Letak Sungai Han

ASTALOG.COM – Sungai Han adalah sebuah sungai yang terletak di Korea Selatan yang terbentuk akibat pertemuan dari Sungai Namhan (Sungai Han Selatan), yang bermata air di Gunung Daedeok, dan Sungai Bukhan (Sungai Han Utara), yang berhulu dari lembah Gunung Geumgang di Korea Utara. Sungai Han mengalir melewati Seoul dan bergabung dengan Sungai Imjin sebelum bermuara ke Laut Kuning. Total panjang dari Sungai Han adalah 514 km. Walaupun tidak begitu panjang, namun Sungai Han memiliki ujung lebar yang beraliran sangat luas. Di Seoul, lebarnya adalah lebih dari 1 km. Sebelum pembangunan sejumlah dam, sungai ini dikenal memiliki debit air yang sangat besar, yaitu 1:390 (rasio antara jumlah arus maksimum dan minimum).

Sungai Han dan sekitarnya memainkan peranan penting dalam sejarah Korea. 3 Kerajaan Korea bersaing untuk menguasai wilayah lembah sungai Han, di mana sungai ini digunakan sebagai rute perdagangan ke Tiongkok (melalui Laut Kuning). Namun, saat ini sungai Han tidak lagi aktif digunakan untuk navigasi, karena muaranya terletak di dalam perbatasan kedua negara di semenanjung Korea, sehingga masyarakat umum dilarang untuk memasukinya.

Keajaiban di Sungai Han

Keajaiban di sungai Han adalah sebuah istilah yang merujuk pada periode pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, industrialisasi, pencapaian teknologi, urbanisasi, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, modernisasi, globalisasi dan kebangkitan teknologi yang terjadi di Korea Selatan dari puing-puing perang Korea, Penjajahan Jepang atas Korea dan Perang Dunia II hingga akhirnya Korea Selatan menjadi sebuah negara makmur yang maju. Periode ini dimulai dari Rencana 5 Tahun yang dicanangkan pada tahun 1960, hingga periode industrialisasi dan kebangkitan Korea Selatan hingga saat ini.

Faktor paling signifikan dalam industrialisasi yang sangat pesat tersebut adalah perencanaan strategi ekonomi tahun 1960-an yang berfokus pada ekspor manufaktur dengan angkatan kerja intensif. Strategi ini sesuai dengan kondisi Korea Selatan pada saat itu yang miskin akan hasil sumber daya alam, rendahnya angka pendapatan, serta pasar domestik yang kecil. Dengan strategi ini Korea Selatan bisa mendapatkan hasil yang bisa menyokong ekonominya. Pemerintahan pun ikut serta dalam rencana ini. Aliran bantuan dana dari pihak asing yang masuk menambah kekurangan kas dalam negeri. Usaha ini akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekspor dan angka pendapatan yang terus meningkat.

Istilah “keajaiban” seringkali digunakan untuk memaparkan kekuatan ekonomi Korea Selatan yang sangat berpengaruh dalam skala global dengan munculnya perusahaan-perusahaan raksasa seperti Samsung, LG, dan Hyundai-Kia pada abad ke-21. Kemajuan itu dipelopori oleh ibukota Seoul yang dilalui oleh Sungai Han. Ungkapan ini sekaligus mengikuti istilah terkenal, yaitu “Keajaiban di Sungai Rhine“, yang merupakan periode kebangkitan Jerman Barat setelah Perang Dunia II. Selain ekonomi yang didukung oleh para pengusaha kaya di Korea Selatan (Chaebol), ekonomi Korea Selatan mendapat sumbangan triliunan won dari bisnis K-pop, K-drama, dan wisata kosmetik dan operasi plastik.

Kata “keajaiban” digambarkan dengan pencapaian pesat Korea Selatan menjadi negara ekonomi terbesar ke-13 dunia dan menjadi contoh bagi negara-negara berkembang yang lain, yang dianggap banyak orang sangat mustahil pada saat itu. Ketika itu Korea Selatan adalah negara yang tercabik-cabik perang Korea dan jutaan warga negaranya hidup dalam kemiskinan serta ratusan ribu pengangguran berjuang keras memenuhi keperluan hidup.

Dalam waktu kurang dari 4 dekade, negara miskin ini berubah menjadi salah satu pusat ekonomi dunia. Ibukota Seoul dengan cepat bertransformasi menjadi kota utama dan pusat bisnis dan perdagangan di Asia serta mempunyai infrastruktur paling mutakhir. Pencapaian ini dianggap sebagai kebanggaan nasional dan kemampuan unggul bangsa Korea.