Sejarah Serta Arti Penting Fotosintesis Tumbuhan Bagi Kehidupan Manusia

ASTALOG.COM – Tahukah Anda bahwa kemampuan fotosintesis yang dimiliki oleh tumbuhan sebenarnya dapat dikatakan sebagai penghasil utama oksigen di bumi? Ya, bukan tanpa alasan tumbuhan disebut-sebut sebagai paru-paru dunia. Maka dari itu, manusia sepatutnya bersyukur kepada Tuhan dengan menunjukkan sikap cinta pada alam dan lingkungan, terutama di tengah kehidupan yang penuh dengan polusi dan pencemaran udara seperti sekarang ini.

Fotosintesis merupakan suatu proses yang hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan dengan klorofil atau zat hijau daun, mengingat klorofil merupakan salah satu yang berperan penting dalam proses fotosintesis tumbuhan. Dalam proses tersebutlah, berlangsung reaksi kimia yang mana akan merubah senyawa karbon dioksida menjadi oksigen.

Pengertian Fotosintesis

Dilansir dari Wikipedia, fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan karbohidrat yang dilakukan oleh tumbuhan, terutama tumbuhan yang mengandung zat hijau daun atau klorofil yang memanfaatkan cahaya dan karbon dioksida. Fotosintesis ini terjadi hanya pada makhluk hidup yang mampu membuat makananya sendiri, atau yang biasa disebut dengan autotrop, misalnya saja tumbuhan hijau dan alga hijau.

Sejarah Fotosintesis

Seorang dokter sekaligus ahli kimia, bernama Jan van Helmont, pernah melakukan suatu penelitian di awal tahun 1600-an. Ia membuat satu percobaan dengan tujuan untuk mencari tahu apa sebenarnya faktor penyebab bertambahnya massa tumbuhan setiap waktu. Dari penelitian tersebut, Helmont menarik kesimpulan bahwa massa tumbuhan yang terus bertambah seiring berjalannya waktu, disebabkan karena pemberian air secara rutin. Dan pada tahun 1720, seorang ahli lainnya mengungkapkan bahwa air bukan menjadi satu-satunya faktor yang mempengaruhi massa tumbuhan, namun ada faktor lain yang ikut berperan, yaitu udara.

Seorang ahli kimia dan pendeta bernama Joseph Priestley, pernah melakukan satu percobaan, dimana ia menyiapkan sebuah lilin yang sedang menyala lalu menutupnya ke dalam toples yang dibalik. Ia kemudian mendapti bahwa nyala api pada lilin akan padam sebelum lilin tersbeut habis terbakar. Selanjutnya, Joseph kembali melakukan percobaan dengan cara yang sama, tetapi menambahkan seekor tikus ke dalamnya, dan ternyata tak berapa lama kemudian, tikus tersebut mati karena lemas. Dari percobaan yang telah dilakukan, Joseph menarik kesimpulan bahwa lilin yang menyala berperan dalam “merusak” udara yang terdapat dalam toples, sehingga tikus yang terdapat di dalamnya pun mati. Kemudian, ditunjukkan bahwa udara “rusak” tersebut dapat “dipulihkan” dengan bantuan tumbuhan. Dikatakan bahwa tikus yang ada di dalam toples akan dapat tetap bertahan hidup jika diletakkan pula tumbuhan di dalam toples tersebut.

Di tahun 1778, seorang dokter kerajaan Austria, Jan Ingenhousz, mencoba untuk menguji kembali percobaan yang pernah dilakukan Joseph Priestley. Ia kemudian mendapati bahwa cahaya matahari merupakan satu unsur penting bagi tumbuhan agar dapat “memulihkan” udara yang “rusak”. Dan akhirnya, pada tahun 1796, Jean Senebier, yang adalah seorang pastor Perancis, memberi pernyataannya dan mengemukakan bahwa udara yang “rusak” itu tidak lain dan tidak bukan adalah karbon dioksida yang oleh tumbuhan “dipulihkan” atau dalam arti sebenarnya diserap melalui proses fotosintesis.

Proses Fotosintesis Tumbuhan

Tumbuhan memerlukan komponen seperti air, karbon dioksida serta cahaya matahari, agar dapat melakukan proses fotosintesis. Proses tersebut akan terjadi dalam kloroplas yang pada daun tumbuhan mengandung klorofil. Klorofil lalu berperan untuk menyerap cahaya yang kemudian akan digunakan untuk proses fotosintesis. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

6H2O + 6CO2 + cahaya  C6H12O6 (glukosa) + 6O2

Adapun fator yang dapat memengaruhi kecepatan proses fotosintesis, yaitu:

Cahaya
Kecepatan laju fotosintesis sangat dipengaruhi oleh beberapa komponen cahaya, dimana komponen tersebut antara lain intensitas, kualitas serta durasi penyinaran.

Konsentrasi karbon dioksida
Jumlah karbon dioksida dapat menentukan jumlah bahan yang digunakna. Maksudnya adalah dalam melakukan proses fotosintesis, banyaknya jumlah karbon dioksida di udara akan berbanding lurus dengan berapa jumlah bahan yang dapat digunakan tumbuhan guna melangsungkan fotosintesis.

Suhu
Dalam fotosintesis, terdapat enzim-enzim yang hanya dapat bekerja pada suhu maksimalnya. Umumnya peningkatan suhu akan diikuti oleh laju fotosintesis, hingga mencapai batas toleransi enzim.

Kadar air
Stomata akan menutup apabila terjadi kekurangan air atau kekeringan pada tumbuhan. Hal ini kemudian akan menghambat tumbuhan dalam menyerap karbon dioksida dan pada akhirnya mengurangi laju fotosintesis.

Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)
Laju fotosintesis akan mengikuti kadar fotosintat. Misalnya saja kadar fotosintat maka hal ini akan menyebabkan peningkatan laju fotosintesis. Begitu pula sebaliknya, apabila kadar fotosintat bertambah, maka hal itu akan membuat laju fotosintesis jadi berkurang.

Tahap pertumbuhan
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan, menunjukkan bahwa tumbuhan yang sedang berkecambah, laju fotosintesis akan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan tumbuhan dewasa. Dikatakan bahwa hal ini mungkin saja disebabkan karena tumbuhan yang sedang berkecambah membutuhkan energi dan makanan yang lebih banyak agar dapat bertumbuh.