Marsose Adalah

Loading...

ASTALOG.COM – Dilansir dari wikipedia, Korps Marechaussee te Voet, di Indonesia dikenal sebagai Marsose, adalah satuan militer yang dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda oleh KNIL (tentara kolonial) sebagai tanggapan taktis terhadap perlawanan gerilya di Aceh. Korps ini tidak ada ikatan dengan Koninklijke Marechaussee di Belanda.

Marsose ditugaskan di Hindia Belanda, antara lain dalam pertempuran melawan Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara, yang pada tahun 1907 berhasil mengalahkan dan menewaskan Sisingamangaraja XII. Pada Perang Aceh, Marsose dapat menguasai pegunungan dan hutan rimba raya di Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan Aceh.

Marsose merupakan salah satu pasukan elit KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger), yang di dirikan pada tanggal 4 Febuari 1863 dengan nama Marechaussee. Dimana, keberadaan mereka berakakr pada masa pendudukan Perancis di belanda. Marsose berasal dari bahasa Perancis ( Marechaussee, kesatuan krops polisi Prancis yang didirikan pada abad 17, semasa pemerintahan Raja Louis 15). kesatuan ini sangat dihormati dan berkembang menjadi Gendermarie (satuan polisi bermobil).

BACA JUGA:  Pigmen Melanin pada Lapisan Kulit Manusia

Di Hindia Belanda, Marsose yang semula beranggotakan 212 perajurit. setatus meraka adalah krops gewapende politie dieneren (kesatuan polisi bersenjata). Dalam tugasnya, mereka dibekali senjata khas penduduk setempat, semacam kelewang dan karaben. Pasukan yang sanggup bergerak cepat dalam seragam hijau ini tidak trgantung pada angkutan militer seperti kebanyakan tentara umumnya. Bahkan, mereka tidak tergantung pada logistik, dimana mereka telah dibekali ke sanggupan survive dalam kondisi paling ekstrem. Marsose bukan sekedar krops polisi bersenjata, melainkan sudah dianggap pasukan khusus – seperti pasukan komando atau Kopasus di Zaman sekarang.

Konsep dalam Marsose tidak jauh berbeda dengan pasukan khusus yang ada dan berkembang sekarang ini. Konsepnya yaitu sebuah pasukan kecil namun memiliki daya gempur dahsyat terhadap lawan.

Awalnya Korps Marechaussee te Voet atau Marsose di Belanda dibentuk pada 26 Oktober 1814 oleh Pemerintah Belanda berdasarkan dekrit no 48. Namun Korps Marechaussee te Voet berbeda dengan Marsose yang bertugas di Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Sementara menurut Paul Vant Veer dari Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid X, Jakarta, Marsose di Hindia Belanda dibentuk atas usulan dari Teuku M Arif, jaksa kepala di Kutaraja, Aceh yang pro Belanda. Dia memberi nasihat kepada Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal Van Teijn untuk membentuk sebuah unit-unit tempur kecil infanteri antigerilya yang memiliki mobilitas tinggi.

BACA JUGA:  Keputusan Kongres Pemuda II

Lalu dibentuklah Marsose di Hindia Belanda yang personelnya merupakan anggota pilihan dari berbagai kesatuan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) baik pribumi maupun Eropa pada. Banyak orang pribumi dengan kemahiran dalam pertarungan menjadi anggota Marsose karena mereka lebih familiar dengan iklim tropis.

Mereka memakai bedil dengan ukuran yang lebih pendek dari bedil biasa (karaben) dan tidak tergantung angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Marsose juga tidak bergantung pada jalur suplai logistik.
Pasukan ini selain dipersenjatai karaben juga dipersenjatai senjata tajam tradisional khas penduduk setempat seperti klewang, rencong dan sebagainya.

Marsose memiliki karakter tersendiri dalam bertempur. Mereka tidak terlalu mengandalkan senjata api, melainkan senjata tajam sejenis klewang untuk menghabisi lawannya dalam jarak dekat.

BACA JUGA:  Apa Nama Planet yang Mirip Dengan Bumi?

Selain itu penggunaan senjata tajam sangat membantu prajurit khusus ini sehingga bisa membunuh lawan tanpa harus membuat gaduh dan kehilangan peluru. Pembentukan pertama korps ini terdiri dari satu divisi yang terbagi dalam dua belas brigade, yang masing-masing terdiri dari dua puluh orang serdadu Ambon dan Jawa dibawah pimpinan seorang sersan Eropa dan seorang kopral Indonesia.

Pasukan ini memulai kiprahnya di Hindia Belanda (nusantara) dengan terjun di Bumi Serambi Mekkah pada tahun 1890. Salah satu unit Marsose yang diterjunkan di Aceh dikenal dengan nama Kolone Macan. Kolone Macan adalah unit khusus yang dibentuk untuk memadamkan perlawanan para pejuang Aceh.

Pasukan khusus ini berhasil memukul mundur pejuang Aceh dan sempat menangkap salah satu Panglima Aceh, Teuku Umar yang kemudian mati Syahid. Cara kerja pasukan ini terkenal kejam dan sadis saat mereka melalukan sweeping dan eksekusi di tempat. Berita kesadisan Marsose itu terdengar sampai di daratan Eropa.