Dampak Negatif Penggundulan Hutan

ASTALOG.COM – Penggundulan hutan atau deforestasi adalah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk pemakaian nir-hutan (non-forest use), seperti pertanian, peternakan atau kawasan perkotaan.

Istilah deforestasi hampir sering disalahartikan untuk menggambarkan perkerjaan penebangan yang semua pohonnya di suatu daerah ditebang habis. Namun, di kota beriklim ugahari yang lumayan lengas (temperate mesic climate), penebangan semua pohon sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan kehutanan yang berkelanjutan (sustainable forestry)–tepatnya dianggap sebagai ‘panen permudaan’ (harvest regeneration).

Berbagai Akibat Negatif Penebangan Hutan

1. Pemikiran hemat nan hanya memikirkan laba nan didapat seringkali membuat manusia berusaha memanfaatkan sebanyak-banyaknya dari alam buat memperoleh laba sebanyak-banyaknya. Mereka memang membayar murah, bahkan perdeo sebab tak memiliki izin buat penebangan hutan, namun semua itu ternyata harus dibayar mahal dengan berbagai akibat negatif dari penebangan hutan liar ini. Baik akibat bagi lingkungan, makhluk hayati atau bahkan manusia itu sendiri.

2. Tanah Menjadi Tidak Subur
Ini ialah salah satu akibat negatif dari penebangan hutan liar nan seringkali tak terpikirkan. Penebang hutan liar biasanya menebang tanpa banyak perhitungan akan akibat negatif nan akan terjadi pada lingkungan sekitarnya. Termasuk ketersediaan kayu, layak tebang atau tidak, dan lain sebagainya. Mereka tak menyadari bahwa ketika hutan ditebangi secara liar maka akan banyak loka nan kondisi lahannya menjadi gundul.

3. Tidak adal lagi pepohonan rindang nan menaungi tanah. Begitupun batang-batang pohon nan akhirnya terbakar sebab terik matahari nan membakar. Parahnya lagi ketika residu penebangan tersebut memang sengaja dibakar nan membuat kondisi tanah menjadi benar-benar kering.

4. Terik matahari dengan leluasanya sampai ke tanah secara langsung. Hal ini bisa membuat nutrisi nan terdapat pada tanah ikut menguap dan kering. Ketika hujan tiba, sisa-sisa nutrisi terbawa air dan hilang seketika. Akibatnya tanah tak dapat ditanami lagi dan menjadi tidak terpakai lagi. Seperti barang bekas nan sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi buat menjadi huma produktif.

5. Ketika huma tak fertile maka secara otomatis para petani kehilangan lahannya. Akibatnya ia harus mencari huma baru buat digarap kembali. Huma baru tersebut pastinya ia peroleh dengan membuka huma baru di wilayah lain. Pembukaan huma ini turut serta mengusir beberapa makhluk hayati nan menjadi peghuni tetap huma tersebut. Mulai dari berbagai serangga, burung, atau bahkan hewan-hewan nan hayati di hutan seperti tupai, orang utan, gajah, harimau, dan lain sebagainya.

6. Kurangnya Daerah Resapan Air
Penebangan hutan liar ini juga membuat berkurangnya daerah resapan air. Karena pohon-pohon nan semula ada menjadi tak berfungsi lagi buat menyerap air tanah. Akibatnya persediaan sumber daya air menjadi menipis. Akhirnya air bukan lagi sebagai suber daya alam tidak terbatas melainkan sumber daya alam nan langka. Untuk memperoleh air higienis menjadi sangatlah mahal dan sulit. Akibatnya masyarakat tak dapat hayati sehat karea tak tersedianya air higienis di sekitar mereka

7. Kurangnya resapan air juga memungkinkan terjadinya bala banjir dan longsor. Ketika banjir berapa banyak failitas generik nan tak dapat digunakan. Berapa orang nan tak dapat melakukan aktivitas mereka seperti sediakala. Berapa banyak orang nan terpaksa menghentikan kegiatan ekonominya sebab loka usahanya tergenang air. Berapa banyak kerugian nan akan diderita oleh masyarakat pada setiap kali banjir melanda. Begitupun dengan ketika bala longsor terjadi.

8. Pemanasan Global
Dampak negatif penebangan hutan liar lainnya yatu terjadinya pemanasan dunia . Penyebabya ialah berkurangnya jumlah pohon nan terdapat di hutan. Akibatnya bekurang pula daun-daun nan bisa menjadi penyerap karbondioksida di bumi. Ketika pohon ditebang maka lepas pula karbondioksida nan biasanya dimanfaatkan oleh pohon buat tumbuh justru menjadi racun buat manusia. Apalagi jika penebangan hutan diakhiri dengan pembakaran sisa-sisa penebanga nan membuat semakin banyak karbondioksida di udara.