Gempa yang Terjadi di Bawah Permukaan Bumi

ASTALOG.COM – Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang di alami selama periode waktu. Moment magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia.

Skala Rickter adalah skala yang di laporkan oleh observatorium seismologi nasional yang di ukur pada skala besarnya lokal 5 magnitude. Kebanyakan gempa Bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa Bumi akan terjadi.

Gempa Bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tersebut. Gempa Bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa Bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km. Beberapa gempa Bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa Bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. Beberapa gempa Bumi juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam meskipun hal ini jarang terjadi.

Gempa Bumi yang Terjadi di Bawah Permukaan Bumi

Gempa Bumi yang terjadi di bawah permukaan Bumi termasuk dalam kategori jenis gempa Bumi berdasarkan hiposentrum gempa atau jarak pusat gempa. Gempa Bumi jenis ini dapat dibedakan atas:

  1. Gempa dalam, yaitu gempa Bumi yang hiposetrumnya terletak antara 300-700 km di bawah permukaan Bumi.
  2. Gempa Intermidier, yaitu gempa Bumi yang hiposentrumnya terletak antara 100 – 300 km di bawah permukaan Bumi.
  3. Gempa dangkal, yaitu gempa Bumi yang hiposentrumnya terletak kurang dari 100 km di bawah permukaan bumi.

Jenis Gempa Bumi Lainnya

Selain dari jenis gempa Bumi yang terjadi di bawah permukaan Bumi, yaitu berdasarkan hiposentrum gempa atau jarak pusat gempa, masih ada beberapa jenis gempa Bumi lainnya, yaitu:

1. Berdasarkan Bentuk Episentrum Gempa

  1. Gempa Linier, yaitu gempa yang terjadi jika episentrumnya berbentuk garis. Gempa linier biasanya terjadi pada gempa tektonik. Sebab tanah patahan merupakan sebuah garis dan bukan titik.
  2. Gempa Sentral, yaitu gempa yang terjadi jika episentrumnya berbentuk titik. Gempa Vulkanik dan gempa runtuhan adalah beberapa contoh jenis gempa sentral.

2. Berdasarkan Letak Episentrum Gempa

  1. Gempa Laut, yaitu gempa yang terjadi jika episentrumnya terletak di dasar laut.
  2. Gempa daratan, yaitu gempa yang terjadi jika episentrumnya terletak di darat.

3. Berdasarkan Jarak Episentralnya

  1. Gempa setempat, yaitu gempa yang terjadi jika jarak tempat gempa terasa ke episenralnya kurang dari 10.000 km.
  2. Gempa Jauh, yaitu gempa yang terjadi jika jarak episentral dan termpat terasanya berjarak sekitar 10.000 km.
  3. Gempa sangat jauh, yaitu gempa yang terjadi jika jarak episentralnya dan tempat gempa terasa lebih dari 10.000 km.

4. Berdasarkan Penyebabnya

  1. Gempa Tektonik adalah gempa yang terjadi karena peristiwa dislokasi. Gempa terktonik disebut juga gempa dislokasi dan biasanya mempunyai tingkat kerusakan paling parah apalagi kalau hiposentrumnya dangkal.
  2. Gempa Vulkanik adalah gempa yang terjadi karena letusan gunung berapi.
  3. Gempa Runtuhan adalah gempa yang terjadi akibat runtuhnya bagian atas litosfer keran bagian sebelah dalam berongga.

Klasifikasi Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum

  1. Gempa dalam ( lebih dari 300 km )
  2. Gempa Intermedier ( 100 km – 300 km)
  3. Gempa dangkal (kurang dari 100 km)

Klasifikasi Gempa Berdasarkan Jarak Episentral

  1. Gempa lokal ( kurang dari 10.000 km)
  2. Gempa jauh (10.000 km)
  3. Gempa sangat jauh (lebih dari 10.000 km)