Fransiscus Xaverius Disebut

Loading...

ASTALOG.COM – Dilansir dari wikipedia, Santo Fransiskus Xaverius (Bahasa Latin: Sanctus Franciscus Xaverius, Bahasa Portugis: Sao Francisco Xavier) (7 April 1506 – 2 Desember 1552) adalah seorang pionir misionaris Kristen, pendiri Serikat Yesus (Ordo Yesuit), dan duta Injil terbaik yang pernah ada.

Fransiskus terlahir bernama Francisco de Jaso y Azpilcueta di Kastil Xavier (dalam bahasa Spanyol modern Javier, bahasa Basque Xabier, bahasa Katalan Xavier) dekat Sangüesa dan Pamplona, di Navarra, Spanyol. Lahir sebagai putra bangsawan Spanyol, Basque di Navarro.

Ia terlahir sebagai putera bangsawan Basque di Navarro dengan nama Francisco de Jaso y Azpilcueta di Kastil Xavier (Bahasa Spanyol modern : Javier, Basque : Xabier, Katalan : Xavier). Pada usia 19 tahun, pemuda bangsawan yang cerdas ini masuk Universitas Paris, di mana dia lulus dengan licence ès arts pada tahun 1530. Dia kemudian melanjutkan studi dalam bidang teologi di kota itu, dan berkenalan dengan st.Petrus Faber dan st.Ignatius de Loyola yang pada waktu itu sedang berusaha membentuk sebuah Serikat Religius. Melihat kecerdasan dan semangat Fransiskus; Ignatius berusaha mengajaknya untuk bergabung dengan Serikat Jesus yang hendak didirikannya.

Pada mulanya Fransiskus menolak. Pemuda yang suka bersenang-senang ini tidak pernah memikirkan tawaran tersebut. Kemudian, St. Ignatius mengulangi kata-kata Yesus dalam Kitab Suci kepadanya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya..?” Akhirnya, Fransiskus memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya bukanlah untuk dunia ini melainkan untuk membaktikan dirinya kepada Tuhan. Bersama dengan Ignatius, Pierre Favre (Petrus Faber) dan empat orang lainnya, Fransiskus Xaverius mengikat janji di Montmartre dan mendirikan Serikat Yesus pada 15 Agustus 1534, dengan mengucapkan kaul kemiskinan dan kesucian.

BACA JUGA:  Mengapa Iklim Diklasifikasikan Berdasarkan Garis Lintang Bukan Garis Bujur?

Awal Mula Perjalanan Fransiskus
Fransiskus Xaverius ditahbiskan sebagai imam di Venesia (1537) dan diutus Ignasius ke India (1539). Karena Raja Yohanes III (Bahasa Portugis: Dom Joao III) dari Portugal menghendaki agar para misionaris Yesuit berkarya di Hindia-Portugis, maka ia pun diutus ke sana pada tahun 1540.

Perjalanan Misi
Untuk menuju Hindia, Fransiskus melewati Lisbon. Di Lisbon Fransiskus menemui Rm. Rodriguez yang sedang bertugas di suatu rumah sakit. Mereka tinggal di rumah sakit tersebut untuk menolong orang-orang yang sakit, sekaligus berkatekese dan memberikan pelajaran di kota serta mendengarkan pengakuan-pengakuan dosa pada hari Minggu dan hari-hari libur. Dari Lisboa, bersama dua Yesuit lainnya dan Martin de Sousa raja muda yang baru, melanjutkan perjalanan. Ternyata Fransiskus berada satu kapal dengan Don Martin Alfonso de Sousa, Gubernur Hindia. Ia pun menggunakan kesempatan yang ada untuk memberitakan Injil kepadanya, berkatekese, berkhotbah, melayani orang sakit, dan mengubah kabin kapal menjadi tempat perawatan. Bahkan, saat berada di kapal itu Fransiskus menengahi pertikaian, menenangkan keluhan-keluhan, menghadapi sumpah serapah dan perjudian, dan memperbaiki ketidakteraturan lainnya. Pelayaran mereka menghabiskan waktu 13 bulan untuk mencapai Goa. Sebelum mencapai Goa — India, ibukota koloni Portugis, mereka sempat singgah di Mozambik. Akhirnya mereka tiba di Goa tanggal 6 Mei 1542. Jabatan resminya di Goa adalah Nuncio Apostolik (duta besar kerasulan). Fransiskus berkarya di Goa selama 3 tahun. Selain ke Goa, Fransiskus juga melakukan perjalanan ke Srilangka, dan Teluk Comorin. Di Goa ia mendirikan “sekolah international St. Paulus”.

BACA JUGA:  Prasasti Disebut Juga?

Di Tanah Misi
Tahun 1542, ia mengadakan perjalanan misinya yang pertama di antara kaum Parava, para penyelam mutiara di sepanjang pesisir Timur India Selatan, sebelah Utara tanjung Comorin. Ia berusaha memberitakan kabar baik kepada Raja Travancore, di pesisir Barat, dan juga mengunjungi Sailan.

Ia memulai misinya dengan mengajarkan prinsip-prinsip agama dan praktik-praktik kebajikan. Kecuali beberapa pakaian dan buku, Fransiskus menolak semua hadiah dari raja. Ia juga menolak didampingi seorang pelayan, dengan mengatakan bahwa cara terbaik untuk memiliki kehormatan sejati adalah dengan mencuci pakaian sendiri, merebus masakan sendiri, dan tidak berhutang pada siapa pun. Sepanjang hari dia mengerjakan pelayanannya. Sejak pagi ia menolong dan menghibur orang sakit di rumah sakit dan di penjara-penjara yang kotor dan bau, kemudian berjalan di jalan-jalan sambil membunyikan bel memanggil anak-anak dan para budak untuk berkatekese. Mereka berkumpul mengelilinginya dan ia mengajarkan syahadat iman (kredo), doa-doa, dan nilai-nilai kristiani kepada mereka. Ia mengadakan misa untuk para penderita lepra, berkhotbah di depan umum (termasuk kepada orang-orang India), serta mengunjungi rumah-rumah penduduk. Keramahan dan kelembutan karakternya, serta perhatiannya yang penuh kemurahan hati, begitu memikat hati banyak orang. Cinta dan kerendahan hatinya membuatnya menempatkan diri sebagai seseorang yang sederajat dengan mereka. Ia makan makanan yang sama dengan makanan orang miskin, yaitu nasi dan air. Ia juga tidur di atas tanah dalam sebuah gubuk.

BACA JUGA:  Penerapan Paham Nazisme di Jerman

Pengajaran-pengajaran tentang kebenaran-kebenaran agama juga dituangkannya dalam lagu-lagu populer. Cara ini begitu berhasil sehingga lagu-lagu ini dinyanyikan di mana-mana (di jalan-jalan, rumah-rumah, dan tempat-tempat kerja).

Berikut beberapa Misi yang dijalankan Fransiskus
1. Misi di Malaka
2. Misi di Jepang
3. Misi di Tiongkok