Contoh Surat Pribadi

ASTALOG.COM – Surat pribadi adalah jenis surat yang berisi keperluan pribadi yang biasanya ditulis secara pribadi dan ditujukan kepada orang lain dengan menggunakan bahasa yang tidak baku.

Secara garis besar, sebenarnya surat pribadi tidak memiliki peraturan yang mengikat. Surat pribadi bisa ditulis menurut selera masing-masing penulis.

Walaupun begitu,etika dan penggunaan bahasa yang sopan tentu saja harus tetap diperhatikan sesuai latar belakang dan kepada siapa surat itu akan dilayangkan.

Ciri-ciri Surat Pribadi
Surat pribadi setidaknya memiliki 5 ciri berikut:

1. Tidak memiliki kop surat
2. Tidak memiliki nomor surat
3. Salam pembuka ataupun penutup sangat bervariasi dan lebih bersifat santai, non formal
4. Penggunaan bahasa bebas (tidak baku) sesuai keinginan penulis
5. Format surat bebas

Contoh Surat Pribadi
Berikut beberapa contoh dari surat pribadi

1. Surat dari Ahmad Irawan untuk Budi Lesmana:

Bandung, 25 Mei 2014

Sahabatku,
Budi Lesmana
Di Kalianda
Asalamualaikum

Hai Budi, apa kabar? Bagaimana kabarmu Bud ? Sehat dan bahagia
bukan? Sudah lama rasanya ya kita tidak bertemu.Sejak tiga tahun yang lalu tepatnya saat aku dan keluarga memutuskan pindah ke Bandung aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentangmu.Aku berharap kamu selalu dalam perlindungan Allah di manapun berada.

Akhir bulan ini keluargaku berencana pulang ke Lampung untuk menjenguk nenek.Aku berharap pada hari itu aku bisa ikut rombongan menjenguk kampung halaman sekalian bersilaturahmi dengan kalian para sahabat kecilku yang sangat ku rindu.

Tapi apa dikata jika Allah menakdirkan hal lain. Hari itu ternyata aku ada ujian semester di kampus. Sehingga dengan berat hati napaknya perjumpaan kita harus diundur lain kali.

Bud, sekian dulu, ya!Sampaikan salam sekaligus permintaan maafku buat teman-teman yang lain. Semoga lain kali kita bisa bertemu.

Sahabatmu,

Ahmad Irawan

2. Surat Marina Pertiwi untuk Rina Damayanti

dikutip dari Buku Bahasa dan Sastra Indonesia I, Oleh: Maryati, Sutopo

Kotaraja, 21 Maret 2007

Sahabatku,
Rina Damanyanti
Di Kotaraja
Salam persahabatan,

Hai, apa kabar? Bagaimana keadaanmu? Sehat dan bahagia bukan? Apakah kamu masih menanam bunga mawar? Aku ingin sekali bertemu kamu lho Rin? Kamu pasti tambah cantik, ya? Atau mungkin tambah gemuk?

Rina, sahabatku yang baik. Sejak kita berpisah, banyak hal yang terjadi di sini. Kota kita memang berkembang sangat pesat. Gedung yang dulu menjadi tempat pentas dan latihan drama itu sudah rata dengan tanah. Kini sudah muncul bangunan super mewah, sayang tempat itu hanya untuk belanja! Rasanya tak mungkin untuk berkesenian, apalagi untuk pentas drama.

Rin, sekian dulu, ya! Jangan lupa membalasnya. Kutunggu kabarmu! Sampaikan salamku untuk Ibu dan Bapak. Juga Mas Dodi. Terima kasih Rin … sampai jumpa dalam liburan yang akan datang.
Sampai jumpa.
Sahabatmu,

Marina Pertiwi

3. Surat Nadeth untuk Catur Yulianti di Semarang

dikutip dari: Aktif Berbahasa Indonesia oleh Dewi Indrawati dan Didik Durianto

Solo, 5 Mei 2007

Ninik Catur Yuliati
Jl. Gotong royong No.14 I/I
Tinjomoyo, Banyumanik
Semarang

Ninik yang manis,
Halo, bagaimana ni kabar kamu? Aku harap kamu baik-baik saja dan sehat selalu ya! Soalnya aku di sini juga sehat dan baik-baik saja.

Eh, Nik, bulan depan aku mau ke rumah tanteku yang ada di Semarang. Jadi aku bisa sekalian mampir ke rumah kamu. Boleh kan kalau aku main ke rumah kamu? Harus boleh lho, soalnya aku sudah kangen banget dengan kamu. Awas, kalau tidak boleh! Jangan marah lho, Nik, aku kan cuma bercanda. Nik, kamu masih punya anjing tidak? Berapa sekarang jumlahnya? Pasti udah tambah banyak. Mereka lucu-lucu dan pinter-pinter deh.