji atas diri-Nya (sehingga) menjadi janji yang benar, (yang tertulis) di Taurat, Injil, dan Al-Quran. Siapakah yang lebih menepati janji selain Allah?? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu! Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)

BACA JUGA:  Isi Kandungan Surah Al Isra' Ayat 26-27

2. Besarnya pahala mereka yang bertahan dan berjaga-jaga di wilayah perbatasan, untuk menghadang serangan musuh.
Diriwayatkan dari Salman, Rasulullah saw. bersabda, “Berjaga-jaga di wilayah perbatasan sehari semalam, lebih baik daripada qiyamul lail dan puasa selama sebulan. Jika dia mati (dalam kondisi demikian), pahala amalnya itu dan rezekinya akan dialirkan kepadanya. Dan dia terjaga dari fitnah (huru hara).”

3. Keutamaan berjaga-jaga (dari serangan musuh- pen) di jalan Allah. Diriwayatkan dari Abu Raihanah: Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Api neraka tidak akan menyentuh mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga (begadang) di jalan Allah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. bersabda, “Dua mata yang tak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan yang terjaga di jalan Allah.”

4. Tak ada yang menyamai keutamaan jihad. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, “Tunjukkan kepadaku amal yang setara dengan jihad!” Rasulullah menjawab, “tidak ada. Ketika seorang mujahid keluar (untuk berjuang), sanggupkah kamu terus menerus shalat, terus menerus berpuasa? Siapa yang sanggup melakukan itu semua?”

BACA JUGA:  Hadist dan Ayat Al-Quran Tentang Menutup Aurat

Tingkatan-tingkatan Jihad
Ada empat tingkatan jihad: jihad melawan nafsu (diri sendiri), jihad menghadapi setan, jihad melawan orang-orang kafir dan munafik, serta jihad memberantas kezaliman, bid’ah, dan kemungkaran.

1. Jihad melawan nafsu. Mempunyai empat tingkatan: pertama, belajar persoalan agama dan hidayah. Kedua,mengamalkan apa yang dipelajari. Ketiga, mengajarkan kepada orang lain dan mengajak mereka untuk mengamalkannya.Keempat, perjuangan untuk tetap sabar dalam sulitnya berdakwah, serta sabar dari orang-orang yang menyakiti dirinya. Dan dalam menghadapi itu semua, adalah semata-mata karena Allah swt.

2. Jihad menghadapi setan. Ada dua tingkatan: pertama, perjuangan dalam menolak syubhat dan keraguan iman yang dihembuskan oleh setan. Kedua, perjuangan untuk menahan keinginan dan syahwat yang dibisikkan oleh setan.

Jihad yang pertama dilakukan setelah mantapnya keyakinan, sedangkan jihad yang kedua dilaksanakan setelah adanya kesabaran. Allah swt. berfirman, “Dan kami telah menjadikan di antara mereka (Bani Israil) teladan-teladan yang memberi petunjuk (kepada masyarakat berdasar) perintah kami, (dan Kami menjadikan mereka demikian) ketika (yakni karena) mereka bersabar. Sejak dulu mereka yakin dengan ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

BACA JUGA:  Arti Kata Dhomir

Dan setan adalah musuh yang paling jahat. Allah swt. berfirman, “Setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh! Dia mengajak golongannya hanyalah agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir: 6)

3. Jihad melawan orang kafir dan munafik. Ada empat tingkatan: hati, lisan, harta, dan tangan. Jihad melawan orang kafir lebih banyak menggunakan tangan, dan jihad melawan orang munafik lebih banyak dengan lisan.

4. Jihad memberantas kezaliman, ketidakadilan, bid’ah, dan kemungkaran. Mempunyai tiga tingkatan: pertama, dengan tangan (kekuatan), jika seorang mujahid mempunyai kemampuan untuk itu. Jika tidak mampu, maka kedua, dengan lidah. Jika masih merasa tak mampu, maka cukup berjihad dengan hati (dengan mengingkari-pen). Diriwayatkan dari Abu Sa’id, Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya (kekuatan). Jika tak sanggup, cegahlah dengan lisan. Jika masih tak sanggup, maka cukup dengan hati. Yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman.”

Itulah tiga belas tingkatan jihad. Orang yang paling sempurna di Mata Allah adalah yang sanggup melakukan semuanya. Manusia berbeda-beda derajatnya di sisi Allah sesuai dengan jihad mereka.