Ringkasan Perkembangan Sosiologi di Indonesia

ASTALOG.COM – Walaupun banyak definisi tentang sosiologi, namun pada umumnya sosiologi dikenal sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Sosiologi sendiri mulai diperkenalkan sebagai salah satu cabang dari ilmu sosial pada tahun 1842. Istilah sosiologi dicetuskan pertama kali oleh seorang ilmuwan Perancis bernama August Comte sehingga ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Ia menggabungkan antara kata “Socius” yang artinya “Kawan” dengan kata “Logos” yang artinya “Ilmu Pengetahuan“.

Sosiologi semakin berkembang di abad ke-19 di Eropa karena sebagai salah satu ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, para ilmuwan Eropa mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Eropa pada saat itu. Lalu bagaimana perkembangan sosiologi di Indonesia?

PERKEMBANGAN SOSIOLOGI DI INDONESIA

Berdasarkan catatan sejarah, sebenarnya konsep sosiologi sudah mulai berkembang di Indonesia sejak zaman dahulu. Meskipun beberapa tokoh yang berpengaruh tidak mempelajari sosiologi secara khusus, namun mereka telah banyak memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajarannya. Adapun tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam sejarah perkembangan sosiologi di Indonesia adalah:

  • Sri Paduka Mangkunegoro IV. Ia telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda dalam ajaran Wulang Reh.
  • Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai peletak konsep dasar pendidikan nasional di Indonesia. Ia banyak mempraktekkan konsep-konsep penting sosiologi seperti kepemimpinan kekeluargaan dalam proses pendidikan di Perguruan Taman Siswa yang didirikannya.
  • Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven. Keduanya adalah tokoh dari Belanda yang banyak menulis tentang Indonesia di abad ke-19. Mereka mengemukakan unsur-unsur sosiologi sebagai kerangka berpikir untuk memahami kondisi masyarakat Indonesia. Snouck Hurgronje menggunakan pendekatan sosiologi untuk memahami masyarakat Aceh yang hasilnya di pergunakan oleh pemerintah Belanda untuk menguasai daerah tersebut.

Meskipun begitu, sebelum perang dunia ke-2, sosiologi di Indonesia hanya dianggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain, sosiologi belum dianggap cukup penting untuk dipelajari dan digunakan sebagai ilmu pengetahuan. Adapun tahapan perkembangan sosiologi di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Sosiologi baru diajarkan secara formal di sebuah sekolah tinggi hukum, Rechts Shoge School, Jakarta. Sekolah itu menjadi satu-satunya lembaga perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di Indonesia walaupun hanya sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Sayangnya, seiring perkembangan waktu, mata kuliah tersebut kemudian ditiadakan dengan alasan bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam hukum.
  • Setelah proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dalam hal ini, Soenaryo Kolopaking yang pertama kali memberikan mata kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di akademi ilmu politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas ilmu Sosial dan Politik UGM). Akibatnya, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan akademi di Indonesia apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri sejak tahun 1950. Banyak para pelajar Indonesia yang khusus memperdalam sosiologi di luar negeri, kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia.
  • Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan pada tahun 1950 oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi Indonesia yang yang berisikan tentang pengertian dasar sosiologi secara teoritis dan bersifat filsafat. Kehadiran buku ini mendapatkan sambutan baik dari golongan terpelajar di Indonesia mengingat situasi revolusi yang terjadi saat itu. Buku ini seakan mengobati kehausan mereka akan ilmu yang dapat membantu mereka dalam usaha memahami perubahan-perubahan yang terjadi demikian cepat dalam masyarakat Indonesia saat itu.
  • Masih di tahun yang sama, muncul lagi buku sosiologi yang diterbitkan oleh Bardosono yang merupakan sebuah diktat mata kuliah sosiologi.
  • Selanjutnya bermunculan buku-buku sosiologi baik yang ditulis oleh orang Indonesia maupun yang merupakan terjemahan dari bahasa asing. Sebagai contoh, buku Social Changes in Yogyakarta karya Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962.
  • Lalu buku berjudul “Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia” oleh Hassan Shadily yang berisikan tentang kajian kajian sosiologi modern.
  • Selain itu, muncul pula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di berbagai Universitas di Indonesia dimana sosiologi mulai dipelajari secara lebih mendalam bahkan pada beberapa Universitas, didirikan jurusan sosiologi yang diharapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia.