3 Jenis Gejala Vulkanisme

Loading...

ASTALOG.COM – Vulkanisme merupakan salah satu fenomena alam yang tidak bisa dihindari, terutama bagi suatu wilayah yang memiliki gunung berapi. Vulkanisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair serta sangat panas yang berada dalam perut bumi.

Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung didalamnya sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi. Magma dapat berbentuk gas padat dan cair. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke litosfer (kulit bumi).

Secara awam, gejala vulkanisme ini sering disebut dengan gejala gunung meletus oleh masyarakat luas. Pada umumnya, peristiwa ini sangat ditakuti karena dapat menimbulkan kerusakan yang sangat luar biasa bahkan kematian, seperti yang terjadi pada letusan Gunung Krakatau yang terjadi berapa ratus tahun yang lalu yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia. Sebelum gunung api benar-benar memuntahkan lavanya, ada beberapa gejala vulkanisme yang akan dialami oleh gunung berapi tersebut.

3 JENIS GEJALA VULKANISME PADA GUNUNG BERAPI

1) Gejala di Luar Perut Bumi

Gunung berapi yang sedang mengalami aktivitas magma di dalamnya, akan menimbulkan tanda-tanda di luar perut bumi yang dapat dilihat oleh manusia berupa:

  1. Terjadinya gempa bumi, dimana gunung berapi yang sedang mengalami aktivitas magma akan sering menyebabkan gempa bumi vulkanik di sekitar gunung api. Gempa tersebut sering terjadi selama proses aktivitas magma berlangsung di dalam gunung api.
  2. Turunnya hewan yang berdiam di lereng gunung berapi, karena hewan-hewan tersebut biasanya yang pertama kali menyadari gejala vulkanisme. Mereka akan merasa gelisah berada di lereng gunung lalu perlahan mulai berbondong–bondong menuruni lereng pegunungan.
  3. Keluarnya awan panas, dimana awan panas akan terus keluar selama proses vulkanisme berlangsung. Awan ini biasanya disertai dengan abu vulkanik yang sangat panas. Apabila melihat awan ini, sebaiknya dijauhi karena sangat berbahaya dan beracun.
BACA JUGA:  Faktor Penyebab Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

2) Gejala di Dalam Perut Bumi

  1. Intrusi Magma adalah gejala yang terjadi di mana magma akan menerobos lapisan kulit bumi, tetapi tidak sampai keluar hingga ke permukaan bumi.
  2. Ekstrusi Magma adalah gejala ketika magma menerobos hingga sampai ke luar permukaan bumi. Pada saat inilah gunung dikatakan sedang meletus (erupsi). Erupsi gunung berapi, di bagi menjadi 2 jenis berdasarkan sifatnya, yaitu: erupsi efusif dan erupsi eksplosif.

3) Gejala Pasca Erupsi

Gejala ini akan keluar setelah aktivitas vulkanik di dalam gunung berapi telah selesai, seperti:

  1. Munculnya sumber air panas, dimana akan muncul sumber air panas yang keluar dari retakan-retakan tanah akibat erupsi gunung api. Air panas tersebut mengandung sulfur dan belerang yang sangat banyak.
  2. Munculnya sumber air mineral, dimana air ini biasanya banyak sekali mengandug mineral sehingga sangat baik untuk dikonsumsi.
  3. Munculnya sumber gas, dimana sumber-sumber gas tersebut biasanya akan mengeluarkan gas uap air atau zat lemas (N2) yang disebut sebagai fumarole, dan sumber gas asam arang (CO2 atau CO) yang disebut juga sebagai mofet.

BENTUK-BENTUK GUNUNG BERAPI

1) Gunung Api Kerucut

Gunung api kerucut atau gunung api strato memiliki bentuk seperti kerucut. Jenis gunung api kerucut paling banyak ditemukan di permukaan bumi. Gunung api ini terbentuk karena adanya erupsi efusif (magma yang meleleh) dan erupsi eksplosif (letusan magma). Jenis gunung ini paling banyak terdapat di Indonesia. Contoh: Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

BACA JUGA:  Penyelenggaraan Deklarasi Djuanda

2) Gunung Api Perisai

Gunung api perisai memiliki lereng yang landai seperti perisai. Gunung api perisai terbentuk karena adanya lava cair yang membeku melalui erupsi effusif. Magma cair keluar dari perut bumi, dan meleleh ke sekitar pusat erupsi. Lelehan tersebut kemudian membeku dan membentuk badan gunung. Contoh: Gunung Maona Loa dan Gunung Kilauea di Kepulauan Hawaii.

3) Gunung Api Corong

Gunung api corong terbentuk karena letusan yang kuat atau eksplosif yang membentuk timbunan eflata sehingga memiliki bentuk seperti corong. Lereng gunung api corong biasanya tidak terlalu curam seperti gunung api kerucut. Gunung api tipe ini memiliki bagian tengah yang kedap air disebut kepundan. Kepundan sebenarnya adalah kawah yang bila terisi hujan akan membentuk danau. Contoh danau yang terbentuk di gunung api corong misalnya Danau Klakah di Gunung Lamongan.

BACA JUGA:  2 Kelompok Besar Persebaran Flora di Indonesia