Tokoh Munafik yang Terkenal dalam Sejarah Islam

Loading...

ASTALOG.COM – Dilansir dari wikipedia, Abdullah bin Ubay (Arab:عبد الله بن أبي بن سلول) dikenal juga dengan nama Ibnu Salul (???-631) adalah pemimpin dari Bani Khazraj yang juga merupakan pemimpin di kota Madinah. Setelah kedatangan Nabi Muhammad, ia kemudian memeluk agama Islam, tetapi ia juga dikenal sebagai seorang munafik.

Di dalam al-Qur’an, Abdullah bin Ubay ditunjuk sebagai sosok kontroversi dalam tutur kata dan perbuatannya yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Hampir setiap ada fitnah yang menimpa kaum Muslimin di Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya, bahkan peristiwa haditsul ifki (berita palsu) yang menimpa Ummul Mukminin “Aisyah” ra al Qur’an mengisyaratkan Abdullah bin Ubay sebagai pembesar yang mengendalikannya.

Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama ‘Abdullah, sedangkan ‘Abdullah adalah seorang Islam yang sangat setia kepada Nabi SAW. Ia sangat sedih melihat perbuatan ayahnya yang demikian jahatnya terhadap Nabi SAW. Dia seringkali memperingatkan kepada ayahnya, supaya menghentikan permusuhannya terhadap Nabi SAW, namun ayahnya tetap memusuhi Islam dan bersikap munafiq.
Diantara kesetiaan ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Ubay, dibuktikan ketika pulang dari perang Bani Musthaliq.

Riwayatnya sebagai berikut :

Ibnu Hisyam di dalam Sirah nya meriwayatkan bahwa seorang pelayan ‘Umar bin Khaththab RA, bernama Jahjah bin Mas’ud Al-Ghifariy bertengkar dengan Sinan bin Wabr Al-Juhaniy. Pertengkaran ini terjadi di dekat telaga Al-Muraisi’. Keduanya berusaha ingin saling membunuh sampai Sinan bin Wabr Al-Juhaniy berteriak minta pertolongan, “Wahai kaum Anshar !”. Sedangkan pelayan ‘Umar bin Khaththab juga berteriak, “Wahai kaum Muhajirin !”. Mendengar kejadian ini, ‘Abdullah bin Ubay bin Salul marah dan berkata kepada orang-orang munafiq yang mengelilinginya :
اَوَ قَدْ فَعَلُوْهَا؟ قَدْ نَافَرُوْنَا وَ كَاثَرُوْنَا فِى بِلاَدِنَا، وَ اللهِ مَا اَعَدَّنَا وَجَلاَبِيْبُ قُرَيْشٍ اِلاَّ كَمَا قَالَ اْلاَوَّلُ سَمّنْ كَلْبَكَ يَاْكُلْكَ، اَمَا وَ اللهِ لَئِنْ رَجَعْنَا اِلَى اْلمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلاَعَزُّ مِنْهَا اْلاَذَلَّ. ابن هشام 4: 253

Apakah mereka (orang-orang muhajirin) sungguh telah melakukannya ? Mereka telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di negeri kita. Demi Allah, antara kita dan orang-orang Quraisy ini tak ubahnya seperti apa yang dikatakan orang, “Gemukkan anjingmu, ia akan menerkammu”. Demi Allah, jika kita telah sampai di Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir orang yang hina”. [Ibnu Hisyam juz 4, hal. 253]

Diantara orang yang mendengar ucapan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul ini ialah Zaid bin Arqam. Ia kemudian melaporkan berita tersebut kepada Rasulullah SAW. Pada saat itu ‘Umar berada di samping Rasulullah SAW, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkan saja kepada ‘Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya !”. Rasulullah SAW menjawab :
فَكَيْفَ يَا عُمَرُ اِذَا تَحَدَّثَ النَّاسُ اَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ اَصْحَابَهُ؟ لاَ. ابن هشام 4: 254

Bagaimana wahai ‘Umar, jika orang-orang membicarakan bahwa Muhammad telah membunuh shahabatnya ? Tidak. [Ibnu Hisyam juz 4, hal. 254]
‘Abdullah anak ‘Abdullah bin Ubay setelah mengetahui perbuatan ayahnya itu, ketika akan sampai di Madinah, ia mendahului perjalanan bapaknya, karena ia bermaksud untuk menghalang-halanginya masuk ke Madinah sebelum mendapat idzin dari Nabi SAW.
‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Ubay berkata :
قِفْ ! فَوَ اللهِ، لاَ تَدْخُلْهَا حَتَّى يَأْذَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص ذلِكَ. البداية و النهاية 4: 546

“Berhenti ! Kamu tidak boleh masuk Madinah sehingga Rasulullah mengidzinkannya”. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 4, hal. 546]

Maka setelah Rasulullah datang di tempat itu, lalu ‘Abdullah bin Ubay bin Salul minta idzin kepada beliau, dan Nabi SAW pun mengidzinkannya. Barulah kemudian shahabat ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Ubay melepaskan ayahnya, sehingga ‘Abdullah bin Ubay bin Salul bisa masuk kota Madinah.

Setelah kaum muslimin tiba di Madinah, ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Ubaiy datang menemui Rasulullah SAW, lalu berkata :

يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّهُ بَلَغَنِى اَنَّكَ تُرِيْدُ قَتْلَ عَبْدِ اللهِ بْنِ اُبَيّ فِيْمَا بَلَغَكَ عَنْهُ، فَاِنْ كُنْتَ فَاعِلاً فَمُرْلِى بِهِ، فَاَنَا اَحْمِلُ اِلَيْكَ رَأْسَهُ. فَوَ اللهِ لَقَدْ عَلِمَتِ اْلخَزْرَجُ مَا كَانَ بِهَا مِنْ رَجُلٍ اَبَرُّ بِوَالِدِهِ مِنّى وَ اِنّى اَخْشَى اَنْ تَأْمُرَ بِهِ غَيْرِى فَيَقْتُلُهُ فَلاَ تَدَعُنِى نَفْسِى اَنْ اَنْظُرَ اِلَى قَاتِلِ عَبْدِ اللهِ بْنِ اُبَيّ يَمْشِى فِى النَّاسِ. فَاَقْتُلَهُ، فَاَقْتُلُ مُؤْمِنًا بِكَافِرٍ فَاَدْخُلُ النَّارَ. البداية و النهاية 4: 546

Ya Rasulullah, sesungguhnya saya dengar engkau ingin membunuh ‘Abdullah bin Ubay berkenaan apa yang diperbuat terhadapmu. Jika benar engkau ingin melakukannya, maka perintahlah aku. Aku bersedia membawa kepalanya ke hadapanmu. Demi Allah, orang-orang suku Khazraj telah sama mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih berbhakti kepada ayahnya daripada diriku. Aku khawatir jika engkau memerintahkan kepada orang lain selain aku untuk membunuhnya, lalu aku tidak tahan melihat pembunuh ‘Abdullah bin Ubay berjalan di tengah masyarakat, sehigga aku membunuhnya. Ini berarti aku membunuh seorang mukmin karena membela seorang kafir, sehingga aku masuk neraka. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 4, hal. 546]
Lalu Nabi SAW menjawab :

بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ وَ نُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا. البداية و النهاية 4: 546

Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya, selama dia masih tinggal bersama kita. [Al-Bidayah wan Nihaayah 4:546]

Begitulah kesetiaan anaknya ‘Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap Islam. Kemudian pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-9 Hijriyah ‘Abdullah bin Ubay meninggal dunia.

Sebagai kewajiban seorang anak terhadap ayahnya, maka pada hari kematiannya, ‘Abdullah memberanikan diri datang kepada Nabi SAW untuk memohon kepada beliau agar memberi pakaian beliau untuk mengkafani jenazah ayahnya. Sebagai seorang yang pemurah dan tidak pendendam, Nabi SAW tidak keberatan memberikan baju kurungnya kepada ‘Abdullah untuk mengkafani ayahnya. Bahkan beliau sendiri yang memerintahkan kepada ‘Abdullah agar ayahnya dikafani dengan baju kurung beliau. Kemudian ‘Abdullah memohon pula kepada Nabi SAW agar beliau menshalatkan jenazah ayahnya itu, sebagaimana yang biasa beliau lakukan terhadap jenazah kaum muslimin.

Loading...