Hutan yang Selalu Tertutup Kabut

ASTALOG.COM – Indonesia kaya akan sumber daya alam dan hutannya. Hutan yang ada di indonesia juga beragam dengan ciri masing-masing. Salah satu jenis hutan yang kali ini akan kami bahas adalah hutan lumut.

Hutan lumut/padang lumut/tundra merupakan tumbuhan alami yang terdapat di puncak pegunungan tinggi dengan suhu rendah yang selalu tertutup kabut.

Pengertian Hutan Lumut
Hutan lumut adalah komunitas pegunungan tropic yang memilki struktur yang berbeda dengan taiga. Hutan lumut terdapat di daerah yang memilki ketinggian 2500 m. pohon-pohonnya kerdil dan juga ditumbuhi lumut dan lumut kerak.

Ciri Hutan Lumut
Ciri-ciri Hutan lumut yaitu
1. Akibat letaknya terlalu tinggi dari permukaan air laut, udara sangat lembab dan suhu sangat rendah.
2. Banyak pohon-pohon penuh lumut.
3. Terdapat di Puncak Papua, Sumatera, dan Sulawesi.

Karakteristik Hutan Lumut
Dilansir dari wikipedia, seseorang yang mendaki ke puncak gunung, bila jeli mengamati, akan melihat perubahan-perubahan dan perbedaan pada fisiognomi hutan sejalan dengan meningkatnya ketinggian tempat (elevasi). Pohon-pohon mulai banyak digelayuti lumut, epifit, termasuk berjenis-jenis anggrek. Atap tajuk mulai memendek, setinggi-tingginya sekitar 30-an meter. Sembulan (emergent) semakin jarang didapati, begitu juga banir (akar papan) dan kauliflori, yakni munculnya bunga dan buah di batang pohon (bukan di cabang atau pucuk ranting). Dan yang menyolok, mulai pada elevasi tertentu, cabang dan ranting pohon akan bengkak-bengkok dan daun-daunnya akan mengecil ukurannya.

Para ahli berbeda pendapat mengenai ketinggian tempat ditemukannya hutan-hutan pegunungan ini. Whitmore (1984) menyebutkan elevasi sekitar 1.200 m (kadang-kadang turun hingga serendah 750 m), hingga ketinggian 3.000 (3.350) m di atas muka laut, sebagai tempat tumbuhnya. Van Steenis (2006) menuliskan angka ketinggian 1.000 m hingga 3.400 m untuk kawasan Malesia, sementara Anwar dkk. (1984) memperoleh ketinggian 1.200 m hingga lebih dari 3.000 m –mirip dengan Whitmore– untuk vegetasi pegunungan di Sumatra

Lantai hutan pegunungan yang penuh lumut di Ceremai
Angka-angka ini akan lebih bervariasi lagi bila menyebut batas-batas subzona vegetasi pegunungan. Dari studinya selama berpuluh-puluh tahun di kawasan Malesia, van Steenis menyimpulkan bahwa terdapat tiga subzona hutan pegunungan, yakni:

submontana (sub-pegunungan atau disebut juga hutan pegunungan bawah), antara ketinggian 1.000—1.500 m dpl.
montana (hutan pegunungan atas) antara 1.000—2.400 m.
subalpin, di atas ketinggian 2.400 m.
Meskipun demikian, sebagaimana dicontohkan di atas, angka-angka ini tidak berlaku mutlak. Dalam kasus batas-batas ketinggian zona vegetasi berlaku suatu hukum yang dikenal sebagai “efek pemampatan elevasi” (Massenerhebungseffekt; Schröter, 1926)[3]. Yakni, batas-batas elevasi ini akan semakin ‘mampat’, merendah, pada gunung-gunung yang soliter jika dibandingkan dengan gunung-gunung di wilayah pegunungan tinggi yang luas.

Salah satu faktor penting pembentukan hutan ini adalah suhu yang rendah dan terbentuknya awan atau kabut yang kerap menyelimuti atap tajuk. Kabut ini jelas meningkatkan kelembaban udara, menghalangi cahaya matahari dan dengan demikian menurunkan laju evapotranspirasi. Dengan meningkatnya elevasi, pohon-pohon cenderung memendek dan banyak bercabang. Epifit berupa jenis-jenis anggrek, lumut dan pakis tumbuh melimpah di batang, cabang dan di atas tanah. Presipitasi turun dalam bentuk pengembunan kabut pada dedaunan, yang kemudian jatuh menetes ke tanah. Tanah di hutan ini cukup subur namun cenderung bergambut.