Batuan Korundum Adalah?

Loading...

ASTALOG.COM – Dilansir dari wikipedia, Korundum (dari Bahasa Tamil: kurundam) adalah kristal aluminium oksida dan merupakan salah satu mineral pembentuk batuan. Secara alami mineral ini jernih, tapi dapat memiliki warna yang berbeda dengan adanya zat pengotor.

Spesimen yang transparan digunakan sebagai batu permata, yang disebut rubi jika berwarna merah dan safir jika berwarna selain merah. Selain kekerasannya, korundum dikenal karena densitasnya yang tinggi (4,02 g/cm³), yang sangat tinggi untuk suatu mineral transparan yang tersusun dari unsur ber-massa atom rendah aluminium dan oksigen.

Kekerasan korundum dua kali lebih keras daripada topaz, namun intan hampir empat kali lebih keras daripada korundum. kekerasan absolut diukur menggunakan sklerometer.

Uji sklerometer Turner terdiri dari pengukuran lebar goresan secara mikroskopis yang dihasilkan oleh intan dengan bobot tertentu, dan ditarik melintasi penampang spesimen dengan kondisi tertentu. Alat ini ditemukan oleh Prof. Thomas Turner pada tahun 1896.

BACA JUGA:  Siapa Pencipta Lagu ASEAN WAY?

Selain kekerasannya, korundum dikenal karena densitasnya yang tinggi (4,02 g/cm³), angka ini merupakan nilai pengukuran massa jenis yang sangat tinggi untuk suatu mineral transparan yang tersusun dari unsur ber-massa atom rendah aluminium dan oksigen. Beberapa emery atau corundite batuan granular gelap sebagian besar terdiri dari mineral korundum ( aluminium oksida ).

Ruby dan Sapphire secara ilmiah terdiri dari mineral korundum tetapi hanya berbeda warna. Ruby adalah varietas merah, dan Sapphire adalah varietas yang meliputi semua warna lain, kedua istilah ini digunakan untuk menyebutkan berbagai batu permata yang tersusun dari mineral korundum, jika tidak maka hanya disebut Korundum.

Pada 1837, Marc Antoine Gaudin membuat batu ruby sintetis pertama dengan menggabungkan alumina pada suhu tinggi dengan sejumlah kecil kromium sebagai pigmen.

BACA JUGA:  Intimidasi Adalah?

Setelah itu Pada tahun 1847, Ebelmen membuat White Sapphire Sintetis dengan menggabungkan alumina di asam borat .

Empat puluh tahun kemudian, tahun 1877 Frenic dan Freil membuat corundum crystal dari batu-batu kecil yang dapat dipotong. Sedangkan kolaborasi Frimy dan Auguste Verneuil memproduksi Ruby sinteisis dengan menggabungkan BAF 2 dan Al2 O3 dengan kromium sedikit pada suhu di atas 2.000 ° C (3632 ° F).

Kemudian Pada tahun 1903, kimiawan Perancis Auguste Verneuil mengumumkan hasil produksi batu ruby sintetis menggunakan metode The Verneuil Proses pada skala komersial. The Verneuil Proses adalah metode sukses komersial manufaktur pertama untuk produksi batu permata sintetis.

Batu Ruby dan Sapphire varietas korundum. serta Berlian Tiruan (diamond simulant Rutile) dan strontium titanat, kadang-kadang strontium titanat merupakan berlian tiruan, pada masa itu, di produksi oleh Auguste Verneuil menggunakan The Verneuil Proses, Cara kerja alat ini melibatkan pencairan zat bubuk halus menggunakan api oxyhydrogen,

BACA JUGA:  Konsep Ekologi dalam Bidang Politik, Ekonomi, dan Antropologi

Pada tahun 1947, Devisi Linde Air Products, Union Carbide mempelopori penggunaan proses Verneuil untuk membuat Sapphire Star, dan produksi dihentikan pada tahun yang sama sebab persaingan luar negeri yang ketat..