Jelaskan Bunyi dari Prasasti Ciaruteun

ASTALOG.COM – Berbicara mengenai peninggalan sejarah, prasasti selalu menjadi salah satu benda yang menjadi bukti hidupnya peradaban masa lalu. Prasasti memegang peran penting sebagai bukti sejarah.

Prasasti juga kerap hubungannya dengan sebuah kerajaan. Sebagai contoh, salah satu prasasti yang menjadi bukti adanya sebuah Kerajaan adalah prasasti Ciaruteun.

Pengertian Prasasti Ciaruteun
Dilansir dari wikipedia, Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, tidak jauh dari sungai Ci Sadane, Bogor. Prasasti tersebut merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara.

Prasasti Ciaruteun atau Prasasti Ciampea adalah prasasti yang terbuat dari batu alam. Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun, Bogor pada tahun 1863 oleh pemimpin Museum Nasional (dulu: Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Prasasti Caruteun hingga kini masih tetap berada tempat awal kali ia ditemukan yaitu di di Desa Ciaruteun Ilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Adapun salinannya bisa ditemukan di Museum Sejarah Jakarta.

Dilansir dari wikipedia, Prasasti Ciaruteun terletak di Desa Ciaruteun Ilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor; tepatnya pada koordinat 6°31’23,6” LS dan 106°41’28,2” BT.

Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor) sebelumnya dikenal dengan sebutan prasasti Ciampea, ditemukan di Sungai Ciaruteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Yang menarik perhatian dari prasasti ini adalah lukisan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan disebelah atas hurufnya. Prasasti ini terdiri dari empat baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh.

Berikut adalah terjemahan dari prasasti Ciaruteun;

vikkrantasyavanipat eh,
srimatah purnnavarmmanah,
tarumanagarendrasya,
visnoriva padadvayam

Artinya:
ini (bekas) dua kaki,
yang seperti dewa wisnu,
ialah kaki yang Mulia Sang Purnawarman,
raja negeri Taruma,
raja yang gagah berani di dunia.

Berdasarkan isi prasasti ini kita dapat mengetahui bawah prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan raja Purnawarman yang memerintah di kerajaan Trauma (Tarumanegara). Dan apabila kita memerhatikan irama, sepertinya memiliki kesamaan dengan prasasti yang ditemukan di Kutai, yang dikeluarkan oleh raja Mulawarman yaitu sama-sama menggunakan irama anustubh. Hal ini mungkin adanya kesamaan kebudayaan yang berkembang antara di Taruma dan Kutai. Selanjutnya kesamaan nama belakang mereka yaitu Warman semakin memperkuat dugaan tersebut.

Melihat bentuknya, prasasti ini mengingatkan adanya hubungan dengan prasasti raja Mahendrawarman I dari keluarga Palla (India) yang didapatkan di Dalavanur. Apabila kita hubungkan antara irama penulisan (anustubh) dan bentuknya kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa Kerajaan Taruma dan Kutai memiliki kesamaan kebudayaan dengan keluarga Palla di India.

Apabila kita melihat isinya, menunjukan bahwa Sang Purnawarman ingin menunjukan kepada rakyatnya bahwa ia seorang raja negeri Taruma yang gagah berani di dunia, yang ditandai dengan cap sepasang telapak kakinya yang bagai kaki Dewa Wisnu. Cap telapak kaki ini melambangkan kekuasaan Purnawarman atas daerah ditemukannya prasasti, yang menegaskan kedudukan diibaratkan Dewa Wisnu sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.

Bahan Prasasti Ciaruteun
Dilansir dari wikipeida, prasasti Ciaruteun dibuat dari batu alam.

SISWA LAIN JUGA MEMBACA INI: