Arti Penting Terusan Suez

ASTALOG.COM – Selain terkenal dengan bangunan Piramida dan sungai Nil yang terbentang luas, Mesir juga terkenal dengan terusan Suez atau dalam bahasa Arabnya dikenal dengan nama “Qana al-Suways“. Terusan Suez merupakan terusan kapal sepanjang 163 km yang menghubungkan antara pelabuhan Said (Bur Said) di Laut Tengah dengan Suez (al-Suways) di Laut Merah.

Di sebelah barat terusan Suez adalah daratan wilayah Mesir, sedangkan di sebelah timur terletak Semenanjung Sinai (juga merupakan wilayah Mesir) dan Negara Israel. Terusan Suez adalah satu-satunya terusan modern besar yang memiliki kaitan sejarah hingga jaman kuno.

Sejarah Pembuatan Terusan Suez

Terusan Suez yang diresmikan di tahun 1869, dibangun atas prakarsa seorang insinyur Perancis yang bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps. Hal ini dilatar belakangi oleh rencana dari Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte yang ingin membangun kanal bagi kapal-kapal yang akan keluar ke laut lepas, namun tak seorang pun yang bisa mewujudkannya.

Di tahun 1854, Raja Muda Mesir, yaitu Said Pasha, mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk membangun kanal. Pasha yang sudah mengenal de Lesseps dengan baik ketika de Lesseps bertugas sebagai konsul Perancis di Mesir sejak tahun 1833 – 1837, merasa bahwa de Lesseps mampu untuk membangun kanal itu. Dan ternyata benar, sebab akhirnya kanal itu pun berhasil diselesaikan oleh de Lesseps dengan hasil yang sangat baik dan memuaskan.

Akhirnya terusan Suez resmi dibuka pada 17 November 1869 dengan sebuah pesta besar. Ferdinand de Lesseps dipuja bagai pahlawan oleh seluruh negara Eropa. Perancis bahkan sampai memberikan kehormatan tertinggi dengan mengangkatnya sebagai anggota Academie Française.

Terjadinya Krisis Suez

Terusan Suez terdiri dari 2 bagian, yaitu utara dan selatan, dimana Danau Great Bitter menghubungkan Laut Tengah ke Teluk Suez. Dalam era Perang Dunia I, Terusan Suez yang saat itu berada di bawah kekuasan Inggris, diserang oleh pasukan Jerman dan Turki Ottoman. Posisi Suez yang sangat strategis, yaitu menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah, menjadikan terusan ini objek rebutan antara pasukan Sekutu dan Axis.

Saat Mesir dipimpin Presiden Gamal Abdul Nasir, maka pada tanggal 26 Juli 1956, Terusan Suez dinasionalisasi oleh pihak Mesir. Hal ini akhirnya memicu terjadinya krisis Suez karena Perancis tidak terima jika Terusan Suez dikuasai oleh Mesir.

Pada tanggal 29 Oktober 1956, terjadi serangan gabungan dari Israel, pasukan Inggris, dan Perancis di Mesir. Melalui intervensi dari PBB, Amerika Serikat, dan Uni Soviet maka konfrontasi tersebut dapat berakhir relatif cepat, dan kampanye perang pada 22 Desember 1956 kembali dievakuasi.

Perang 6 hari telah mendorong Israel kembali menguasai Terusan Suez pada 9 Juni 1967. Terusan Suez tetap tertutup untuk pengiriman dari Mesir dan menempatkan di perbatasan antara Mesir dan Israel. Israel mendirikan sebuah garis pertahanan, yaitu garis Bar-Lev dan mengusai Semenanjung Sinai.

Dalam Perang Yom Kippur, pada 6 Oktober 1973, Terusan Suez berhasil dikuasai oleh pasukan Mesir. Tetapi pada akhirnya Israel juga berhasil memukul mundur Mesir dalam serangan balasan pada 16 Oktober 1973, Israel menyeberangi Terusan Suez dengan membuat sebuah jembatan di atas kanal. Pada akhir perang Yom Kippur meski Mesir kalah secara militer tapi menang secara diplomatik sehingga seluruh saluran Terusan Suez dan Semenanjung Sinai berada kembali di bawah kendali Mesir. Setelah sempat ditutup sementara akhirnya Terusan Suez dibuka kembali untuk umum di tahun 1975.

Arti Penting Terusan Suez

Terusan Suez mengizinkan transportasi air dari Eropa ke Asia tanpa mengelilingi Afrika. Sebelum adanya kanal ini, beberapa transportasi dilakukan dengan cara mengosongkan kapal dan membawa barang-barangnya lewat darat antara Laut Tengah dan Laut Merah.

Jadi, Terusan Suez sangat berguna dengan dampak substansial terhadap perdagangan dunia. Saat ini, Terusan Suez merupakan salah satu perairan yang paling banyak digunakan di dunia di samping Terusan Panama.